Evaluasi Total, Jika Perlu Hentikan

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 00:00 WIB
Oleh: KRT H Ilham Triadinagoro MPd, Ketua Paguyuban Panji Blambangan/Kurator Pusaka Nasional/ Asesor Keris Bersertifikat BNSP/Penjamas Pusaka Terkemuka di Banyuwangi
Oleh: KRT H Ilham Triadinagoro MPd, Ketua Paguyuban Panji Blambangan/Kurator Pusaka Nasional/ Asesor Keris Bersertifikat BNSP/Penjamas Pusaka Terkemuka di Banyuwangi

RADAR BANYUWANGI - Peristiwa puluhan peserta Latihan Gandrung Sewu 2026 yang mengalami kesurupan massal di Stadion Diponegoro Banyuwangi, harus menjadi alarm keras bagi kita semua. Pada latihan gabungan hari kedua, Sabtu malam (10/10) yang melibatkan lebih dari 1.000 penari — sebagian besar anak-anak perempuan usia sekolah — tiba-tiba mengalami kondisi tidak biasa yang diduga kerasukan massal.

Kabarnya, latihan dimulai pukul 14.00 WIB hingga 17.00 WIB, kemudian dilanjutkan istirahat, salat, dan makan. Namun, sekitar pukul 19.00 WIB ke atas, peristiwa itu terjadi. Panitia dan petugas medis akhirnya menghentikan latihan dan membubarkan peserta. Ironisnya, mayoritas korban adalah anak-anak. Jangan porsir anak latihan melelahkan hanya demi sebuah event tahunan.

Tema ”Kembang Dermo” Secara Spiritual Patut Dievaluasi 

Pilihan tema Gandrung Sewu 2026, "Bunga Dharma Kebudayaan Menemukan Bentuknya - Kembang Dermo", secara spiritual patut menjadi bahan evaluasi dan diduga menjadi salah satu pemicu kesurupan massal puluhan penari anak di Stadion Diponegoro, 10 Oktober lalu. Saya tidak sedang menyalahkan Kembang Dermo itu sendiri. Kembang Dermo adalah bunga yang sangat sakral dan mulia.

Dalam ritual Seblang Olehsari, Kembang Dermo adalah doa. Terdiri dari kembang kenanga, kantil, dan melati yang diikat pada lidi. Ia dijual oleh penari Seblang kepada penonton sebagai simbol tolak bala, penyembuh, dan pembawa rejeki. Syairnya jelas. ”Sopo nduwe kembang dermo, ilang sebele, teko rejekine”. Siapa yang memiliki bunga dharma, hilang sialnya, datang rejekinya.

Masalahnya bukan pada bunganya, tapi pada bagaimana energi spiritual itu dibebankan kepada anak-anak yang belum siap secara batin. Seblang Olehsari adalah ritual mistis yang sangat kuat. Penarinya harus melalui tirakat, puasa, dan selamatan. Ia menari dalam kondisi trance, tidak sadar, dirasuki roh leluhur. Ada mantra, ada kemenyan, ada sesaji poro-bungkil.

Ketika filosofi sedalam dan seberat ini diambil, lalu dipindahkan mentah-mentah menjadi koreografi massal untuk 1.000 lebih anak SD-SMP-SMA/SMK yang sedang kelelahan, sedang ujian, tanpa penjelasan spiritual, tanpa pembersihan batin, tanpa pagar gaib — maka yang terjadi adalah benturan energi.

Anak-anak menari gerakannya, tapi tidak diberi pemahaman jiwanya. Mereka membawa nama Kembang Dermo, tapi tidak mengerti doa apa yang mereka panggul. Kosong di dalam, lelah di luar. Di situlah ruang kosong itu dimasuki hal lain.

Secara spiritual di Banyuwangi, bunga adalah medium doa. Jika doanya tidak disiapkan, maka bunganya bisa menjadi beban. Itulah mengapa latihan pukul 14.00 sampai malam, dalam kondisi fisik drop, menjadi pemicu. Tubuh lelah adalah pintu masuk paling mudah bagi gangguan psikis maupun spiritual.

Bukan Sekadar Mistik

Kesurupan massal ini tidak bisa dipandang semata sebagai persoalan mistis. Kita harus melihatnya dari aspek medis, fisik, dan psikis anak.Dalam ilmu kedokteran dan neurologi, kondisi kehilangan kendali atas diri sendiri adalah manifestasi dari tekanan psikologis, kelelahan fisik ekstrem, hingga gangguan pada struktur saraf otak akibat kelelahan. Ini bukan kesurupan. Ini adalah cry for help — teriakan minta tolong dari fisik dan mental anak yang sudah tidak baik-baik saja.

Beban Fisik yang Ekstrem

Minggu ini anak-anak sedang menghadapi ujian sekolah. Mereka harus latihan 3 jam non-stop menari di bawah terik matahari, dari pukul 14.00 sampai 17.00 WIB. Setelah istirahat sebentar, dipaksa lanjut lagi hingga malam. Tubuh anak mengalami dehidrasi, hipoglikemia, dan kelelahan otot. Otak kekurangan oksigen.

Anak dipaksa harus sempurna demi event nasional KEN (Kharisma Event Nusantara) Kemenpar RI 2026. Ada tekanan dari pelatih, tekanan harus kompak 1.000 penari, tekanan takut salah. Ini memicu dissociative trance, kondisi saat seseorang yang sangat tertekan, alam bawah sadarnya mengambil alih.

Efek Penularan Massal

Satu anak tumbang, menangis, kejang. Anak lain yang kondisinya sama-sama lelah dan cemas, ikut tersugesti. Akhirnya puluhan ikut. Jadi kesurupan itu adalah alarm yang berkata: "Bu, Pak, saya sudah sangat lelah... saya pusing, saya lapar, saya takut... Tolong hentikan..."

