
RADAR BANYUWANGI - Setiap kali Gandrung Sewu digelar, kita disuguhi pemandangan yang nyaris selalu menggetarkan: ribuan penari bergerak serempak, kostum yang semarak, musik yang menggema, dan panggung besar yang menghidupkan kembali kisah-kisah Banyuwangi. Gandrung Sewu kemudian tumbuh menjadi salah satu ikon kebudayaan Banyuwangi.
Namun, di balik gemuruh itu, ada sesuatu yang tidak boleh ikut hilang yakni, ingatan.
Sebab Gandrung Sewu tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari kegelisahan terhadap keberlangsungan Gandrung sebagai kesenian. Pada masanya, Gandrung tidak selalu ditempatkan sebagai kebanggaan. Bahkan, kesenian ini pernah berhadapan dengan stigma sosial dan dianggap tertinggal. Minat generasi muda untuk mempelajarinya pun belum berkembang seperti sekarang.
Padahal, Gandrung memiliki sejarah panjang dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi. Ia bukan sekadar tari pertunjukan, melainkan bagian dari identitas Blambangan dan kebudayaan Using. Upaya pemerintah untuk memperkuat posisi Gandrung sebenarnya cukup sering dilakukan, antara lain melalui kebijakan yang menempatkannya sebagai maskot pariwisata dan kemudian menyematkan perannya sebagai Tarian Selamat Datang melalui Jejer Gandrung. Namun, kebijakan kebudayaan tidak selalu serta-merta mengubah cara pandang masyarakat terhadap sebuah kesenian.
Di tengah persoalan itulah gagasan Gandrung Sewu menemukan momentumnya. Drh. Budianto dapat dikenang sebagai salah satu penggagas dan konseptor awal Gandrung Sewu, bersama para seniman dan pelatih tari yang tergabung dalam Patih Senawangi. Di dalam proses itu terdapat pula nama Sumitro Hadi sebagai salah satu koreografer. Gagasan tersebut tidak dibangun dalam semalam. Patih Senawangi telah melakukan penelitian dan penggalian sejak 2007 sebelum gagasan itu diwujudkan menjadi sebuah pertunjukan besar pada 2012.
Pada 2012, sekitar seribu penari Gandrung tampil dalam Gandrung Sewu. Pertunjukan tersebut bukan hanya menghadirkan tari, tetapi juga membawa narasi tentang sejarah Banyuwangi. Yang menarik, pada masa awal kemunculannya, Gandrung Sewu belum berada dalam kemapanan seperti sekarang. Ia banyak bertumpu pada swadaya, gotong royong, dan kerja kolektif para seniman, pelatih, masyarakat, serta orang tua penari. Dukungan pemerintah pada tahap awal belum hadir secara memadai. Pertunjukan pertama itu kemudian memperoleh pengakuan MURI dan menjadi salah satu momentum penting dalam sejarah perjalanan Gandrung Sewu. Dari sana, sesuatu perlahan berubah.
Gandrung yang sebelumnya tidak selalu dianggap menarik oleh anak muda justru memperoleh ruang baru untuk dibanggakan. Menjadi penari Gandrung Sewu bukan lagi sekadar belajar kesenian tradisional. Ia menjadi pengalaman sosial, ruang perjumpaan, arena menunjukkan kemampuan, sekaligus cara anak muda mengambil bagian dalam identitas kedaerahan.
Perkembangannya pun luar biasa. Jika di tahun 2012 pihak penyelenggara harus mencari anak-anak muda yang bersedia menari Gandrung, beberapa tahun kemudian situasinya berbalik. Pada 2018, misalnya, kebutuhan penari sekitar 1.150 orang, sementara jumlah peserta yang mengikuti seleksi mencapai lebih dari 5.000 orang. Kondisi ini seakan menjadi bukti bahwa kesenian yang dahulu menghadapi persoalan regenerasi justru menjadi ruang perebutan generasi.
Ketika Gandrung Sewu kemudian menjadi bagian dari Banyuwangi Festival dan memperoleh dukungan pemerintah, ia tumbuh dari sebuah ikhtiar kebudayaan menjadi agenda budaya berskala besar. Keberhasilan itu layak dirayakan. Tetapi semakin besar panggung yang dibangun, semakin penting pula ingatan tentang dari mana ia bermula tetap dijaga.
Jangan sampai kita begitu sibuk merawat Gandrung Sewu, hingga lupa merawat akar yang melahirkannya. Gandrung Sewu memang menjadi salah satu cara memperkenalkan Gandrung kepada publik yang lebih luas. Ia menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal sejarah, gerak, musik, kostum, dan makna Gandrung. Namun, Gandrung tidak boleh berhenti sebagai sumber inspirasi bagi sebuah pertunjukan tahunan. Ia harus tetap hidup sebagai kesenian—diajarkan, dipelajari, dipentaskan, dikembangkan, dan diwariskan.
Karena itu, merawat Gandrung Sewu seharusnya tidak hanya berarti memastikan pertunjukannya terus berlangsung. Tidak sekadar memastikan panggungnya hadir di setiap tahun. Tetapi, kita juga perlu merawat cerita tentang bagaimana ia lahir, siapa yang menggagas, siapa yang mengerjakan, dan mengapa ia dahulu dianggap penting untuk diwujudkan.
Hari ini kita boleh berbangga melihat seribu lebih penari menari dalam satu panggung. Namun, di balik seribu penari itu, ada perjalanan panjang yang membuat Gandrung kembali dipandang sebagai kebanggaan. Maka, ketika gemuruh Gandrung Sewu kembali terdengar, barangkali pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya: seberapa menakjubkan pertunjukannya?
Melainkan: masihkah kita mengingat mengapa ia dulu dilahirkan?
Sebab merawat warisan bukan hanya menjaga agar ia tetap terlihat. Merawat warisan adalah memastikan ingatan tentang asal-usulnya tetap hidup. Lebih lagi merawat Gandrung sebagai kesenian adalah memastikan bahwa di balik kemegahan ribuan penari, masih ada ruang bagi satu penari untuk belajar, satu pelatih untuk mengajarkan, satu seniman untuk menciptakan, dan satu generasi muda untuk mengatakan ”Ini kesenian yang kami banggakan”. (*)
Editor : Ali Sodiqin