Anak Skena, Etika Literasi, dan Politik Citra

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 04:00 WIB
Oleh: Alda Syafira MPd, Dosen/ Dekan FTIK UI CORDOBA & Koordinator Bidang Kajian dan Riset Lakpesdam PCNU Banyuwangi
Oleh: Alda Syafira MPd, Dosen/ Dekan FTIK UI CORDOBA & Koordinator Bidang Kajian dan Riset Lakpesdam PCNU Banyuwangi

RADAR BANYUWANGI - Belakangan ini, tempat nongkrong anak muda urban, riuh membahas dinamika politik nasional. Di meja-meja kedai kopi berkopi susu gula aren, narasi kritis bertebaran. Anak skena kerap mencitrakan diri sebagai kelompok paling literate, politically-aware, dan anti-mainstream. Namun, ada satu catatan kecil yang patut kita cermati bersama yakni cara respons mereka sering kali berhenti di tataran cynicism dangkal seperti sekadar bikin meme, lempar sindiran sarkas di media sosial, lalu tertawa bersama.

Nyinyir itu wajar, tetapi daya kritis anak muda tidak boleh stuck di situ. Ketika panggung literasi dan keagamaan kita sedang dibajak secara ugal-ugalan oleh kalkulasi kekuasaan, energi besar anak muda ini justru sangat dibutuhkan untuk membongkar realitas secara lebih presisi.

Salah satu hal yang baru-baru ini menyita perhatian publik adalah polemik penerbitan buku berjudul Islam ala Prabowo. Fenomena ini bukan sekadar urusan propaganda politik biasa, melainkan panggung terbuka yang menelanjangi retaknya etika literasi dan mewabahnya politik citra (image-building) di negeri ini.

Sebagai akademisi, saya melihat ada dua dimensi mendasar yang sangat krusial untuk dibedah bersama, yakni:

Pembajakan Sanad dan Kejahatan Akademik

Pertama, terkait etika literasi yang cacat sejak dari kandungan. Dalam tradisi akademik maupun Islamic Studies, aspek kepengarangan, kejujuran metode, dan kejelasan atribusi adalah hukum yang mutlak. Ulama besar Abdullah bin al-Mubarok pernah menggariskan sebuah diktum fundamental: "Al-Isnad minad-din" maksudnya, sanad itu bagian dari agama. Tanpa kejelasan sanad dan metodologi, siapa saja bisa mengklaim apa saja atas nama agama demi kepentingan pragmatis.

Buku tersebut memperlihatkan praktik literasi yang ngawur dan nihil etika. Penulisnya abu-abu, lalu ada dugaan pencatutan nama ulama dan tokoh kultural tanpa klarifikasi atau izin yang sah. Sejumlah figur yang namanya dipasang belakangan memberi klarifikasi bahwa mereka sekadar diwawancarai, bukan menyusun gagasan buku tersebut. Ini bukan cuma kecerobohan etis, melainkan bentuk kejahatan akademik dan penyesatan publik (public deception).

Bila kita kaji lagi, terdapat rekayasa pengetahuan yang diproduksi secara manipulatif oleh oligarki demi melegitimasi kekuasaan. Buku tidak lagi ditulis untuk mencari kebenaran ilmiah, melainkan dikomodifikasi menjadi tool pemoles citra.

Menelanjangi Politik Citra

Kedua, fenomena ini menelanjangi betapa pekatnya politik citra yang memanfaatkan simbol-simbol keagamaan. Yang paling memprihatinkan bukan cuma ambisi politisnya, melainkan bagaimana instrumen dan elit keagamaan termasuk oknum-oknum di lembaga sosial-keagamaan terkesan makin lincah pasang badan ke arah kekuasaan.

Lembaga yang seharusnya berfungsi sebagai pengawal etika publik (moral force) dan benteng keadilan sosial, malah sukarela merendahkan diri menjadi stempel legitimasi politisi. Filsuf Jean Baudrillard menyebut situasi ini sebagai simulacra yakni sebuah kondisi di mana keagamaan yang ditampilkan ke publik sejatinya sudah kehilangan substansi aslinya dan berganti menjadi komoditas estetika politik semata. Narasi Islam disempitkan sekadar untuk pameran loyalitas elitis, sembari mengabaikan isu-isu substantif dan nasib masyarakat kelas bawah, seperti kaum yang sehari-hari berjuang menyambung hidup di tengah himpitan ekonomi.

Anak muda memiliki potensi luar biasa untuk menjadi "agent of change." Kejelian, kreativitas, dan daya jangkau informasi yang dimiliki generasi digital native ini adalah modal sosial (social capital) yang sangat mahal jika hanya dihabiskan untuk sekadar doomscrolling atau nyinyir tanpa arah.

Menjadi progresif berarti berani membaca realitas secara utuh dan berpijak di bumi. Ketika elit keagamaan sibuk memproduksi legitimasi palsu demi merapat ke kekuasaan, anak muda tidak boleh diam atau sekadar menjadi penonton di pinggir lapangan. Anak muda harus upgrade diri dengan mengasah nalar kritis berbasis data, memperdalam literasi, dan berani pasang badan membela etika publik dari pembodohan massal.

Pendidikan keagamaan dan kebangsaan kita harus dikembalikan pada prinsip dasar kejujuran (ash-shidq). Sudah saatnya potensi besar anak muda dialihkan untuk mengawal nilai-nilai kejujuran ini, membongkar gimmick politik yang membodohi, dan membawa diskursus publik kita ke arah yang jauh lebih beradab dan bermartabat.

Perlawanan anak muda tidak boleh berhenti jadi sekadar estetika atau kaus bergambar revolusi. Ketika kebohongan dibungkus rapi menjadi literatur, tugas kita adalah merobek topengnya, lalu mengembalikan akal sehat ke ruang publik. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Anak skena Literasi Etika Politik