Gesah Bareng Ambi Bupati Dimulai, Warga Banyuwangi Bebas Sampaikan Persoalan

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 02:00 WIB
Bupati Ipuk Fiestiandani didampingi Wabup Mujiono berdialog dengan warga yang membahas topik pertanian di Pendaa Sabha Swagata Blambangan, Jumat (14/8). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Bupati Ipuk Fiestiandani didampingi Wabup Mujiono berdialog dengan warga yang membahas topik pertanian di Pendaa Sabha Swagata Blambangan, Jumat (14/8). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Tak ada sekat meja birokrasi. Tak perlu menunggu surat berjenjang. Warga Banyuwangi kini bisa duduk lesehan, menyeruput kopi, lalu menyampaikan persoalan langsung kepada Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

Ruang dialog itu dibuka melalui program “Gesah Bareng Ambi Bupati” yang mulai digelar Jumat (14/8) di Pendapa Sabha Swagata Banyuwangi. Program tersebut menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan persoalan sekaligus berdiskusi mencari solusi bersama pemerintah daerah.

Forum ini direncanakan berlangsung dua pekan sekali dengan topik yang akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Edisi perdana mengangkat isu pertanian dan diikuti warga, petani, praktisi pertanian, aktivis, hingga kelompok sadar wisata (Pokdarwis).

Bupati Ipuk bersama Wakil Bupati Mujiono dan sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) duduk bersama warga. Suasana dibuat cair agar masyarakat dapat menyampaikan kondisi yang mereka hadapi tanpa harus melalui prosedur birokrasi yang panjang.

Beragam persoalan pertanian pun muncul dalam dialog tersebut. Mulai kebutuhan sarana produksi pertanian, persoalan irigasi, akses pupuk, hingga pemasaran produk hortikultura.

Salah satu peserta, Abdul Rahman, misalnya, menyampaikan persoalan produksi kopi di Gombengsari. Menurut dia, daerah penghasil kopi tersebut masih membutuhkan wadah bersama untuk menjaga kualitas produk agar lebih seragam.

“Tadi saya menyampaikan terkait masalah produksi kopi di Gombengsari. Kita belum punya wadah bersama untuk menjaga kualitas kopi agar seragam,” ujar Abdul.

Ketua Pokdarwis Gombengsari itu juga mengusulkan pembentukan sekolah kopi di Banyuwangi. Menurut dia, sebagai salah satu daerah penghasil kopi berkualitas, Banyuwangi membutuhkan lembaga pendidikan khusus yang mampu meningkatkan kompetensi petani dan pelaku kopi melalui kurikulum yang terarah.

“Saya juga usulkan sekolah kopi tadi. Sebagai penghasil kopi berkualitas, Banyuwangi saya rasa perlu memiliki sekolah kopi. Dengan kurikulum yang tepat dan tertata,” tegasnya.

Aspirasi lain datang dari M Yazid Sofyan. Petani yang mengembangkan ribuan tanaman alpukat Alligator di Banyuwangi tersebut menyoroti arah pengembangan sektor pertanian.

Menurut Sofyan, perhatian terhadap pertanian selama ini masih banyak berfokus pada komoditas pangan pokok seperti padi, jagung, dan kedelai. Padahal, menurut dia, terdapat sejumlah komoditas lain yang memiliki potensi besar untuk menopang produksi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Dia menilai forum Gesah Bareng Ambi Bupati menjadi langkah positif karena pemerintah dapat mendengar langsung persoalan dari masyarakat yang bersentuhan dengan kondisi lapangan setiap hari.

“Kita berharap beberapa usulan juga bisa dieksekusi langsung,” tegas Sofyan.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, program tersebut memang sengaja dirancang untuk memperpendek jarak antara pemerintah dan masyarakat. Dialog tatap muka dinilai membuat pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai persoalan di lapangan.

“Lewat Gesah Bareng Ambi Bupati, kami ingin warga bisa menyampaikan langsung apa yang menjadi persoalannya. Jadi tidak hanya mendengar dari laporan, tetapi kami bisa berdiskusi langsung dan mencari jalan keluarnya bersama,” ujar Ipuk.

Menurut Ipuk, dialog langsung penting agar kebijakan pemerintah daerah tidak hanya berdasarkan laporan administratif, tetapi benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Setiap persoalan yang disampaikan dalam forum tersebut nantinya akan dipetakan dan dikoordinasikan dengan OPD terkait. Penanganannya disesuaikan dengan kewenangan dan kemampuan pemerintah daerah.

“Jadi tidak hanya menampung persoalan warga, namun forum ini juga menjadi sarana bagi kami untuk mendapatkan masukan agar kebijakan lebih pas dengan kebutuhan warga,” katanya.

Ipuk berharap warga yang datang tidak sekadar menyampaikan keluhan lalu pulang tanpa kepastian. Pemerintah daerah, kata dia, akan berupaya memberikan gambaran mengenai pihak yang bertanggung jawab menindaklanjuti persoalan hingga proses penyelesaiannya.

Dengan pola tersebut, Gesah Bareng Ambi Bupati diharapkan bukan sekadar forum curhat warga. Program dua pekan sekali itu diarahkan menjadi ruang bertemunya persoalan lapangan, kebijakan pemerintah, dan solusi yang bisa ditindaklanjuti.

“Pemerintah juga mendapatkan masukan langsung untuk memperbaiki pelayanan kepada masyarakat,” pungkas Ipuk. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
pertanian Banyuwangi Gesah Bareng Bupati aspirasi warga Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani