RADAR BANYUWANGI - Sekolah bukan hanya tempat belajar matematika, IPA, Bahasa Indonesia, atau mata pelajaran lainnya. Sekolah juga menjadi tempat membentuk karakter dan kebiasaan baik. Salah satunya melalui kegiatan keagamaan. Hal tersebut penulis rasakan di SMP Negeri 3 Genteng. Saat ini sekolah kami menjalankan program School Religious Culture (SRC).
SRC bukan sekadar nama sebuah program, tetapi harus menjadi budaya yang hidup dalam keseharian seluruh warga sekolah. Penulis memahami SRC sebagai upaya menjadikan nilai-nilai agama tidak hanya dipelajari di dalam kelas, tetapi juga dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Agama tidak berhenti pada teori. Nilai-nilai yang dipelajari harus terlihat dalam sikap, ucapan, dan kebiasaan kita sebagai murid.
Di SMP Negeri 3 Genteng sudah banyak kegiatan yang mendukung tujuan tersebut. Ada salat duha, salat duhur berjamaah, membaca Asmaul Husna, Gerakan Cinta Al-Qur'an (GCA), kegiatan diniah untuk kelas 7, BBQ (Bina Baca Qur'an), MTQ, hadrah, kaligrafi, Jumat Taqwa, infak, dan berbagai kegiatan lainnya.
Kegiatan-kegiatan tersebut membuat nilai keagamaan tidak hanya dibicarakan, tetapi dipraktikkan secara langsung. Salat duha dan membaca Asmaul Husna setiap pagi, misalnya, memberikan suasana berbeda sebelum pembelajaran dimulai. Kami diajak untuk mengingat Allah sekaligus menyiapkan diri sebelum belajar.
Awalnya mungkin ada murid yang menganggap kegiatan tersebut hanya sebagai rutinitas. Namun, kebiasaan memang sering dimulai dari sesuatu yang dilakukan berulang-ulang. Jika dilakukan dengan kesadaran, sesuatu yang awalnya terasa sebagai kewajiban dapat berubah menjadi kebutuhan.
Hal yang sama terlihat dalam salat duhur berjamaah. Kegiatan ini mengajarkan kami untuk disiplin terhadap waktu. Budaya religius tidak hanya tampak dari tulisan atau slogan di lingkungan sekolah, tetapi justru terlihat dari kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.
GCA juga menjadi kegiatan penting. Kami membaca Al-Qur'an bersama-sama. Sementara itu, BBQ memberikan ruang bagi murid yang masih perlu belajar dan meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an. Ini menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya menuntut murid mampu, tetapi juga memberikan kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri.
Ada pula kegiatan diniah untuk murid kelas 7 sebagai bekal memasuki jenjang SMP. Kemudian MTQ, hadrah, dan kaligrafi memberikan ruang bagi murid untuk mengembangkan minat dan bakat. Murid yang menyukai Al-Qur'an dapat mengembangkan kemampuan melalui MTQ, yang menyukai seni musik dapat belajar hadrah, sedangkan yang tertarik pada seni tulisan dapat mengembangkan kemampuan melalui kaligrafi.
Dari kegiatan tersebut terlihat bahwa budaya religius dapat tumbuh melalui banyak cara sesuai minat dan kemampuan murid.
Jumat Taqwa juga memperkuat suasana religius di sekolah melalui istighotsah, tahlil, khataman Al-Qur'an, dan shalawatan. Kegiatan ini bukan hanya menciptakan suasana yang tenang, tetapi juga menumbuhkan kebersamaan antara murid dan guru. Kami belajar bahwa kehidupan sekolah bukan hanya tentang nilai, tetapi juga tentang membangun hubungan yang baik dengan sesama.
Dalam pelaksanaan SRC, peran Dewan Dakwah Sekolah (DDS). Murid diberi kesempatan menjadi imam salat duha, memandu GCA, dan membantu berbagai kegiatan keagamaan. Pengalaman tersebut melatih keberanian, tanggung jawab, kepemimpinan, dan kepercayaan diri.
Ada pula infak dan SAS yang mengajarkan kepedulian sosial.
Keberagamaan tidak cukup hanya ditunjukkan melalui ibadah pribadi. Nilai agama juga harus terlihat dalam perilaku: jujur ketika mengerjakan tugas, menghormati guru, tidak mengejek teman, membantu teman yang kesulitan, menjaga kebersihan, dan bertanggung jawab terhadap tugas. Karena itu, SRC tidak boleh hanya menjadi program rutin. SRC harus menjadi kebiasaan yang tetap dilakukan meskipun tidak ada yang melihat atau menilai. Perubahan karakter memang membutuhkan proses.
Murid memiliki karakter yang berbeda-beda sehingga keteladanan dari guru, tenaga kependidikan, dan seluruh warga sekolah sangat penting. Pendidikan seharusnya membuat kita memiliki ilmu sekaligus sikap yang baik. Kegiatan keagamaan memberikan kesempatan untuk berlatih, sedangkan SRC menjadikan latihan tersebut sebagai budaya. Salat berjamaah dapat membentuk kedisiplinan, GCA menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur'an, DDS melatih tanggung jawab dan kepemimpinan, infak menumbuhkan kepedulian, dan Jumat Taqwa memperkuat kebersamaan.
Sekolah religius, bukan sekolah yang hanya memiliki banyak kegiatan keagamaan. Sekolah religius adalah sekolah yang warganya berusaha menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Religius berarti rajin beribadah, tetapi juga jujur. Religius berarti dekat dengan Al-Qur'an, tetapi juga menghormati orang lain. Religius berarti aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga peduli terhadap lingkungan dan sesama.
Penulis tidak ingin ketika lulus nanti hanya membawa rapor dengan nilai yang bagus. Saya juga ingin membawa kebiasaan baik yang telah dipelajari di sekolah: berbuat baik, disiplin beribadah, menghargai orang lain, bertanggung jawab, dan peduli kepada sesama. Sebab, mungkin suatu saat penulis lupa beberapa rumus atau materi pelajaran, tetapi penulis berharap kebiasaan baik tetap melekat dalam diri. (*)
Editor : Ali Sodiqin