RADARBANYUWANGI.ID - Pemerintah mempercepat langkah transformasi pendidikan nasional melalui digitalisasi pembelajaran yang dibarengi dengan pemerataan infrastruktur sekolah di seluruh Indonesia.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan, percepatan tersebut bukan sekadar modernisasi teknologi, melainkan strategi jangka panjang untuk mengejar ketertinggalan kualitas pendidikan di negara kepulauan dengan lebih dari 288 ribu satuan pendidikan.
Komitmen itu disampaikan Presiden saat memberikan arahan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7). Dalam kesempatan tersebut, Prabowo mengungkapkan bahwa program digitalisasi pendidikan Indonesia kini telah mendapat pengakuan internasional melalui penghargaan tertinggi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Digitalisasi Jadi Jawaban Ketimpangan Pendidikan
Prabowo mengakui tantangan terbesar dunia pendidikan Indonesia terletak pada luasnya wilayah dan masih besarnya kesenjangan kualitas fasilitas antardaerah. Karena itu, pemerintah memilih digitalisasi sebagai salah satu solusi utama untuk mempercepat pemerataan layanan pendidikan.
Menurutnya, teknologi memungkinkan siswa dan guru di daerah terpencil memperoleh akses pembelajaran yang sama dengan sekolah-sekolah di kota besar. Digitalisasi dinilai mampu memangkas hambatan geografis yang selama ini menjadi persoalan klasik pendidikan nasional.
"Negara kita sangat besar dengan lebih dari 288 ribu sekolah. Banyak yang berada di wilayah terpencil sehingga digitalisasi menjadi langkah strategis untuk mengejar ketertinggalan," ujar Presiden.
Pengakuan PBB Jadi Bukti Lompatan Indonesia
Transformasi yang dijalankan pemerintah mulai menuai hasil di tingkat global. Indonesia baru saja menerima penghargaan tertinggi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui International Telecommunication Union (ITU) pada kategori e-government dan digitalisasi pendidikan.
Bagi pemerintah, penghargaan tersebut menjadi indikator bahwa kebijakan digitalisasi pendidikan Indonesia telah berada di jalur yang tepat dan diakui dunia internasional.
Meski demikian, Presiden menegaskan penghargaan tersebut bukan akhir dari perjalanan reformasi pendidikan. Pemerintah justru menjadikannya sebagai motivasi untuk mempercepat berbagai program peningkatan kualitas sekolah di seluruh Indonesia.
Target Renovasi Seluruh Sekolah Rampung 2029
Selain transformasi digital, pemerintah juga menggenjot pembangunan fisik sekolah agar kualitas sarana pendidikan meningkat secara merata.
Prabowo memaparkan, sebanyak 77 ribu sekolah ditargetkan selesai direnovasi sepanjang 2026. Program tersebut akan terus berlanjut dengan target renovasi masing-masing 100 ribu sekolah pada 2027 dan 2028.
Jika seluruh target berjalan sesuai rencana, pemerintah optimistis seluruh sekolah di Indonesia telah direnovasi pada 2029.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi tidak hanya berhenti pada penyediaan perangkat teknologi, tetapi juga dibarengi peningkatan kualitas bangunan dan fasilitas belajar agar transformasi pendidikan berlangsung secara menyeluruh.
700 Ribu Smart Digital Panel Siap Didistribusikan
Pemerintah juga memperluas distribusi perangkat pembelajaran digital ke seluruh Indonesia. Setelah pada tahun sebelumnya setiap sekolah menerima satu unit interactive flat panel atau layar pintar, pemerintah akan menambah tiga unit lagi untuk setiap sekolah sepanjang tahun ini.
Prabowo menargetkan sekitar 700 ribu smart digital panel tambahan telah terdistribusi ke seluruh sekolah pada akhir 2026 atau paling lambat semester pertama 2027.
Langkah tersebut diharapkan semakin memperkuat proses pembelajaran berbasis teknologi, termasuk mendukung interaksi antara guru dan peserta didik secara lebih efektif.
Platform Rumah Pendidikan Sudah Digunakan 6,9 Juta Pengguna
Ekosistem digital pendidikan nasional juga diperkuat melalui platform Rumah Pendidikan yang dikembangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Portal tersebut telah terintegrasi dengan perangkat interactive flat panel yang dipasang di sekolah-sekolah.
Data pemerintah menunjukkan platform itu kini telah dimanfaatkan lebih dari 6,9 juta pengguna serta menyediakan sedikitnya 4.843 sumber belajar gratis.
Keberadaan platform digital tersebut juga menjadi sarana peningkatan kompetensi guru, khususnya bagi tenaga pendidik yang bertugas di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), sehingga akses terhadap materi pembelajaran berkualitas semakin merata.
Digitalisasi Bukan Sekadar Teknologi
Percepatan digitalisasi pendidikan yang dijalankan pemerintah menunjukkan perubahan paradigma pembangunan sektor pendidikan. Fokusnya bukan lagi hanya membangun gedung sekolah, melainkan juga menghadirkan akses pengetahuan yang setara melalui teknologi.
Kombinasi renovasi sekolah, distribusi perangkat digital, serta pengembangan platform pembelajaran nasional menjadi fondasi untuk mempersempit kesenjangan mutu pendidikan antarwilayah.
Melalui strategi tersebut, pemerintah berharap seluruh anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama memperoleh pendidikan berkualitas sebagai modal membangun sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing global, dan mampu menghadapi tantangan era transformasi digital. (*)
Editor : Niklaas AndriesSumber : Radar Banyuwangi