RADAR BANYUWANGI - Dalam kalender kebangsaan, 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Dasar hukumnya jelas, tertuang dalam Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Darat tertanggal 17 September 1966. Legalitas itu diperkuat lewat TAP MPRS No. XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran PKI dan larangan penyebaran ideologi komunisme/marxisme-leninisme.
Namun, lebih dari sekadar regulasi, peringatan ini memiliki makna konstitusional yang mendalam. Pembukaan UUD 1945 alinea keempat dengan tegas menyatakan susunan negara. Yakni, berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta keadilan sosial. Itulah Pancasila, dasar negara (grundnorm) sekaligus pandangan hidup (way of life).
Kita mengenang peristiwa Gerakan 30 September 1965. Saat itu, ada upaya mengganti Pancasila dengan ideologi lain melalui kekerasan dan pembunuhan para Pahlawan Revolusi. Di sinilah letak kesaktiannya. Pancasila pernah mau dibunuh, tapi tidak pernah mati.
Mengapa Sakti?
Pertama, Pancasila bukan buatan satu orang atau satu golongan. Seperti kata Ir. Soekarno pada 1 Juni 1945, Pancasila digali (philosophische grondslag) dari bumi Indonesia sendiri. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sudah hidup berabad-abad di desa-desa kita, jauh sebelum merdeka. Karena itu, ia memiliki daya tahan (resilience) luar biasa. Ia bukan sekadar lima sila yang dihafal. Melainkan lima prinsip yang jika satu saja dilanggar, keutuhan bangsa akan goyah.
Kedua, Pancasila adalah akal sehat. Pembukaan UUD 1945 alinea keempat menegaskan hal tersebut. Artinya, Pancasila adalah grundnorm atau norma dasar. Ketika sebuah bangsa meninggalkan akal sehatnya, ia akan runtuh. Sebaliknya, ketika bangsa ini kembali kepada Pancasila, ia akan selamat. Pertanyaannya, bagaimana menjaga kesaktian itu di era 2026?
Jika dulu Pancasila diuji dengan senjata, hari ini ujiannya bertumpu pada tiga hal. Pertama, disinformasi dan hoaks yang merusak Persatuan Indonesia (Sila ke-3). Kedua, korupsi dan kesenjangan yang mencederai Keadilan Sosial (Sila ke-5). Ketiga, krisis ekologi dan budaya buang sampah sembarangan. Ini menunjukkan lunturnya nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan. Sebab, merusak alam berarti merusak ciptaan Tuhan dan masa depan manusia (Sila ke-1 dan ke-2).
Tahun ini, pemerintah menetapkan tema resmi yang sangat kuat: “Pancasila Pemersatu Bangsa menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Tema ini bukan sekadar slogan. Inilah jawaban mengapa Pancasila disebut sakti.
Menuju Berdaulat
Berdaulat artinya kita berdiri di atas kaki sendiri. Dulu, para suami kami berjuang untuk kedaulatan politik agar Merah Putih berkibar. Hari ini, kedaulatan itu harus diisi. Mulai kedaulatan pangan, energi, hingga ekonomi. Kedaulatan terwujud saat petani makmur, nelayan melaut dengan aman, dan anak muda tidak harus lari ke luar negeri demi kerja layak. Berdaulat adalah ketika keputusan tentang Indonesia ditentukan oleh rakyat Indonesia sendiri, bukan bangsa lain.
Menuju Adil
Pancasila adalah pemersatu karena ia adil. Ia tidak memihak satu agama, satu suku, atau satu golongan. Semua sama di mata Pancasila. Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, adalah jantungnya. Keadilan itu tampak ketika tetangga beda agama saling membantu saat hajatan. Juga ketika hukum ditegakkan tanpa tebang pilih; tidak tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Selama keadilan terasa, rakyat akan memiliki Pancasila. Jika keadilan hilang, persatuan akan retak. Itulah mengapa korupsi, kolusi, dan nepotisme adalah musuh terbesar Pancasila hari ini.
Menuju Makmur
Tujuan akhir dari persatuan adalah kemakmuran. Para pendiri bangsa tidak ingin kita hanya bersatu dalam penderitaan, melainkan bersatu dalam kemakmuran. Makmur yang dimaksud bukan untuk segelintir orang, melainkan bagi seluruh rakyat Indonesia. Lalu, bagaimana peran kita?
Menjaga Pancasila adalah dengan tidak mudah diadu domba. Satu ujaran kebencian bisa merusak persatuan yang dibangun puluhan tahun. Jadilah bangsa yang berdaulat dalam berpikir, adil dalam bersikap, dan makmur dalam berkarya.
Pancasila sudah terbukti mempersatukan kita dari Sabang sampai Merauke. Tugas kita sekarang adalah memastikan persatuan itu membawa kita menuju Indonesia yang benar-benar berdaulat, adil, dan makmur.
Dari kantor sederhana di Jl. Veteran No. 1 Banyuwangi, kami ingin menitipkan pesan. Mari rawat kesaktian Pancasila. Bukan hanya dengan upacara setiap 1 Oktober atau memutar film perjuangan Pahlawan Revolusi, melainkan lewat perilaku sehari-hari. Selama Pancasila menjadi akal sehat dan pemersatu, selama itu pula Indonesia akan tetap berdaulat, adil, dan makmur.
Bangsa yang melupakan dasarnya akan kehilangan arah. Dan bangsa yang menjaga Pancasila akan selalu menemukan jalan untuk tetap utuh. Selamat Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026. (*)
Editor : Ali Sodiqin