RADAR BANYUWANGI - Suatu pagi, saya melihat salah satu murid kelas 6 menunduk di sudut kelas sebelum bel masuk. Jempolnya bergerak cepat di layar. Saat saya tegur, ia buru-buru menyimpan ponselnya, tetapi sempat berkata, "Bu, videonya lucu banget, aku enggak sengaja nonton sampai lupa waktu." Anak itu tidak berbohong, dan justru di situlah persoalannya. Ia tidak memilih video itu.
Sistem di baliknya yang memilihkan, dan sistem itu tidak peduli apakah tontonan berikutnya membuatnya lebih santun atau lebih kasar. Yang dihitungnya cuma satu: berapa lama jempol itu bertahan di layar. Sekolah terbiasa menganggap dirinya sebagai pusat pembentukan karakter anak. Anggapan itu kini goyah. Layar ada di saku anak pukul 02.00 dini hari ketika gurunya sudah lelap. Layar itu juga punya kurikulumnya sendiri, tanpa silabus dan tanpa ada yang menilai.
Penelitian Jylhä, Hirvonen, dan Haider yang terbit di Journal of Documentation (2024) terhadap remaja Finlandia berusia 15–16 tahun menemukan bahwa rekomendasi algoritmik justru mendorong kebiasaan pasif. Anak menyerahkan pencarian sepenuhnya pada sistem dan pilihan yang mereka temui makin sempit dari waktu ke waktu.
Konteksnya memang jauh dari Banyuwangi, tetapi pola itu terasa akrab bagi siapa pun yang mengajar anak usia sekolah dasar hari ini. Karakter tumbuh dari pilihan yang berulang kali dilatih dan anak yang terbiasa disuguhi tidak sedang melatih apa-apa. Di sinilah adab menjadi soal yang jauh lebih besar daripada sekadar sopan santun. Dalam tradisi pendidikan Islam, adab mendahului ilmu sebab ia mencakup kemampuan menahan diri dan memeriksa kabar sebelum menyebarkannya kepada orang lain.
Dua kemampuan itu justru yang paling digerus oleh ekonomi perhatian di balik layar. Algoritma menghadiahi kecepatan dan kehebohan, sementara adab menuntut jeda. Aturan sekolah bisa dipatuhi tanpa dipahami, tetapi adab hanya hidup ketika anak sendiri yang menahan tangannya sendiri. Karena itu, adab tidak bisa dititipkan pada aplikasi pemblokir atau tata tertib sekolah semata. Ia harus tumbuh dari latihan berulang di hadapan godaan yang sungguh nyata, bukan yang diceritakan lewat nasihat.
Sayangnya, respons kita di sekolah sering berhenti pada larangan. Ponsel dititipkan di loker sejak pagi, media sosial dicap sebagai musuh bersama, lalu ceramah bahaya internet diulang tiap semester di rapat wali murid. Ironisnya, lewat grup WhatsApp yang sama tempat para orang tua sendiri asyik menonton reels sambil menunggu giliran bicara. Larangan semacam ini hanya menghasilkan kepatuhan di gerbang sekolah, bukan kendali diri di kamar tidur anak.
Sebuah kajian oleh Ernst (2024) yang menggelar 26 diskusi kelompok dengan anak sekolah dasar di Swiss usia 11–13 tahun justru menemukan bahwa anak-anak itu sebetulnya cukup peka. Mereka mulai bisa melihat bahwa rekomendasi di layarnya terkait motif dagang dan sengaja memancing emosi. Namun, menyadari saja tidak otomatis membuat mereka mampu menahan diri. De Groot, de Haan, dan van Dijken (2023), lewat penelitian terhadap siswa sekolah menengah di Belanda, mendapati anak-anak memang tahu bahwa menekan tombol suka mengubah isi berandanya. Namun, pengetahuan praktis semacam itu belum cukup untuk mempertanyakan siapa sebenarnya yang diuntungkan dari kebiasaan menonton mereka.
Temuan-temuan ini semestinya mengubah cara kita mengajar. Pendidikan karakter tidak cukup lagi mengukur perilaku yang tampak di depan guru. Dalam pelajaran akhlak, PPKn, atau proyek P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila), anak bisa diajak menelusuri sendiri kenapa sebuah video terus muncul di berandanya, lalu diajak membicarakan apa rasanya kalau ia sengaja berhenti menonton di tengah jalan.
Guru yang sibuk menatap ponselnya sendiri saat anak mengerjakan tugas sebenarnya sedang mengajarkan sesuatu, hanya bukan yang tertulis di RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Pertemuan wali murid pun layak berubah bentuk. Dari ceramah tentang bahaya gawai, menjadi momen ketika orang dewasa membuka beranda mereka sendiri di depan orang tua lain dan bertanya jujur siapa yang sebenarnya membentuk isi beranda itu.
Beban ini juga tidak adil kalau ditanggungkan sepenuhnya pada guru dan orang tua. Platform yang merancang mesin penarik perhatian ini menikmati untungnya setiap hari, tetapi nyaris tak pernah ditagih ongkos moralnya. Pendidikan karakter yang jujur mestinya berani menyebut itu secara terang-terangan, bukan cuma menyalahkan gawai di tangan anak.
Sekolah memang bukan lagi satu-satunya ruang belajar anak kita, dan sepertinya tidak akan pernah kembali menjadi satu-satunya. Namun, sekolah masih memegang satu tugas yang tidak bisa diambil alih algoritma: mengajari anak menilai ruang-ruang belajar lain yang diam-diam ikut membentuk dirinya. Adab yang bertahan di ujung jari adalah adab yang pernah benar-benar diuji di depan layar, bukan yang hanya dihafal rapi di depan guru. (*)
Editor : Ali Sodiqin