RADARBANYUWANGI.ID – Program Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) kembali digelar dengan pendekatan yang makin menyentuh kebutuhan riil warga. Kali ini, fokus diarahkan pada layanan sosial dan kesehatan langsung di tingkat desa, menyasar Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (29/4).
Tak sekadar kunjungan seremonial, kehadiran Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani membawa “kantor berjalan” yang menghadirkan berbagai layanan publik sekaligus—mulai kesehatan spesialis, bantuan sosial, hingga penguatan ekonomi desa.
Tiga desa menjadi lokasi kegiatan, yakni Kradenan, Glagahagung, dan Purwoharjo. Sejak pagi, ratusan warga memanfaatkan layanan yang jarang mereka akses tanpa harus ke kota.
Layanan Kesehatan Spesialis Turun ke Desa
Kegiatan diawali di Balai Desa Kradenan dengan sarasehan kesehatan mental yang diikuti sekitar 120 peserta. Tak hanya edukasi, warga juga mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis dari dokter spesialis.
Mulai dari spesialis kandungan (SpOG) hingga spesialis jantung (SpJP) diterjunkan langsung untuk memberikan layanan medis di lokasi.
“Dengan dokter spesialis hadir langsung di desa, warga yang membutuhkan penanganan lanjutan bisa segera dirujuk tanpa harus menunggu lama,” ujar Ipuk.
Langkah ini menjadi solusi konkret bagi warga desa yang selama ini terkendala akses dan biaya saat harus berobat ke fasilitas kesehatan di perkotaan.
Sentuhan Kemanusiaan: Jemput Pasien Lumpuh
Di sela kegiatan, Ipuk juga menyempatkan diri menjenguk Mamat (45), warga yang mengalami lumpuh selama tiga tahun akibat kecelakaan kerja.
Melihat kondisi tersebut, Ipuk langsung menginstruksikan Direktur RSUD Genteng untuk segera membawa pasien ke rumah sakit guna mendapatkan terapi intensif.
Ia juga meminta pemerintah desa setempat ikut mendampingi selama proses perawatan, mengingat kondisi keluarga yang terbatas.
“Bapak tidak perlu khawatir biaya, semua ditanggung negara. Yang penting semangat untuk sembuh,” kata Ipuk memberi motivasi.
Bantuan Alat Disabilitas dan Layanan Sosial
Program Bunga Desa juga menghadirkan bantuan langsung bagi warga yang membutuhkan. Di Desa Purwoharjo, sebanyak 25 warga menerima bantuan alat bantu seperti kursi roda, walker, dan kruk.
Bantuan serupa juga disalurkan di desa lain, termasuk untuk penyandang disabilitas yang membutuhkan dukungan mobilitas.
Dorong Ekonomi Desa Berbasis Potensi Lokal
Selain sektor kesehatan dan sosial, Bunga Desa juga menjadi sarana penguatan ekonomi lokal. Ipuk meninjau berbagai potensi usaha warga, mulai dari budidaya ikan lele hingga greenhouse melon hidroponik.
Ia juga mengunjungi kawasan integrated farming yang menggabungkan pertanian dan peternakan, sekaligus menyerahkan bantuan bibit manggis kepada petani.
Langkah ini menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak hanya berfokus pada bantuan sosial, tetapi juga pada peningkatan produktivitas ekonomi warga.
Edukasi Pendidikan hingga Mitigasi Bencana
Program ini juga menyentuh sektor pendidikan. Di SDN 1 Purwoharjo, Ipuk meninjau pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) serta memberikan edukasi kepada siswa dan tenaga pendidik.
Materi yang disampaikan mencakup wawasan kebangsaan, kesehatan mental, hingga edukasi kesehatan reproduksi.
Tak hanya itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) turut memberikan sosialisasi mitigasi bencana, sementara petugas pemadam kebakaran memberikan edukasi pencegahan kebakaran kepada wali murid.
Layanan Publik Terpadu di Satu Tempat
Salah satu kekuatan utama Bunga Desa adalah integrasi layanan publik. Dalam satu lokasi, warga bisa mengakses berbagai layanan sekaligus—mulai administrasi kependudukan, pembayaran pajak, perizinan usaha, hingga konsultasi kesehatan gratis.
Di Balai Desa Karetan, bahkan dibuka ruang konsultasi bagi perangkat desa, BPD, hingga pengelola BUMDes untuk memperkuat tata kelola pemerintahan desa.
Mendekatkan Negara ke Rakyat
Melalui Bunga Desa, Pemkab Banyuwangi mencoba memotong jarak antara pemerintah dan masyarakat. Layanan yang biasanya terpusat di kota kini dibawa langsung ke desa.
Pendekatan ini dinilai efektif untuk memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat, termasuk yang berada di wilayah terpencil, mendapatkan akses yang sama terhadap layanan publik.
Dengan model jemput bola ini, Bunga Desa bukan sekadar program, tetapi representasi kehadiran negara di tengah masyarakat—memberikan solusi nyata, cepat, dan langsung dirasakan warga. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin