RADAR BANYUWANGI — Pernah menjadi motor yang membuat anak muda menoleh di jalanan Palangka Raya, Suzuki Satria FU 150 kini justru bisa diburu dengan harga sekitar Rp5 juta. Si “ayam jago” yang pernah menjadi simbol gaya kawula muda pada era 2005–2015 itu masih menyimpan daya tarik: bodinya ramping, bobotnya ringan, tetapi mesinnya dikenal bertenaga.
Perubahan harga tersebut membuat Satria FU lawas memiliki cerita yang berbeda di pasar motor bekas. Jika dulu motor ini identik dengan gengsi dan gaya anak muda, kini daya tariknya bergeser pada harga yang relatif murah, karakter mesin, serta nostalgia.
Di Palangka Raya, motor yang pernah menjamur di jalanan tersebut masih dapat ditemukan. Menurut Yudha, montir Bengkel IMS di Jalan Rajawali Km 6,5 Palangka Raya, harga Satria FU lawas sekarang berada di kisaran Rp5 juta hingga Rp9 juta, tergantung kondisi.
“Untuk sekarang, anjlok banget. Kisaran Rp5 juta,” kata Yudha.
Dulu Jadi Idola, Kini Harganya Makin Terjangkau
Satria FU 150 pertama kali hadir di Indonesia pada 2004. Motor underbone bergaya ayam jago tersebut langsung memiliki karakter yang berbeda dibandingkan motor bebek pada umumnya.
Bodi ramping dan posisi berkendara yang khas membuatnya mudah dikenali. Ketika dipacu, suara mesin dan knalpotnya turut menjadi bagian dari identitas Satria FU.
Pada era 2005–2015, motor ini menjadi salah satu tunggangan yang banyak digemari anak muda. Bukan hanya laki-laki, perempuan yang mengendarai Satria FU juga kerap dianggap memiliki gaya tersendiri.
“Dulu memang digandrungi, sekarang sudah biasa melihatnya,” ujar Yudha.
Kini situasinya berubah. Motor tersebut tidak lagi menjadi simbol dominasi jalanan seperti pada masa kejayaannya. Namun, penurunan harga justru membuka peluang baru bagi pemburu motor lawas.
Untuk unit yang beredar di Palangka Raya, kisaran harga bekas berada di angka Rp5 juta hingga Rp9 juta. Tahun produksi, kondisi mesin, kelengkapan surat kendaraan, serta keaslian komponen menjadi faktor yang memengaruhi harga.
Ringan, tetapi Mesin 150 Cc Jadi Daya Tarik
Daya pikat Satria FU tidak hanya berasal dari desain.
Motor ini dibekali mesin 150 cc DOHC yang dipadukan dengan bodi relatif ringan. Kombinasi tersebut menghasilkan karakter berkendara yang agresif dan responsif.
Bagi pengguna yang menyukai sensasi akselerasi, karakter itulah yang membuat Satria FU tetap menarik meski usianya tidak lagi muda.
Wahyu, salah seorang pengguna Satria FU, menyebut perpaduan bobot ringan dan mesin bertenaga menjadi salah satu alasan motor tersebut memiliki basis penggemar yang kuat.
“Dengan bobot kendaraan ringan tapi dijejali mesin bertenaga, menjadikan power to weight yang over power. Itu yang membuat Satria disenangi,” kata Wahyu.
Karakter tersebut membuat Satria FU memiliki identitas kuat di kelas motor bebek sport pada masanya.
Ada Satu Kekurangan yang Perlu Diingat
Di balik performanya, Satria FU lawas juga memiliki konsekuensi yang perlu dipertimbangkan calon pembeli.
Salah satunya kapasitas tangki bahan bakar yang sekitar lima liter. Untuk penggunaan jarak jauh, pengendara perlu lebih memperhatikan ketersediaan bahan bakar.
“Kalau dipakai jalan jarak jauh, harus siap-siap bawa bekal BBM, takut tidak ketemu tempat untuk isi BBM,” ujar Wahyu.
Dengan usia kendaraan yang sudah cukup panjang, calon pembeli juga perlu lebih teliti memeriksa kondisi mesin, kelistrikan, kaki-kaki, sistem bahan bakar, serta kelengkapan dokumen sebelum melakukan transaksi.
Harga murah tidak selalu berarti biaya kepemilikan murah. Kondisi unit menjadi penentu utama apakah Satria FU bekas layak dibawa pulang atau justru membutuhkan biaya perbaikan besar.
Mesin Satria FU Dinilai Minim Perubahan
Salah satu cerita menarik dari Satria FU periode 2004–2015 adalah karakter mesinnya yang dinilai relatif konsisten.
Menurut Wahyu, perubahan yang dilakukan Suzuki sepanjang periode tersebut lebih banyak berkaitan dengan desain bodi dan fitur. Karakter utama mesinnya tidak mengalami perubahan besar.
“Satria FU motor yang paling sedikit ubahan di mesin sejak 2004–2015, membuktikan kualitas yang bagus. Selama ini cuma ganti model bodi saja dengan fitur yang mirip-mirip,” ujarnya.
Konsistensi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa nama Satria FU masih mudah dikenali oleh pencinta motor lawas.
Dari Thailand hingga Produksi Lokal
Perjalanan Satria FU di Indonesia dimulai pada 2004. Generasi awal didatangkan dari Thailand dalam bentuk Completely Built Up (CBU).
Model pertama memiliki ciri khas lampu depan berukuran besar. Motor tersebut juga masih menggunakan kick starter dengan posisi miring dan belum dilengkapi electric starter.
Memasuki periode 2007–2012, produksi Satria FU mulai dirakit secara lokal oleh Suzuki Indomobil Motor. Sejumlah pembaruan kemudian hadir, termasuk electric starter, lampu senja, dan penyegaran desain bodi.
Pada periode 2013–2015, Suzuki menghadirkan versi facelift yang menjadi salah satu generasi terakhir Satria FU karburator.
Perubahan visual pada generasi ini terlihat lebih jelas. Lampu depan dibuat lebih tajam menyerupai bentuk berlian, sedangkan panel instrumennya sudah menggunakan speedometer digital.
Pembaruan tersebut juga dibarengi peningkatan standar emisi.
Kenapa Satria FU Lawas Masih Dicari?
Usianya boleh lebih dari satu dekade, tetapi Satria FU belum sepenuhnya kehilangan penggemar.
Ada setidaknya tiga alasan yang membuat motor ini tetap menarik di pasar bekas: harga yang semakin terjangkau, bobot ringan dengan karakter mesin bertenaga, serta nilai nostalgia.
Bagi sebagian orang, membeli Satria FU lawas bukan sekadar mencari kendaraan untuk mobilitas harian. Motor tersebut juga menawarkan pengalaman berkendara dan kenangan dari era ketika motor ayam jago menjadi salah satu simbol gaya anak muda.
Di Palangka Raya, jejak itu masih terlihat.
Bedanya, jika dulu orang menoleh karena melihat anak muda mengendarai Satria FU yang sedang menjadi tren, kini perhatian datang karena motor tersebut mengingatkan pada masa kejayaannya.
Si ayam jago memang tidak lagi menjadi raja jalanan seperti dulu. Namun, ketika harga bekasnya sudah berada di kisaran Rp5 jutaan, karakter mesin 150 cc dan cerita panjangnya justru membuat Satria FU lawas kembali punya alasan untuk dilirik. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : Kalteng Pos