RADARBANYUWANGI.ID – Komitmen Banyuwangi dalam membangun ekosistem halal nasional kembali mendapat pengakuan. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi diganjar penghargaan bergengsi dari Universitas Brawijaya bersama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal karena dinilai sukses mengembangkan industri halal secara masif dan berkelanjutan.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung Kepala BPJPH Haikal Hasan dan Rektor Universitas Brawijaya Widodo dalam agenda Indonesia Halal Ecosystem Summit & Halal Metric Award di Kampus UB Malang, Selasa (5/5).
Banyuwangi bahkan memborong tiga penghargaan sekaligus. Meliputi penghargaan inovasi, kolaborasi dan pemberdayaan publik untuk pengembangan ekosistem halal, serta penghargaan pengembangan infrastruktur halal.
Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan penghargaan tersebut menjadi bukti nyata bahwa upaya Banyuwangi dalam membangun ekosistem halal mendapat apresiasi tingkat nasional.
“Dua hari lalu Banyuwangi diberikan penghargaan terkait mendukung menciptakan ekosistem dan industri halal di Indonesia,” ujarnya kemarin (7/5).
Menurut Ipuk, pengembangan ekosistem halal tidak hanya fokus pada sertifikasi produk. Namun juga mencakup penguatan UMKM, infrastruktur halal, hingga pengembangan wisata halal yang mampu meningkatkan daya saing daerah.
“Ini bukan hanya tentang sertifikasi, tetapi bagaimana kami membangun ekosistem yang menyeluruh, mulai dari UMKM, infrastruktur, hingga pariwisata halal yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” katanya.
Keberhasilan Banyuwangi dinilai tidak lepas dari konsistensi pemerintah daerah dalam mendorong sertifikasi halal bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hingga kini, Pemkab Banyuwangi telah memfasilitasi penerbitan 22.091 sertifikat halal bagi produk UMKM.
Tak hanya itu, Banyuwangi juga telah memiliki delapan rumah potong hewan (RPH) dan empat rumah potong unggas yang mengantongi sertifikasi halal.
Rektor Universitas Brawijaya Widodo menilai Banyuwangi memiliki potensi besar dalam pengembangan industri halal nasional. Menurutnya, kekuatan Banyuwangi tidak hanya berada pada sektor makanan dan minuman, tetapi juga pariwisata halal.
“Banyuwangi itu komunitasnya banyak. Tidak hanya makanan tetapi juga ke tourism, pariwisatanya. Sehingga kita melihat progres Banyuwangi untuk menjadi kabupaten yang betul-betul mengembangkan ekosistem halalnya sangat bagus,” kata Prof Widodo.
UB Malang sendiri dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi yang serius mengembangkan kajian halal di Indonesia. Bahkan, salah satu akademisinya, Tri Susanto, disebut sebagai peneliti pertama yang melakukan riset halal di Indonesia pada 1988.
Penelitian tersebut menjadi salah satu tonggak awal lahirnya sistem sertifikasi halal di Indonesia.
Apresiasi serupa juga datang dari Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal Haikal Hasan. Pria yang akrab disapa Babe Haikal itu menyebut Banyuwangi layak menjadi daerah percontohan pengembangan industri halal nasional.
“Saya pernah ke Banyuwangi dan perkembangannya juga mantap menurut saya. UMKM-nya didorong mendapatkan sertifikat halal, rumah potong hewannya. Jadi Banyuwangi itu bisa jadi percontohan,” ujarnya.
Pengembangan ekosistem halal Banyuwangi juga dinilai mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Dengan semakin banyaknya produk dan layanan bersertifikat halal, Banyuwangi memiliki peluang besar menjadi pusat industri halal di kawasan timur Indonesia.
Ipuk memastikan Pemkab Banyuwangi akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak agar pengembangan industri halal berjalan inklusif dan berkelanjutan.
“Harapannya, ini tidak hanya meningkatkan daya saing produk lokal, tetapi juga membuka lebih banyak peluang ekonomi bagi masyarakat serta menjadikan Banyuwangi sebagai rujukan pengembangan ekosistem halal di tingkat nasional,” pungkasnya.
Penghargaan tersebut sekaligus mempertegas posisi Banyuwangi sebagai salah satu daerah paling progresif dalam pengembangan industri halal berbasis UMKM, infrastruktur, dan pariwisata di Indonesia. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin