RADAR BANYUWANGI - Di tengah perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang mampu menjawab hampir segala pertanyaan dalam hitungan detik, muncul pertanyaan penting: masihkah guru memegang kendali dalam pendidikan?
Pertanyaan ini semakin relevan ketika AI mulai masuk ke ruang kelas dan pesantren. AI dapat membantu mencari informasi, menyusun tulisan, menerjemahkan teks, bahkan menjelaskan berbagai persoalan keilmuan. Namun, pendidikan tidak pernah hanya soal seberapa cepat seseorang memperoleh jawaban. Pendidikan juga menyangkut pembentukan cara berpikir, karakter, tanggung jawab, dan orientasi hidup.
Karena itu, kehadiran AI seharusnya tidak membuat guru kehilangan kedaulatan. Justru sebaliknya, teknologi dapat menjadi momentum untuk menegaskan kembali posisi guru sebagai pembimbing manusia.
Dalam masyarakat informasi, guru memang tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan. Ketika informasi tersedia begitu melimpah, guru bergeser menjadi kurator pengetahuan sekaligus pengarah pembelajaran. Tugasnya bukan sekadar memberikan jawaban, tetapi mengajarkan bagaimana memeriksa informasi, berpikir kritis, memahami konteks, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Gert Biesta dalam World-Centred Education: A View for the Present (2024) menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar menghasilkan capaian belajar yang terukur. Pendidikan juga merupakan proses mengajak peserta didik untuk hidup dan bertanggung jawab di dunia.
Di sinilah kehadiran guru tetap penting. AI dapat memberikan informasi, tetapi tidak dapat sepenuhnya menggantikan perjumpaan manusiawi antara guru dan murid. Guru dapat membaca kecemasan, kesepian, kebingungan, bahkan pencarian identitas peserta didik yang tidak selalu terlihat dalam layar.
Pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi relevan dalam konteks ini. Bagi Gus Dur, teknologi dan sistem apa pun harus tetap berpihak pada martabat manusia. Ancaman terbesar AI bukan semata-mata hilangnya pekerjaan atau perubahan metode belajar, tetapi kemungkinan manusia diperlakukan hanya sebagai data, angka, dan objek algoritma.
Karena itu, guru harus menjadi penjaga martabat murid. Teknologi tidak boleh menciptakan kesenjangan baru antara mereka yang memiliki akses digital dan mereka yang tertinggal. Kecanggihan teknologi harus tetap ditempatkan di bawah nilai kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab sosial.
Persoalan ini menjadi semakin penting dalam dunia pesantren. Dalam tradisi pesantren, ilmu bukan hanya kumpulan informasi. Ilmu memiliki dimensi keteladanan, adab, dan hubungan antara guru dan murid. Santri tidak hanya belajar apa yang diketahui guru, tetapi juga bagaimana ilmu itu diamalkan.
AI dapat menghadirkan ribuan rujukan kitab dalam hitungan detik. Namun, mesin tidak dapat menggantikan uswah atau keteladanan seorang kiai dan ustaz. Mesin juga tidak menghadirkan shuhbah, yakni pengalaman kebersamaan antara guru dan murid yang menjadi bagian penting dalam tradisi pendidikan pesantren.
Karena itu, tantangan pendidikan pesantren di era AI bukan menolak teknologi, tetapi menjaga sanad keilmuan di tengah banjir informasi.
Santri perlu diajarkan bahwa banyaknya informasi tidak otomatis berarti kebenaran. Informasi tetap membutuhkan verifikasi, metodologi, otoritas keilmuan, dan adab. Jangan sampai lahir generasi yang fasih mengutip dalil dari mesin pencari, tetapi kehilangan kemampuan memahami konteks dan menghormati tradisi keilmuan.
Dalam konteks ini, gagasan Gus Dur tentang Pribumisasi Islam dapat dikembangkan menjadi “Pribumisasi Teknologi”. Teknologi tidak perlu ditolak, tetapi juga tidak boleh diterima secara mentah. Ia harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan nilai-nilai yang hidup di dalamnya.
Kaidah al-muhafadzatu ‘ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah menjadi relevan: menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik.
AI karena itu harus ditempatkan sebagai alat khidmah, bukan sebagai pengganti guru. Teknologi dapat mempercepat pekerjaan, membantu riset, dan membuka akses pengetahuan. Tetapi keputusan pendidikan tetap membutuhkan pertimbangan manusia.
Guru harus menjadi mursyid di tengah rimba digital. Ia membantu santri membedakan informasi yang benar dan menyesatkan, pengetahuan dan propaganda, kecanggihan teknologi dan kebijaksanaan.
Tantangan guru hari ini akhirnya bukan sekadar menguasai teknologi, tetapi menjaga “nyala” nalar manusia. AI boleh semakin pintar, tetapi pendidikan tidak boleh kehilangan dimensi kemanusiaannya.
Guru yang berdaulat bukan guru yang menolak teknologi. Ia justru guru yang mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan arah pendidikan. Mesin digunakan untuk mempercepat pekerjaan, sementara hati dan akal tetap digunakan untuk menentukan keputusan. Sebab pendidikan bukan hanya tentang menemukan jawaban. Pendidikan adalah proses belajar menjadi manusia. (*)
Editor : Ali Sodiqin