Kita bisa menemui betor dengan mudah di kawasan Pasar Banyuwangi dan Pasar Blambangan saat pagi hari. Selain itu, aktivitas betor juga ramai ditemui di sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di kawasan Minapolitan Muncar.
Kendaraan ini banyak digunakan masyarakat sebagai angkutan barang. Tetapi kadang kala juga ditemui, betor digunakan sebagai angkutan untuk penumpang. Sepintas betor ini memang memiliki keunggulan.
Akses yang dicapai betor mampu menjangkau gang sempit hingga jalanan pelosok. Hanya saja kendaraan ini bukan tanpa masalah. Lagi-lagi masalah standar keamanan menjadi fokus perhatian.
Keberadaan betor dianggap tidak sesuai dengan standar kendaraan bermotor, tingkat keamanan yang belum terjamin, dan masih banyak lagi. Polisi sendiri seakan dilema menindak keberadaan betor yang berlalu lalang di jalan raya.
Jika ditindak betor menjadi sarana perekonomian bagi pengemudinya. Kalau pun tidak ditindak bisa menjadi salah satu kerawanan lain bagi pengguna dan pengemudi kendaraan lainnya di jalan raya.
Fajar, salah satu pengguna jalan raya, menyebut kendaraan ini lebih cocok sebenarnya untuk mengangkut barang. Sebab untuk penumpang sendiri dirasakan kurang tepat.
Memodifikasi becak ontel dengan hanya mengganti bagian depan becak dengan bagian belakang motor tentunya sedikit drawasi (mengkhawatirkan).
“Spesifikasi becak ontel Banyuwangi itu bagian depannya sangat rendah dibanding becak daerah lain. Jadi agak gimana gitu, rasanya pas naik saat becak dengan motor digabung,” ujar warga Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi itu.
Spesifikasi becak dan motor sendiri berbeda. Banyak perbedaan antara becak dengan motor. Bahan penyusunnya beda hingga spesifikasinya berbeda jauh.
Jadi kalau sekadar jagal sana sini komponen kedua kendaraan tentunya sangat berisiko tidak hanya bagi penumpang tetapi juga pengendaranya.
Tetapi berbeda dengan di Jawa khususnya Banyuwangi. Betor di beberapa tempat juga memiliki corak dan bentuknya sendiri.
Di Sumatera Utara misalnya, betor menempatkan kursi untuk penumpang di sisi samping pengendara.
Imbasnya lebar becak mirip dengan ukuran lebar mobil. Tidak ada bagian motor yang dijagal. Betor lokal Sumut itu mirip seperti menaruh kereta tempel di samping motor.
Karena betor memiliki kecepatan yang lumayan tinggi, pengemudinya diwajibkan menggunakan helm. Setidaknya konsep di Sumatera Utara ini, bisa menjadi semacam contoh transformasi penggunaan betor yang lebih aman. (nic/bay)
Editor : Niklaas Andries