Lelah yang Tidak Terlihat

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 05:30 WIB
Oleh: Nining Jaidi MPsi Kons, Konselor Kesehatan Mental RS Yasmin Banyuwangi
Oleh: Nining Jaidi MPsi Kons, Konselor Kesehatan Mental RS Yasmin Banyuwangi

RADAR BANYUWANGI - Tidak semua lelah terlihat dari luar. Ada orang yang tetap bangun pagi, menyiapkan keperluan keluarga, bekerja, menyelesaikan tugas, menjawab pesan, tersenyum ketika bertemu orang lain, bahkan masih sempat membantu orang di sekitarnya. Dari luar, tidak ada yang tampak bermasalah.

Namun, ketika sendirian, ia merasa ingin berhenti sejenak dari semuanya. Bukan karena tidak bersyukur atau tidak mampu menjalani hidup. Ia hanya merasa tenaganya terus berkurang, sementara kehidupan tidak pernah benar-benar memberi kesempatan untuk berhenti. Inilah jenis lelah yang sering tidak terlihat.

Kelelahan fisik biasanya lebih mudah dikenali. Tubuh memberi tanda: mengantuk, pegal, atau lemas. Kita tahu kapan harus beristirahat. Namun, kelelahan yang bersumber dari tekanan emosional tidak selalu hadir dengan tanda yang jelas.

Seseorang bisa tetap bekerja, berkomunikasi, mengurus rumah, bahkan menjadi tempat penolong bagi orang lain. Tetapi di dalam dirinya ada bagian yang mungkin sudah lama bekerja terlalu keras.

Yang melelahkan kadang bukan banyaknya pekerjaan, melainkan banyaknya hal yang harus dipikirkan dan dirasakan sekaligus. Memikirkan orang tua, anak, pekerjaan, kondisi ekonomi, menjaga perasaan pasangan, menyelesaikan masalah yang tidak kunjung selesai, menahan kecewa, hingga menjawab, “Tidak apa-apa,” ketika sebenarnya ada sesuatu yang ingin disampaikan. Jika berlangsung terus-menerus, beban itu akan menumpuk.

Stres merupakan respons manusia yang wajar ketika menghadapi tekanan atau situasi sulit. Masalahnya bukan semata-mata karena seseorang mengalami stres, melainkan ketika tekanan berlangsung terus dan kemampuan untuk memulihkan diri tidak lagi seimbang dengan tuntutan yang dihadapi.

WHO mencatat bahwa stres berlebihan dapat memengaruhi tubuh maupun pikiran, termasuk pola tidur, konsentrasi, suasana hati, dan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Karena itu, seseorang mungkin mulai bertanya, “Mengapa sekarang saya mudah tersinggung?” Hal kecil terasa mengganggu. Pesan yang sebenarnya biasa saja terasa melelahkan untuk dibalas. Percakapan yang dahulu menyenangkan mulai terasa menguras tenaga. Konsentrasi menurun dan keputusan sederhana pun terasa berat.

Terkadang bukan karena persoalannya menjadi lebih besar. Bisa jadi, kapasitas diri untuk menanggung persoalan tersebut sudah semakin berkurang.

Dalam kondisi seperti itu, seseorang sering kali justru menyalahkan dirinya sendiri. “Kenapa saya tidak sekuat dulu? Padahal masalah saya tidak seberapa.” Atau, “Orang lain juga punya masalah. Seharusnya saya bisa mengatasinya.”

Kalimat tersebut mungkin terdengar seperti bentuk penguatan diri. Namun, jika terus digunakan untuk mengabaikan keadaan diri, justru dapat membuat seseorang semakin jauh dari kebutuhan emosionalnya sendiri.

Ada perbedaan antara menerima kenyataan dengan memaksa diri untuk terus kuat. Menerima berarti mengakui bahwa ada sesuatu yang sedang berat, kemudian mencari cara yang sehat untuk menghadapinya. Memaksa berarti terus berjalan sambil menyangkal bahwa diri sendiri sudah kelelahan.

