RADARBANYUWANGI.ID – Detik-detik menegangkan terjadi di Kalipuro, Banyuwangi. Sebuah trafo raksasa berbobot 150 ton melintas di jembatan sempit penghubung Secang–Kalipuro, memicu kecemasan warga yang khawatir struktur jembatan tak mampu menahan beban ekstrem tersebut.
Trafo berukuran jumbo itu merupakan bagian dari enam unit Interbus Transformer (IBT) yang akan dipasang di Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) Kalipuro.
Material vital tersebut diangkut bertahap dari Pelabuhan Ketapang menuju lokasi proyek di Lingkungan Secang.
Baca Juga: Latihan Soal SNBT 2026: Disertai Pembahasan Singkat, Disusun Mirip Pola Asli UTBK
Proses distribusi menjadi sorotan karena kendaraan pengangkut harus melewati jembatan kecil yang hanya cukup dilalui satu kendaraan roda empat.
Kondisi ini membuat setiap pergerakan truk dilakukan dengan sangat hati-hati.
Sejak malam hingga pagi hari, petugas tampak berjibaku mengatur lalu lintas dan memastikan proses penyeberangan berjalan aman. Truk melaju sangat pelan untuk menghindari risiko tersangkut kabel listrik maupun tekanan berlebih pada struktur jembatan.
“Truk berangkat dari pelabuhan sekitar pukul 22.00, tiba di jembatan sekitar pukul 05.00. Jalannya memang sangat pelan demi keselamatan. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa,” ujar Kusuma, warga Klatak yang menyaksikan langsung proses tersebut.
Baca Juga: Kreator Naik Daun Terseret Skandal di Bali, Digerebek di Kamar Bersama Istri Teman
Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Dengan bobot trafo mencapai 150 ton, ditambah berat kendaraan pengangkut, total beban yang melintas diperkirakan melebihi 200 ton. Getaran pun sempat dirasakan warga saat truk melintas.
Ahmad, warga Kalipuro, mengaku merasakan getaran cukup kuat saat berada di sekitar jembatan usai salat subuh di Masjid Jami Miftahul Huda.
“Terasa ada getaran saat truk lewat. Mungkin karena baru pertama kali ada kendaraan sebesar itu melintas di sini,” ungkapnya.
Untuk mengantisipasi risiko, penguatan struktur jembatan telah dilakukan sejak sepekan sebelum proses distribusi.
Selain itu, rekayasa lalu lintas juga diterapkan dengan mengalihkan sejumlah kendaraan demi mengurangi beban di jalur tersebut.
Petugas lapangan dari PLN, Rudy, menyebut pengiriman trafo dilakukan secara bertahap.
Satu unit telah berhasil melintas, sementara beberapa unit lainnya dijadwalkan menyusul.
“Masih ada enam unit trafo lagi yang akan dikirim. Pengiriman berikutnya direncanakan kembali berlangsung malam ini,” jelasnya.
Trafo IBT ini memiliki peran krusial dalam operasional GITET Kalipuro, yakni sebagai penghubung sistem tegangan tinggi 500 kV ke jaringan 150 kV.
Infrastruktur ini menjadi bagian dari proyek strategis nasional (PSN) untuk memperkuat interkoneksi listrik Jawa–Bali.
Baca Juga: Tabel KUR BNI 2026 Rp350 Juta: Cicilan Mulai Rp5,7 Juta, Peluang Besar atau Beban Baru UMKM?
General Manager PT PLN (Persero) UIP JBTB, Hendro Prasetyawan, menegaskan bahwa kedatangan enam unit trafo ini merupakan tonggak penting dalam pembangunan sistem kelistrikan di Banyuwangi.
“Kehadiran peralatan ini sangat krusial bagi GITET Kalipuro karena menjadi jantung distribusi daya dari sistem 500 kV ke 150 kV. Kami memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai standar keselamatan,” ujarnya.
Ia juga mengakui bahwa mobilisasi material berukuran besar ini berpotensi menimbulkan gangguan lalu lintas.
Karena itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan kepolisian dan stakeholder terkait untuk pengawalan dan pengaturan arus kendaraan.
Baca Juga: Bansos PKH-BPNT Dipercepat Cair April 2026, Pemerintah Dorong KPM Masuk Koperasi Merah Putih
PLN pun menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan selama proses distribusi berlangsung.
Masyarakat diimbau tetap berhati-hati dan mengikuti arahan petugas di lapangan.
Di balik ketegangan yang dirasakan warga, proyek ini diharapkan membawa dampak besar bagi keandalan listrik di Jawa dan Bali.
Namun untuk saat ini, setiap lintasan truk raksasa di jembatan Kalipuro masih menjadi momen yang membuat banyak pasang mata menahan napas. (ray/fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin