Flu Kembali Merebak, Mengapa Masih Kita Anggap Remeh?

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 00:00 WIB
Oleh: Ns Lasiono, SKep, MKep. Dosen Universitas Dr Soekardjo (UNIDSOE)
Oleh: Ns Lasiono, SKep, MKep. Dosen Universitas Dr Soekardjo (UNIDSOE)

RADAR BANYUWANGI - Flu kembali menjadi keluhan yang cukup sering kita jumpai.

Batuk, pilek, demam, sakit tenggorokan, hingga tubuh terasa lemas mulai dirasakan oleh orang-orang disekitar kita.

Aktivitas masyarakat tetap berjalan seperti biasa, tetapi ada satu kebiasaan yang juga masih sama, yakni ketika sakit, kita sering menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa dan tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

Pertanyaannya, mengapa kita masih menganggap flu sebagai penyakit yang sepele?

Influenza memang sering kali dapat sembuh dengan sendirinya.

Namun, bukan berarti penyakit ini selalu tanpa risiko.

World Health Organization (WHO) memperkirakan sekitar satu miliar kasus influenza musiman terjadi setiap tahun di dunia.

Dari jumlah tersebut, sekitar 3–5 juta mengalami penyakit berat dan 290.000 – 650.000 orang meninggal setiap tahun akibat gangguan pernapasan yang berkaitan dengan influenza.

Data ini menunjukkan bahwa flu memang umum terjadi, tetapi tidak selalu tanpa konsekuensi.

Di Indonesia, influenza dan penyakit pernapasan terus dipantau melalui sistem surveilans Kementerian Kesehatan.

Pemantauan tersebut penting untuk melihat perkembangan penyakit dan mendeteksi perubahan situasi sedini mungkin, termasuk di wilayah Kabupaten Banyuwangi.

Karena itu, meningkatnya keluhan flu di lingkungan masyarakat Banyuwangi seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan kewaspadaan, bukan justru menunggu sampai kondisi menjadi lebih serius. 

Masalahnya bukan hanya pada penyakitnya, tetapi juga pada perilaku kita ketika sakit.

Masih banyak orang yang tetap masuk kerja, kuliah, sekolah, atau menghadiri kegiatan meskipun sedang demam dan batuk.

Padahal, keputusan untuk tetap beraktivitas ketika sakit tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga meningkatkan peluang orang lain tertular.

Maka dari itu, perlu ada tindakan yang dilakukan dalam merubah cara pandang terhadap sakit, misalnya ketika flu.

Beristirahat ketika sakit bukan berarti tidak produktif.

Justru, beristirahat merupakan bentuk tanggung jawab untuk mempercepat pemulihan sekaligus melindungi orang di sekitar.

Jika harus berada di ruang publik ketika mengalami gejala pernapasan, penggunaan masker dapat menjadi bentuk kepedulian sederhana.

Etika batuk dan bersin, mencuci tangan, tidak berbagi peralatan makan dan minum, serta menjaga sirkulasi udara di ruang tertutup juga perlu kembali menjadi kebiasaan.

Kita juga perlu berhenti menganggap antibiotik sebagai “obat flu”.

Influenza disebabkan oleh virus, sehingga antibiotik tidak digunakan untuk mengobatinya.

Penggunaan antibiotik tanpa indikasi justru dapat berkontribusi terhadap resistensi antimikroba.

Pengobatan sebaiknya dilakukan berdasarkan kondisi dan anjuran tenaga kesehatan.

Kewaspadaan juga diperlukan ketika gejala menjadi berat.

Sesak napas, kelemahan berat, penurunan kesadaran, atau kondisi yang tidak kunjung membaik merupakan tanda untuk segera mendapatkan pemeriksaan.

Lansia, anak kecil, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis atau gangguan kekebalan tubuh juga perlu mendapatkan perhatian lebih karena memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi.

Upaya preventif perlu diarahkan pada penguatan daya tahan tubuh melalui pola hidup sehat, seperti tidur yang cukup, konsumsi makanan bergizi, aktivitas fisik, dan menjaga kondisi tubuh tetap optimal.

Di tingkat masyarakat, penting pula membangun kesadaran untuk mengenali gejala sejak dini dan segera mencari pertolongan apabila kondisi memburuk.

Langkah pencegahan akan lebih efektif apabila didukung edukasi kesehatan yang konsisten serta cek kesehatan secara berkala sehingga masyarakat mampu mengambil keputusan yang tepat sebelum penyakit berkembang dan menular lebih luas.

Flu mungkin terlihat sederhana.

Namun, cara kita menyikapinya menunjukkan seberapa jauh kita memahami kesehatan sebagai tanggung jawab bersama.

Pemerintah perlu memperkuat surveilans dan edukasi, fasilitas kesehatan harus siap, sementara sekolah, kampus, dan tempat kerja perlu memberikan ruang bagi orang yang sakit untuk beristirahat.

Dan masyarakat dapat memulainya dari diri sendiri dengan cara jangan memaksakan diri ketika sakit, gunakan masker ketika bergejala, jaga kebersihan dan ventilasi, gunakan obat secara bijak, serta pastikan informasi kesehatan yang kita sebarkan benar.

Jangan menunggu flu menjadi masalah besar untuk mulai peduli.

Jika kali ini flu kembali hadir, biarlah yang berubah bukan hanya jumlah orang yang sakit, tetapi juga kesadaran kita untuk mencegah penularan.

Karena masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang tidak pernah sakit, melainkan masyarakat yang tahu bagaimana menjaga diri dan melindungi sesamanya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
flu Banyuwangi pencegahan flu penyakit pernapasan influenza kesehatan masyarakat