RADAR BANYUWANGI - Belakangan istilah skena semakin sering terdengar dalam percakapan sehari-hari. Istilah ini digunakan untuk menyebut lingkungan pergaulan yang tumbuh dari kesamaan minat, selera, musik, gaya hidup, maupun ruang berkumpul anak muda. Skena menjadi sangat menarik bukan semata karena siapa saja aktor di dalamnya, melainkan karena ia menjadi ruang bagi orang-orang dengan ketertarikan serupa untuk mengekspresikan diri. Mereka bertemu di sebuah tempat, menikmati kopi, mendengarkan musik, berbincang hangat, hingga perlahan membentuk lingkungan pergaulannya sendiri.
Fenomena kultural semacam ini semakin mudah ditemukan di Banyuwangi dan wilayah Tapal Kuda. Seiring dengan laju pertumbuhan pariwisata di Banyuwangi, pertumbuhan kedai dan warung kopi pun berkembang pesat dengan berbagai karakter unik. Warung kopi bertransformasi menjadi ruang publik yang mempertemukan pelajar, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat umum untuk menonton, berbincang, hingga berdiskusi. Kegiatan Komunitas Pelajar Skena di Rogojampi pada 15 Mei 2026 menjadi contoh nyata bagaimana ruang fisik tersebut dapat berkembang menjadi wadah interaksi, ekspresi, dan pembicaraan kritis mengenai kehidupan sosial.
Bentuk ekspresi anak muda kini memiliki banyak rupa. Musik, pakaian, kopi, tempat berkumpul, bahasa pergaulan, hingga meme menjadi instrumen kelompok untuk menunjukkan identitas serta apa yang mereka pikirkan. Kritik sosial pun hadir dalam bentuk yang tidak selalu serius atau formal. Kegelisahan itu muncul melalui lelucon, satire, gambar, atau meme yang memiliki makna mendalam bagi kelompok tertentu. Saat ekspresi masuk ke ruang digital, jangkauannya bergerak melampaui kelompok asalnya. Bahasa internal lingkaran pergaulan kini dipahami, ditafsirkan, bahkan digunakan oleh publik luas. Di sinilah skena tidak lagi hanya tentang siapa yang berkumpul di dunia nyata, tetapi juga tentang bagaimana sebuah ekspresi bergerak dinamis di antara ruang sosial dan ruang digital.
Dalam konteks ini, kopi bukanlah pusat perhatian utama. Kopi hanya menjadi salah satu unsur pendukung dalam kehidupan skena, yakni sebagai teman berbincang, penanda selera, sekaligus bagian dari ruang pertemuan fisik. Namun, ruang pergaulan yang awalnya berjalan alamiah ini perlahan berubah ketika bersinggungan dengan logika digital. Gaya hidup, estetika tempat berkumpul, musik, hingga cara berpakaian tidak lagi sekadar menjadi bagian dari keseharian, melainkan dikomodifikasi. Semuanya ditampilkan, dibagikan, mencari perhatian publik, dan pada akhirnya menghasilkan nilai ekonomi yang nyata.
Skena kini tidak lagi hanya berlangsung di ruang fisik, melainkan hadir secara masif di layar gawai. Kedai kopi dikenal luas karena unggahan media sosial, kelompok musik lokal menemukan pengikut dari luar daerah, gaya busana menjadi rujukan, dan percakapan internal kini menjangkau ribuan orang. Dalam perspektif sosiologi digital, teknologi bukan sekadar alat menyebarkan ekspresi, melainkan ikut menentukan bagaimana ekspresi itu ditampilkan, beredar, dan dipahami. Terjadi hubungan timbal balik: aktivitas ruang fisik dibawa ke ruang digital, sementara tren digital kembali memengaruhi perilaku di ruang fisik.
Perhatian atau atensi menjadi komoditas penting dalam kehidupan digital. Konten yang menarik perhatian lebih mudah beredar luas, popularitas terbentuk, dan peluang ekonomi terbuka lebar. Fenomena ini berkaitan erat dengan kuasa digital yang bekerja melalui mekanisme hegemoni. Meminjam pemikiran Antonio Gramsci, selera dan pandangan sosial tidak selalu dibentuk melalui paksaan. Sesuatu menjadi dominan karena terus-menerus hadir dan diterima hingga dianggap biasa. Di ruang digital, proses ini berjalan sangat cepat. Apa yang berulang kali muncul terasa lebih penting dan relevan. Namun, di tengah semua perubahan digital tersebut, skena tetap memiliki sisi paling sederhana: ruang bagi manusia yang ingin bertemu dengan manusia lain secara nyata.
Skena perlu dilihat sebagai bentuk kehidupan sosial yang sedang menemukan ruang baru di era modern. Ia tumbuh dari pergaulan, kreativitas, dan ekspresi, lalu bergerak dinamis mengikuti perkembangan teknologi. Kopi, musik, pakaian, dan kritik adalah bahasa ekspresi, sementara dunia digital memperluas jangkauan maknanya. Perubahan teknologi pada akhirnya bukan hanya tentang kecanggihan perangkat, melainkan tentang bagaimana manusia membangun pergaulan, menampilkan diri, menyampaikan gagasan, dan membentuk makna bersama. Skena pun terus bergerak dari meja kopi ke layar gawai, membawa ekspresi harian menuju percakapan publik yang jauh lebih luas. (*)
Editor : Ali Sodiqin