Ketika Perpustakaan Menjadi Rumah Kedua Mahasiswa

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Dipublikasikan Kamis, 22 Oktober 2026 | 08:00 WIB
Oleh: Dr Erna Agustina, S.Sos, MSi Kaprodi Administrasi Publik FISIP Untag Banyuwangi
Oleh: Dr Erna Agustina, S.Sos, MSi Kaprodi Administrasi Publik FISIP Untag Banyuwangi

RADAR BANYUWANGI - Ada satu pengalaman berharga yang saya bawa pulang setelah kunjungan kerja sama FISIP Untag 1945 Banyuwangi dengan Universiti Utara Malaysia (UUM) pada 15–17 Oktober 2026. Pengalaman itu bukan semata penandatanganan memorandum di atas kertas. Lebih dari itu, kunjungan tersebut membuka mata tentang hal yang mendasar: budaya belajar mahasiswa dan cara perguruan tinggi membangun tradisi akademik.

Selama berada di lingkungan UUM, kehidupan kampus di sana memberikan kesan mendalam. Semangat belajar mahasiswanya sangat tinggi. Perpustakaan bukan sekadar bangunan pelengkap atau pemenuh syarat akreditasi, melainkan telah menjelma menjadi rumah kedua bagi mereka.

Sistem pelayanan perpustakaan UUM dirancang sangat fleksibel dan tidak kaku. Jika jam operasional sudah tutup, mahasiswa yang ingin mengembalikan buku cukup memasukkannya ke dalam lemari khusus yang telah disediakan di luar.

Menariknya, atmosfer kejujuran di sana sangat tinggi. Apabila ada barang berharga mahasiswa yang tertinggal—seperti iPhone keluaran terbaru, MacBook, atau iPad—barang tersebut tidak akan hilang. Pemilik akan menemukannya tetap berada di tempat semula. Uniknya, kejujuran ini punya pengecualian yang menggelitik: jika yang tertinggal adalah makanan, pasti akan habis tidak tersisa.

Menjelang pekan ujian, atmosfer akademik makin kental. Mahasiswa rela menghabiskan waktu hingga larut malam di perpustakaan untuk membaca, berdiskusi, dan mempersiapkan diri. Pemandangan kontras ini mengundang pertanyaan reflektif: sudahkah perpustakaan di perguruan tinggi kita menjadi ruang yang benar-benar dirindukan mahasiswa?

Di UUM, kegiatan belajar tidak berhenti ketika dosen menutup kelas. Mahasiswa rutin mendapatkan tugas penunjang yang menuntut pemahaman materi secara mendalam. Mereka didorong memperluas wawasan melalui bacaan mandiri. Jika ada mahasiswa yang belum paham, dosen di sana sangat terbuka memberikan waktu tambahan untuk menjelaskan kembali. Relasi dosen dan mahasiswa di UUM terasa sebagai kemitraan dalam pencarian ilmu, bukan sekadar hubungan transaksional antara pemberi materi dan penerima informasi.

Dinamika di dalam kelas juga sangat hidup. Mahasiswa tidak sekadar duduk, diam, dan mencatat. Mereka aktif terlibat dalam diskusi, berani mengajukan pertanyaan, menyampaikan argumentasi, serta menguji gagasan. Kelas menjadi ruang pertukaran pikiran yang dinamis.

Kondisi ini sejalan dengan pemikiran filsuf pendidikan John Dewey. Ia menekankan pentingnya pengalaman dan keterlibatan aktif dalam pembelajaran. Belajar bukanlah proses pasif menerima pengetahuan, melainkan membangun pemahaman melalui aktivitas dan refleksi. Prinsip inilah yang hidup dalam ekosistem akademik UUM.

Selain aktif di kelas, mahasiswa UUM dituntut produktif dalam berbagai ajang, baik skala nasional maupun internasional. Mulai dari forum diskusi ilmiah hingga kompetensi olahraga. Menariknya, mereka memiliki kedisiplinan tinggi dalam mengelola waktu. Kesibukan organisasi dan program internasional tidak menjadi pembenaran untuk melalaikan tanggung jawab akademik.

Pengamatan singkat ini diperkuat oleh sejumlah riset. Penelitian Samsul Farid Samsuddin dan MK Yanti Idaya Aspura (2021) tentang kebiasaan membaca mahasiswa di Universiti Riset Malaysia menunjukkan, sikap positif terhadap literasi memerlukan strategi stimulus yang konsisten.

Sementara itu, Adetayo (2024) menemukan bahwa lingkungan yang kondusif, ketersediaan referensi yang lengkap, kesigapan pustakawan, dan minimnya gangguan menjadi alasan utama mahasiswa betah membaca di perpustakaan.

Temuan-temuan tersebut menjadi bahan refleksi penting bagi Untag 1945 Banyuwangi. Harus diakui, ada perbedaan suasana yang cukup mencolok. Di kampus kita, perpustakaan belum sepenuhnya menjadi pusat aktivitas belajar. Bahkan saat musim ujian tiba, pemandangan sepi masih sering dijumpai. Fenomena ini memicu pertanyaan besar tentang motivasi membaca dan ekosistem akademik yang kita bangun sehari-hari.

Namun, rapor sepi ini tidak boleh serta-merta dibebankan kepada mahasiswa. Budaya akademik adalah tanggung jawab kolektif. Pihak kampus wajib menyediakan ruang belajar yang nyaman, koleksi buku yang relevan, serta kegiatan literasi yang persuasif.

Di sisi lain, dosen harus merancang metode pembelajaran yang menantang, rajin memberikan umpan balik, dan membuka ruang konsultasi yang ramah. Mahasiswa pun harus mulai memupuk disiplin diri, mengurangi ketergantungan pada jam kuliah formal, dan menyadari bahwa ilmu tidak runtuh dari langit hanya dengan bermodal absensi kelas.

Kerja sama antara Untag Banyuwangi dan UUM tidak boleh mandek sebagai seremoni di atas dokumen formal. Kemitraan internasional baru akan bermakna jika mampu menginisiasi program mobilitas mahasiswa, kolaborasi riset, dan adopsi budaya akademik yang baik.

Pada akhirnya, predikat kampus unggul tidak diukur dari megahnya gedung atau modernitas fasilitas fisik. Keunggulan sejati tampak ketika mahasiswa memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dosen bersemangat membimbing, diskusi hidup di ruang kelas, dan perpustakaan bernyawa sebagai jantung pengetahuan. Masa depan perguruan tinggi tidak ditentukan oleh seberapa banyak nota kesepahaman yang ditandatangani, melainkan seberapa kuat budaya belajar yang tumbuh di dalamnya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
disiplin mahasiswa Perpustakaan