Tidak semua kemampuan untuk terus berjalan berarti seseorang sedang kuat dan baik-baik saja.

Dalam praktik konseling, saya sering melihat orang datang bukan karena satu masalah yang tiba-tiba muncul. Mereka datang setelah terlalu lama memendam masalah hingga menumpuk. Ada yang berbulan-bulan merasa tidak nyaman tetapi tidak tahu penyebabnya. Ada yang kehilangan semangat tanpa memahami mengapa. Ada pula yang berkata, “Saya sebenarnya tidak punya masalah besar, tetapi saya merasa capek sekali.”

Kalimat terakhir justru perlu diperhatikan. Kesehatan mental tidak hanya berbicara tentang ada atau tidak adanya gangguan mental. Kesehatan mental juga berkaitan dengan kemampuan menghadapi tekanan kehidupan, menjalankan peran, berhubungan dengan orang lain, serta memiliki ruang untuk berfungsi dan memulihkan diri.

Kelelahan emosional juga dapat berkaitan dengan kesulitan konsentrasi. Ketika pikiran terasa penuh dan semakin sulit fokus, hal itu tidak selalu berarti seseorang malas atau tidak disiplin.

Namun, kita juga perlu berhati-hati. Tidak setiap rasa lelah berarti burnout. Tidak setiap kehilangan semangat berarti depresi. Tidak setiap mudah marah berarti seseorang mengalami gangguan psikologis tertentu.

Memahami diri tidak cukup hanya dengan mencari istilah di media sosial lalu mencocokkannya dengan keadaan kita. Yang lebih penting adalah memperhatikan pola. Apakah rasa lelah berlangsung terus? Apakah mulai mengganggu pekerjaan, hubungan keluarga, tidur, atau aktivitas sehari-hari? Apakah kita semakin sulit menikmati hal-hal yang sebelumnya menyenangkan? Apakah semakin sering merasa kosong, mudah tersinggung, atau ingin menjauh dari orang lain? Dan apakah setelah beristirahat kita tetap merasa tidak benar-benar pulih?

Jika jawabannya mulai mengarah ke sana, mungkin sudah waktunya berhenti sejenak dan melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri.

Berhenti bukan berarti kalah. Meminta bantuan juga bukan berarti lemah. Ada persoalan yang dapat selesai dengan tidur cukup, mengurangi aktivitas, berbicara dengan orang yang dipercaya, atau memberi diri sendiri ruang untuk beristirahat. Tetapi ada pula persoalan yang sudah terlalu lama dipendam sehingga membutuhkan ruang yang lebih terarah untuk dipahami.

Konseling dapat menjadi salah satu ruang itu. Bukan tempat untuk menghakimi atau mencari siapa yang salah, melainkan ruang untuk melihat persoalan dengan lebih jernih, memahami apa yang dirasakan, mengenali pola yang selama ini mungkin tidak disadari, dan menemukan cara menghadapi kehidupan yang lebih sehat.

Sebab mungkin selama ini kita terlalu sibuk memastikan semua orang baik-baik saja, sampai lupa menanyakan satu hal kepada diri sendiri: “Bagaimana sebenarnya keadaan saya?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi tidak selalu mudah dijawab. Tidak semua lelah membutuhkan istirahat. Ada lelah yang membutuhkan keberanian untuk diakui, dipahami, dan ditangani sebelum berubah menjadi persoalan yang lebih berat.

Jadi, bila suatu hari seseorang berkata, “Saya baik-baik saja,” jangan buru-buru membantahnya. Tetapi jangan pula selalu menganggap kalimat itu sebagai jawaban terakhir. Sebab ada lelah yang tidak terlihat oleh mata.

Bisa jadi, orang yang terlihat baik-baik saja justru sedang membutuhkan ruang untuk ditolong. Bukan karena ia sudah tidak mampu menjalani hidup, tetapi karena sudah terlalu lama menjalaninya sambil menanggung beban semuanya sendirian. (*)

Editor : Ali Sodiqin
who kesehatan mental stres psikologi