Ngaji Masalah Pertanian, Dispertan Banyuwangi Sisir Keluhan Petani dan Peternak

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 02:30 WIB
DENGAR KELUHAN: Kepala Dispertan Banyuwangi Danang Hartanto bersama tim berdiskusi dengan kelompok tani dan gapoktan di wilayah Kecamatan Rogojampi pada Kamis (20/8). (Foto: Dispertan Banyuwangi)
DENGAR KELUHAN: Kepala Dispertan Banyuwangi Danang Hartanto bersama tim berdiskusi dengan kelompok tani dan gapoktan di wilayah Kecamatan Rogojampi pada Kamis (20/8). (Foto: Dispertan Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Persoalan pertanian dan peternakan di Banyuwangi tak lagi hanya ditunggu melalui laporan. Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi mulai turun langsung ke kecamatan untuk mendengar keluhan petani dan peternak sekaligus memetakan persoalan berdasarkan kondisi nyata di lapangan.

Langkah tersebut dikemas dalam agenda “ngaji masalah” yang digelar bertahap di seluruh kecamatan. Kecamatan Rogojampi menjadi lokasi pertama pada Kamis (20/8), sebelum rombongan Dispertan melanjutkan agenda serupa ke Kecamatan Kabat.

Kepala Dispertan Banyuwangi Danang Hartanto bersama jajaran bertemu dengan kelompok tani, gabungan kelompok tani (gapoktan), serta pemerintah desa di Aula Kecamatan Rogojampi.

Forum itu menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan persoalan sekaligus memberikan masukan kepada pemerintah kabupaten. Dengan pertemuan tatap muka, Dispertan ingin mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat.

“Setiap hari rencananya dua kecamatan. Tak melulu masalah pertanian, masalah peternakan juga menjadi pembahasan kita,” ujar Danang.

Tak Hanya Soal Pertanian

Agenda tersebut tidak hanya membahas persoalan tanaman pangan maupun komoditas pertanian. Sektor peternakan juga menjadi bagian penting dalam penggalian masalah.

Di bidang pertanian, sejumlah persoalan yang dapat disampaikan masyarakat antara lain pupuk, biaya produksi, pengairan, benih, alat mesin pertanian (alsintan), hama tanaman, harga panen, hingga pemasaran.

Sementara di sektor peternakan, Dispertan menggali persoalan terkait ketersediaan pakan, kesehatan hewan, bibit, produktivitas, serta pemasaran hasil ternak.

Masukan dari masyarakat tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai daftar keluhan. Setiap persoalan akan dipetakan berdasarkan wilayah, komoditas, tingkat kebutuhan, serta kewenangan yang dapat dilakukan Dispertan Banyuwangi.

Target Dua Kecamatan Setiap Hari

Rogojampi dan Kabat menjadi pembuka rangkaian kunjungan lapangan Dispertan Banyuwangi. Selanjutnya, agenda serupa akan dilanjutkan ke kecamatan lain secara bertahap.

Targetnya cukup agresif. Dispertan berencana mendatangi dua kecamatan dalam sehari agar proses penggalian persoalan dapat menjangkau seluruh wilayah Banyuwangi.

Pola tersebut sekaligus menjadi upaya memperpendek jarak komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat. Informasi yang diperoleh langsung dari lapangan nantinya menjadi bahan evaluasi dalam menentukan program dan kebijakan.

Danang menegaskan, pertanian dan peternakan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat pedesaan. Kedua sektor tersebut memiliki peran strategis dalam menopang perekonomian sekaligus menjaga ketersediaan pangan.

Karena itu, pemetaan masalah secara langsung dinilai penting agar kebijakan yang disusun tidak semata berdasarkan laporan administratif, tetapi juga mempertimbangkan kondisi faktual yang dihadapi petani dan peternak di masing-masing wilayah.

Dengan pola “ngaji masalah”, Dispertan Banyuwangi kini berupaya melihat persoalan dari sumbernya: mendatangi masyarakat, mendengar langsung keluhan, kemudian mengelompokkannya agar penanganan dapat dilakukan lebih terarah. (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
Peternak Banyuwangi masalah pertanian ngaji masalah petani banyuwangi Dispertan Banyuwangi