Gandrung Sewu adalah kebanggaan Banyuwangi, bahkan sudah tercatat sebagai KEN Kemenpar RI 2026. Namun kebanggaan itu tidak boleh dibangun di atas air mata dan trauma anak-anak, yang pada akhirnya menimbulkan kegelisahan mendalam bagi orang tua, terutama para ibu.

Pilihan tema tahun ini, "Bunga Dharma Kebudayaan Menemukan Bentuknya", secara spiritual patut menjadi bahan evaluasi dan diduga menjadi salah satu pemicu. Ketika Gandrung Sewu dipentaskan di bawah langit malam Pantai Marina Boom, cahaya-cahaya itu bukan hanya menerangi panggung. Diharapkan cahaya tersebut juga membuka jalan bagi penonton untuk mengenali akar tradisi dan makna Gandrung yang sebenarnya.

Ada doa yang disimpan dalam bunga, ada harapan yang diwariskan melalui ritual, dan ada kearifan yang bertahan karena masyarakat terus merawatnya.

Namun ketika makna spiritual itu tidak dijelaskan dengan baik kepada anak-anak peserta, ketika ritual hanya menjadi koreografi tanpa pemahaman jiwa, maka yang terjadi adalah kekosongan batin. Anak-anak menari, tapi tidak mengerti doa apa yang sedang mereka bawakan. Kembang Dermo seharusnya menemukan maknanya sebagai bunga kecil yang mengingatkan manusia, bahwa keindahan bukan hanya perkara yang tampak, melainkan tentang nilai.

Makna Kembang Dermo yang Sesungguhnya

Gending Kembang Dermo adalah gending interaksi jual-beli bunga antara penari Seblang dengan penonton dalam ritual Seblang Olehsari. Menurut Aekanu Hariyono (budayawan ) saat kejadian bersama penulis mengeluhkan tidak tega melihat fenomena yang menyesakkan dada hingga sulit digambarkan dengan kata-kata. "Kepercayaan warga Olehsari, bunga ini (isinya kembang kenanga dan kantil) mengandung nilai magis untuk penyembuh penyakit, penolak bala, dan mendatangkan rejeki. Filosofinya sangat dalam: Ada doa yang disimpan dalam bunga. ujar Aekanu sambil memegang dadanya”.

Syair Pakem (Bahasa Using)

Kembang dermo, kembang dermo

Kembang menur melati

Kembang gadung wangi arum

Dibagiaken kanggo rejeki

 

Kembang dermo, ojo lali

Tukunen kembang iki

Sopo nduwe kembang dermo

Ilang sebele, teko rejekine

 

Artinya: Siapa yang memiliki kembang dermo, hilang sialnya, maka datang rejekinya.

 

Gandrung Sewu 2026 yang tertinggal bukan hanya kenangan tentang ribuan cahaya, melainkan juga kesadaran bahwa menjaga kebudayaan adalah dharma kita bersama. Sebuah pengabdian yang tak selesai ketika musik berhenti, tak padam ketika lampu dipadamkan, dan tak gugur ketika zaman berganti. Tapi dharma itu harus dijalankan dengan cara yang manusiawi, terutama bagi anak-anak.

Maka evaluasi yang saya usulkan sebagai berikut: 1) Sakral Jangan Dicampur Asal. Kembang Dermo dari Seblang Olehsari jangan hanya dijadikan tempelan estetika. Jika ingin diangkat, libatkan tetua adat Olehsari, lakukan selamatan dan penjelasan makna yang benar kepada anak-anak. 2) Bedakan Ritual dan Tontonan. Seblang adalah ritual tolak bala yang sakral. Gandrung Sewu adalah festival pariwisata. Menyatukan keduanya butuh adab dan ritual pengantar, tidak bisa sekadar koreografi.

Tiga, Lindungi Anak dari Beban Spiritual Berat. Anak-anak adalah jiwa yang masih bersih dan sensitif. Jangan bebani mereka dengan tema-tema yang mengandung trans, mantra, dan kesurupan jika kita tidak mampu menjaga mereka secara spiritual dan psikologis. Gandrung Sewu harus tetap menjadi kebanggaan. Tapi kebanggaan itu harus dibangun dengan pemahaman budaya yang utuh, bukan hanya keindahan cahaya di Pantai Boom. Bunga Dharma itu seharusnya membawa rejeki dan keselamatan. Jangan sampai justru membawa air mata.           

Evaluasi Total Pola Latihan

Jangan porsir anak. Latihan harus memperhatikan jam istirahat, asupan gizi, dan kondisi psikologis. Tidak boleh ada latihan maraton dari siang sampai malam. Batasi maksimal 150 menit dan hindari jam 14.00-17.30 WIB. Libatkan tim medis & psikolog.  Setiap latihan massal yang melibatkan ribuan anak wajib didampingi tim kesehatan, bukan hanya pelatih tari.

Kalau penyelenggara tidak mampu menjamin keselamatan fisik dan mental anak, lebih baik Gandrung Sewu 2026 di-stop. Gandrung Sewu memang kebanggaan Banyuwangi. Tapi kebanggaan itu jangan pernah dibangun di atas air mata, kelelahan, dan trauma anak-anak kita.

Jika penyelenggara tidak mampu menjamin keselamatan fisik dan mental peserta, lebih baik dihentikan saja. Tidak ada satu pun event tahunan yang nilainya lebih berharga dari keselamatan dan masa depan anak-anak. Semoga ini menjadi perhatian serius bagi Ibu Bupati Banyuwangi dan stakeholder serta dinas terkait. (*)

Editor : Ali Sodiqin
kembang darmo gandrung sewu kesurupan seblang