Kapan Terakhir Kita Membaca Buku?

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 10:00 WIB
Oleh: Nuhbatul Fakhiroh Maulidia, SPd, Tenaga Kependidikan MTsN 1 Banyuwangi
Oleh: Nuhbatul Fakhiroh Maulidia, SPd, Tenaga Kependidikan MTsN 1 Banyuwangi

RADAR BANYUWANGI - Setiap orang mempunyai preferensi masing-masing. Tidak mesti semua orang mempunyai hobi membaca buku. Tapi, seyogianya menjadi pribadi yang pembelajar. Membaca adalah kebutuhan primer. Karena, mustahil bila setiap pembelajar tidak bisa membaca.  Dalam beberapa pekan terakhir, marak sebuah berita tentang pemusnahan jutaan buku yang dilakukan oleh perusahaan kecerdasan buatan atau AI. Miris sekali. Pasalnya, tidak semua orang mengerti tentang apa agenda terselubung yang direncanakan. 

Ini bukan bagian dari teori konspirasi. Tapi, pernahkah kita mempelajari kejatuhan muslim ratusan tahun yang lalu di Baghdad? Ya, kiranya seperti itulah sebuah gambaran yang akan terjadi. Disadari atau tidak, pemusnahan buku memang sering kali terjadi. Beberapa ulama mengatakan, bahwa untuk menghancurkan sebuah peradaban, maka hancurkanlah perpustakaan, rusaklah tatanan keluarganya, dan bunuhlah orang yang memiliki ilmu.

Melansir berita dari futurism, memberitakan tentang perusahaan Anthropic yang menginisiasi aksi tersebut. Salah satu pendiri mereka menyatakan bahwa buku akan mengajari AI cara menulis dengan baik, bukannya meniru gaya bahasa internet berkualitas rendah. Mereka membeli jumlah buku secara masif, memindai dan kemudian menghancurkan buku-buku tersebut. Hal ini juga dipicu, dengan habisnya data digital di internet dan membutuhkan ‘karya asli buatan manusia’ yang belum pernah dipublikasikan secara digital. 

Kembali ke sejarah. Segala sesuatu di bawah matahari, akan terus berulang.  Tragedi kehancuran muslim di masa Abbasiyah adalah peristiwa yang menyakitkan, dan mengenaskan bagi Muslim. Invasi Mongolia memang tidak langsung membakar wilayah kekuasaan. Mereka hanya membakar baitu-l-hikmah; saksi kejayaan di masa emas Islam. Apa yang diharapkan? Agar muslim lupa, dengan apa yang sudah ditulis para ulama’. Agar anak cucu buta dengan sejarah, tidak memahami ilmu dasar. Beruntung, bila bangsa Mongolia lupa, bila masih tersisa para huffadz (baca: para penghafal Al Quran). 

Mereka tidak memahami konsep, bahwa sesungguhnya jutaan kitab yang dibumihanguskan di perpustakaan agung itu hanya bagian-bagian kecil dari ayat ayat-Nya. Lantas, walau tertatih kembali saat terbangun dari mati suri saat itu. Para ulama’ masih mendidik, mengajar, dan kembali menulis ilmu-ilmu yang musnah, walau tak sempurna. 

Lantas, hari ini? Apakah masih tersisa harapan untuk bisa tetap menjaga ilmu-ilmu seperti yang dilakukan ulama’ kita di hari ini? Hampir sekali mustahil, bila harus mengingat bahwa anak-anak kita terpapar layar gawai, lebih dari porsi layaknya. Mengingat bahwa kemampuan bernalar kritis jarang sekali difungsikan, karena memang tersedia informasi melimpah, dan mereka bebas mengaksesnya di ruang publik. Menyaksikan, para mahasiswa yang sibuk dengan ribuan menit di depan laptop hanya untuk mencari referensi digital, daripada mengunjungi perpustakaan. Miris, tapi apa yang memang disalahkan dari kemajuan teknologi? 

Bagaimana mungkin, seorang pendidik yang mengajar dan mendidik manusia tetapi bertanya solusi pada robot kecerdasan buatan? Terlihat naif, tapi  begitulah hari ini. Kita memang tidak bisa menolak kemajuan teknologi. Teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia. Tapi, para pengguna lupa akan esensi dan kendali akan teknologi itu sendiri. Pada masa pendahulu kita, mereka ber-ijtihad untuk bisa menuntut ilmu, dan kembali mencatatnya. Agar anak-cucu kelak, bisa membaca kembali tentang aturan dan batasan yang harus mereka lakukan. 

Literatur fisik, bukanlah menjadi sebuah hiasan lemari belaka. Kita bisa membacanya ribuan kembali, untuk kembali diajarkan. Ada kepuasan tersendiri, saat membaca sumber literatur fisik daripada membaca arsip digital di depan layar gawai. Kemelekatan ilmu lebih nyata, dan ruh dari penulis akan menjadi semakin terasa. Barangkali, itulah yang menjadikan para pembaca buku fisik jauh lebih cerdas dibandingkan orang yang menerima ratusan informasi, dan ditelan mentah-mentah. 

Keterbatasan informasi dan wawasan ilmu tidak menjadikan seseorang mengakhiri hidupnya. Mereka justru menggunakan akal yang dianugerahi Allah untuk bisa digunakan untuk berfikir. Bukan justru hanya dibuka secara bebas, untuk menampung potongan informasi, dan itupun belum tentu absah kebenarannya. Jadi, manakah yang lebih baik? Membaca buku secara fisik, maupun digital adalah sebuah pilihan. Tapi, apakah kita mampu mencerna apa yang kita baca dengan kritis?. (*) 

Editor : Ali Sodiqin
Literasi buku wawasan membaca ilmiah