RADAR BANYUWANGI - Satu dari sekian sebab kebisingan di media sosial belakangan ini adalah kemunculan sebuah buku bertajuk Islam ala Prabowo (2025). Buku ini bukan tulisan Presiden Prabowo, melainkan kumpulan tulisan dan hasil transkip wawancara bersama beberapa tokoh Islam di Indonesia. Sebenarnya buku bunga rampai itu sudah diterbitkan dan diluncurkan tahun lalu, namun baru-baru ini ia “meledak” dan menimbulkan kontroversi.
Secara umum, buku tersebut membahas aspek-aspek keagamaan, spiritualitas, karakter, dan model kepemimpinan Prabowo Subianto. Jejak langkah dan sosok Prabowo berusaha ditinjau dan “dihubungkan” dengan nilai-nilai Islam. Pembahasan tentang hal-hal itu cenderung positif, bahkan dalam batas-batas tertentu terkesan amat berlebihan (israf) ketika memotret Presiden RI ke-8 itu.
Oleh karena buku Islam ala Prabowo mengandung ekses dan cenderung menggunakan nilai-nilai Islam sebagai “tempelan” belaka, walhasil buku tersebut mendapatkan beragam respons dari sebagian besar masyarakat, terutama umat Islam.
Setelah terbit setahun lalu, buku bunga rampai itu kemudian dipandang sebagai “buku politis” (yang memuat dalil-dalil agama) untuk melegitimasi kekuasaan Prabowo Subianto. Seabrek dalil dan interpretasi tokoh agama dicomot untuk “memoles” citra dan mendukung kebijakan-kebijakan Pemerintahan Prabowo-Gibran.
Namun, terlepas dari beragam respons kritis-negatif masyarakat, bagaimanapun, kemunculan buku itu telah menghentak kesadaran dan memantik diskursus tentang keberagamaan (Islam) kita. Setidaknya, setelah kemunculan buku Islam ala Prabowo, kita dapat memahami satu hal: dalil-dalil agama dan kemonceran seorang tokoh masih sering digunakan untuk melegitimasi kekuasaan.
Potret Masyarakat Islam: Qabil dan Habil
Fenomena tersebut mengingatkan kita kepada tesis Ali Syariati, seorang cendekiawan Muslim asal Iran, tentang tipologi masyarakat Islam. Dalam On the Sociology of Islam (1979), Syariati membagi masyarakat Islam ke dalam dua tipologi: Qabil dan Habil. Ia menafsirkan kisah Qabil dan Habil, kedua anak Adam, dalam al-Qur’an (QS. Al-Ma’idah [5]: 27-31) dari sudut pandang dialektika-historis.
Secara sederhana, kedua tipologi masyarakat Islam menurut Syariati dapat dipahami sebagai berikut:
Pertama, kaum Qabil memiliki karakter yang cenderung negatif-destruktif. Qabil adalah simbol orang-orang yang menindas kaum lemah, bermental borjuisme, dan kerap menjadikan agama sebagai legitimasi “kepentingan” (kelompok) mereka dan kekuasaan.
Kedua, kaum Habil mempunyai karakter yang cenderung positif-konstruktif. Secara simbolis, Habil adalah orang-orang yang tertindas dan tersisihkan—dari sistem kekuasaan kaum Qabil. Namun mereka memiliki semangat untuk menegakkan keadilan, menentang kekuasaan tiran, dan memahami agama sebagai spirit pembebasan-revolusioner.
Sejarah umat manusia, menurut Syariati, merupakan “dialektika” antara kaum Qabil dan Habil itu. Peradaban manusia, termasuk masyarakat Islam, sejak zaman baheula hingga sekarang, dengan demikian adalah hasil dari pergumulan dialektis antar-kedua kutub tersebut.
Hanya saja, bagi seorang revolusioner Muslim Iran itu, kaum Qabil selalu meraih kemenangan atas kaum Habil. Sebab kaum Qabil mengantongi kapital ekonomi, sosial, politik, dan kultural yang lebih banyak dan memadai ketimbang kaum Habil.
Dalam konteks memahami agama (Islam), “Muslim Qabil” dan “Muslim Habil” sangat berbeda, dan dalam batas-batas tertentu, tampak bertentangan. Islam, di mata Muslim Qabil, tidak lebih dari ritual-ibadah individualitik (hablu min-Allah). Selain itu mereka acap menggunakan doktrin dan mencomot dalil-dalil agama untuk membela kepentingan kaum borjuis dan kekuasaan.
Sementara bagi Muslim Habil, Islam tidak sekadar urusan ritual-ibadah hamba kepada Tuhan belaka, tetapi juga mengandung spirit dan nilai-nilai perjuangan sosial. Islam dipahami Muslim Habil sebagai “agama pembebasan”. Oleh karena itu, dalam (keadaan) ketertindasan, agama sering digunakan mereka untuk menentang kekuasaan tiran, memenggal cengkeraman kaum borjuis, dan membela kepentingan masyarakat luas, terutama wong-wong cilik.
Muslim Qabil vis-a-vis Muslim Habil di Indonesia
Kalau kita menggunakan perspektif Ali Syariati di atas, kemunculan buku Islam ala Prabowo, seperti telah disinggung di muka, dapat dipandang sebagai “agenda politis” kelompok Muslim Qabil di Indonesia. Sebab dalil-dalil agama digunakan untuk melegitimasi kekuasaan tertentu, dan secara bersamaan, menguntungkan kelompok mereka sendiri.
Islam, di tangan kelompok Muslim Qabil, adalah doktrin dan kumpulan dalil untuk mendukung dan membangun image kekuasaan. Spirit kritis dan pembebasan Islam dihilangkan, kemudian ditempeli dengan sifat-sifat opotunis dan borjuistik. Sehingga muncullah konsep “Islam” model kekuasaan yang digagas oleh kelompok Muslim Qabil itu.
Lantas, bagaimana dengan “Islam” ala Muslim Habil? Islam model ini masih mengakar sangat kuat di basis sosial-masyarakat (grrassroots). Sebab Islam ala Muslim Habil bukanlah konsep, melainkan “lelaku spiritual” (amaliah).
Ia akan senantiasa “hidup” dalam kehidupan sehari-hari kita, kendati Islam ala Muslim Qabil mendominasi di lingkaran elite kekuasaan. Islam ala Muslim Habil itu masih “diimani” oleh masyarakat kita, terutama generasi muda, dan digunakan untuk melawan kekuasaan “Firaun, Qarun, Haman” kontemporer.(*)
Editor : Ali Sodiqin