Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Smart Kampung Banyuwangi Jadi Percontohan ASEAN, Dipaparkan di Forum Smart City Asia Tenggara

Sigit Hariyadi • Jumat, 15 Mei 2026 | 06:00 WIB
BERBAGI PENGALAMAN: Asisten Administrasi Umum Pemkab Banyuwangi Budi Santoso memaparkan perkembangan Smart Kampung dalam rakor Persiapan The 9th ASEAN Smart Cities Network (ASCN) Annual Meeting Philipines di Jakarta pada Rabu (13/5). (Dini for Radar Banyuwangi)
BERBAGI PENGALAMAN: Asisten Administrasi Umum Pemkab Banyuwangi Budi Santoso memaparkan perkembangan Smart Kampung dalam rakor Persiapan The 9th ASEAN Smart Cities Network (ASCN) Annual Meeting Philipines di Jakarta pada Rabu (13/5). (Dini for Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Program Smart Kampung milik Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali mendapat perhatian pemerintah pusat dan forum internasional. Program yang diluncurkan sejak 2016 itu kini diproyeksikan menjadi salah satu praktik terbaik penerapan smart city Indonesia dalam ajang The 9th ASEAN Smart Cities Network (ASCN) Annual Meeting 2025 di Filipina.

Keseriusan tersebut terlihat setelah Kementerian Dalam Negeri mengundang Pemkab Banyuwangi untuk memaparkan perkembangan Smart Kampung dalam Rapat Koordinasi Persiapan ASCN di Jakarta, Rabu (13/5).

Paparan Banyuwangi menjadi sorotan karena dinilai berhasil mengembangkan konsep kota cerdas yang tidak hanya berbasis digitalisasi layanan, tetapi juga menyentuh pemberdayaan ekonomi, pengelolaan lingkungan, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.

ASEAN Smart Cities Network sendiri merupakan jejaring kolaborasi antar kota di 10 negara ASEAN yang fokus mendorong pembangunan kota cerdas yang inklusif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Banyuwangi telah menjadi Pilot Cities ASCN sejak 2018 bersama Makassar dan Jakarta.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, Banyuwangi terus melakukan transformasi menuju daerah cerdas yang tidak hanya fokus pada teknologi, tetapi juga pada aspek keberlanjutan dan inklusivitas masyarakat.

“Banyuwangi terus melakukan progress menjadi daerah cerdas. Tidak hanya bertransformasi menjadi kota digital, tetapi juga menjadi kota cerdas yang inklusif, hijau, inovatif, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Ipuk, forum ASCN membuka peluang kerja sama strategis yang lebih luas bagi Banyuwangi. Tidak hanya antar kota anggota ASEAN, tetapi juga dengan sektor swasta, mitra pembangunan internasional, hingga skema sister city.

“Bagi Banyuwangi, ASCN bukan hanya forum berbagi pengalaman, tetapi juga pintu untuk membuka kolaborasi nyata dalam pelayanan publik, ekonomi digital, pengelolaan lingkungan, hingga pemanfaatan teknologi baru untuk mendukung tata kelola kota cerdas,” katanya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat karena terus memberikan ruang bagi Banyuwangi untuk tampil di forum internasional.

Dalam forum tersebut, Director Smart Cities and Communities Innovation Center ITB, Suhono Harso Supangkat, menyebut Indonesia perlu naik kelas dalam konsep smart city. Menurut dia, kota cerdas tidak cukup hanya mengandalkan teknologi digital, tetapi harus mampu menghadirkan solusi nyata atas persoalan masyarakat sehari-hari.

“Kita melihat Banyuwangi sebagai salah satu contohnya. Daerah ini berhasil menerapkan Smart Kampung untuk meningkatkan pelayanan publik hingga mengubah sampah menjadi PAD melalui BLUD,” ujarnya.

Suhono juga meminta Indonesia memimpin forum ASCN dengan menghadirkan praktik-praktik terbaik daerah, memperkuat basis data perkotaan nasional, serta mendorong kolaborasi lintas sektor.

Sementara itu, Asisten Administrasi Umum Pemkab Banyuwangi sekaligus Plt Kepala Dinas Kominfo dan Persandian Banyuwangi, Budi Santoso, menjelaskan Smart Kampung dirancang sebagai program pembangunan desa berbasis integrasi teknologi informasi dengan penguatan ekonomi masyarakat.

Program tersebut tidak hanya fokus pada digitalisasi administrasi desa, tetapi juga menyasar pengembangan UMKM, ekonomi kreatif, pendidikan, kesehatan, hingga pengentasan kemiskinan.

“Program Smart Kampung bertujuan memudahkan pelayanan publik hingga tingkat desa yang dipadukan dengan pemberdayaan masyarakat. Ujungnya meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi warga,” ujarnya.

Implementasi Smart City Banyuwangi, lanjut Budi, juga mendorong transformasi ekonomi digital. Pelaku UMKM didorong lebih adaptif memanfaatkan teknologi, mulai promosi produk secara daring, pencatatan usaha digital, hingga transaksi non tunai.

Selain itu, Banyuwangi juga aktif membangun ekosistem inovasi melalui program Jagoan Banyuwangi dan Hacking Day yang melibatkan anak muda, komunitas digital, dan inovator lokal.

Pemkab juga memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat hingga tingkat desa sebagai bagian dari pembangunan kota cerdas yang ramah lingkungan.

“Dengan begitu, solusi digital dan penyelesaian persoalan sosial tidak selalu datang dari pemerintah, tetapi juga tumbuh dari masyarakat,” pungkas Budi. (sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#ASEAN Smart Cities Network #Smart City Banyuwangi #digitalisasi desa Banyuwangi #Ipuk Fiestiandani #smart kampung banyuwangi