Tol Banyuwangi–Wongsorejo: Membuka Jalan di Tengah Kemacetan yang Berulang

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 13:08 WIB
Oleh: Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi
Oleh: Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

RADAR BANYUWANGI Entahlah, mungkin jari sudah terlalu lelah menghitung berapa kali kemacetan terjadi di wilayah Ketapang hingga ke utara, sementara persoalan itu terus berulang seperti cerita lama yang tak kunjung menemukan halaman terakhir. Watu Dodol yang dahulu berdiri di tepi jalan, kini seolah berada di tengah jalan; bukan batunya yang dipindahkan atau diindahkan, melainkan jalan baru justru dibangun di sebelah timurnya, membuat yang dahulu menjadi penanda perjalanan kini terasa seperti saksi yang dikepung arus kendaraan. Di antara deru mesin, antrean panjang, dan keluhan yang mengendap dari hari ke hari, kemacetan kembali menjadi percakapan yang dibicarakan, dikeluhkan, lalu perlahan dilupakan.

Kemacetan di kawasan Ketapang bukan semata persoalan di pintu Pelabuhan Ketapang. Jauh sebelum kendaraan memasuki pelabuhan, antrean sudah mengular, mengubah perjalanan singkat menjadi panjang. Waktu habis di jalan, sementara jumlah kendaraan terus bertambah dan jalur yang tersedia tetap terbatas. Jalan Lingkar Ketapang memang sedikit membantu, tetapi belum menjadi jawaban menyeluruh. Ketika penyeberangan Ketapang–Gilimanuk menghadapi cuaca buruk, keterbatasan kapal, atau lonjakan kendaraan, kemacetan kembali menjalar ke jalan raya. Di sinilah persoalan klasik Banyuwangi menemukan akarnya: jalur utama nasional menjadi satu-satunya urat nadi pergerakan kendaraan menuju ujung timur Jawa. Ketika urat itu tersumbat, pilihan jalan keluar pun terbatas. Maka, mengapa tidak mulai memikirkan Tol Banyuwangi–Wongsorejo?, mengapa tidak dimulai dari titik yang paling membutuhkan?

Jalur Banyuwangi–Wongsorejo dapat menjadi pilihan strategis untuk mengurai kepadatan kendaraan yang selama ini bertumpu pada jalur nasional, terutama ketika antrean mengular menuju Pelabuhan Ketapang. Jika kelak Tol Probolinggo–Banyuwangi tersambung hingga ujung timur Jawa, jalur ini dapat menjadi bagian dari jaringan yang lebih besar. Memang, membangun jalan tol di ujung timur bukan perkara ringan. Kontur wilayah, pembebasan lahan, biaya, dan lingkungan membutuhkan kajian matang. Namun pembangunan selalu bermula dari keberanian membaca kebutuhan sebelum berubah menjadi krisis. Sebelum terlalu jauh membayangkan jembatan yang menghubungkan Jawa dan Bali, mungkin ada jalan yang lebih dekat yang perlu dibuka: jalan di tanah Banyuwangi sendiri.

Menambah armada kapal penyeberangan memang penting, tetapi jumlah kapal bukanlah satu-satunya jawaban atas panjangnya antrean di ujung Jawa. Ketika cuaca buruk menggulung Selat Bali dan laut sedang menunjukkan wataknya yang tak mudah ditebak, sebanyak apa pun kapal yang disiapkan tidak serta-merta mampu menjinakkan antrean. Begitu pula gagasan tentang jembatan Jawa–Bali. Ia bukan sekadar perkara menyambungkan dua daratan dengan beton dan baja, sebab di antara keduanya terbentang laut dengan kedalaman, arus, ekologi, serta karakter geografis yang tidak sederhana. Ada pula kebudayaan dan ingatan panjang yang hidup di kedua pulau. Dalam legenda Bali, sebagaimana dikisahkan dalam Usana Bali dan Babad Manik Angkeran, Selat Bali bahkan dipercaya lahir dari goresan tongkat sakti Mpu Siddhimantra, ketika ia membelah tanah untuk memisahkan Jawa dan Bali. Sebuah kisah lama yang barangkali mengingatkan kita bahwa laut di antara dua pulau ini bukan sekadar ruang kosong yang menunggu untuk dijembatani, melainkan ruang yang menyimpan alam, sejarah, mitologi, dan kehidupan.

Kemacetan dari Ketapang hingga ke utara bukan sekadar deretan kendaraan yang kehilangan gerak, tetapi tanda perlunya solusi transportasi yang lebih menyeluruh. Karena itu, rencana Tol Probolinggo–Banyuwangi (Probowangi) hingga Ketapang penting sebagai upaya membuka jalur alternatif bagi Banyuwangi yang selama ini bertumpu pada satu urat lalu lintas. Ruas Kalipuro–Wongsorejo dapat menjadi pilihan kendaraan menuju utara tanpa harus masuk ke simpul Pelabuhan Ketapang, sekaligus membagi beban arus lalu lintas. Perjalanan pun dapat menyusuri perkebunan Selogiri dengan hamparan hijau dan perbukitan yang menjadi wajah Banyuwangi. Sebab jalan bukan hanya tempat roda berputar, tetapi juga waktu yang diselamatkan, jarak yang dipendekkan, ekonomi yang digerakkan, dan pilihan yang dibuka. Jalan keluar tidak selalu harus berupa pembangunan yang jauh dan megah; terkadang, ia justru dimulai dari keberanian membuka jalan baru di halaman sendiri sebelum membayangkan jembatan yang menyeberangkan dua pulau.

Banyuwangi berada di ujung timur Pulau Jawa, tempat matahari menyapa lebih dahulu sebelum cahayanya menjalar ke wilayah lain. Jangan sampai karena berada di ujung, pembangunan justru selalu datang paling akhir. Pemerintah barangkali perlu menghitung bukan hanya panjang jalan yang akan dibangun, tetapi juga panjang waktu yang hilang di tengah kemacetan dan kesempatan yang tertahan di belakang deretan kendaraan. Jika pagi pertama matahari menyentuh Banyuwangi, mungkin sudah saatnya langkah pertama pembangunan dimulai dari sini. Dari ujung timur yang selama ini dianggap jauh, semoga lahir jalan baru yang bukan sekadar menghubungkan tempat, tetapi membuka jalan menuju masa depan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
jalan tol macet Ketapang wongsorejo banyuwangi