RADAR BANYUWANGI - Setiap kali Maulid Nabi Muhammad SAW tiba, umat Islam kembali menghidupkan ingatan tentang sosok yang membawa perubahan besar dalam sejarah manusia. Shalawat dilantunkan, pengajian digelar, dan kisah perjuangan Rasulullah SAW disampaikan dari masjid hingga musala.
Namun, ada pertanyaan yang mungkin lebih penting daripada sekadar merayakan Maulid: jika Nabi Muhammad SAW hadir di tengah Indonesia hari ini, apa yang pertama kali akan beliau lihat?
Pertanyaan tersebut bukan untuk berandai-andai tentang kehadiran Nabi secara fisik. Ia adalah cara reflektif untuk mengukur kehidupan kita dengan nilai-nilai kenabian.
Indonesia hari ini bukan negeri yang tanpa kemajuan. Infrastruktur berkembang, teknologi semakin canggih, dan ruang digital memungkinkan manusia terhubung tanpa batas. Tetapi di balik kemajuan itu, kita masih berhadapan dengan persoalan kemiskinan, kesenjangan, korupsi, konflik sosial, ujaran kebencian, intoleransi, serta krisis kepercayaan terhadap berbagai institusi.
Di sinilah Maulid Nabi menemukan relevansinya. Maulid bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap tahun. Ia seharusnya menjadi momentum untuk bertanya apakah nilai-nilai yang dibawa Rasulullah masih hidup dalam perilaku kita.
Membela Manusia
Nabi Muhammad SAW datang bukan hanya membawa ajaran tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Risalahnya juga mengandung misi kemanusiaan. Al-Qur'an menggambarkan Nabi sebagai rahmat bagi semesta alam (QS Al-Anbiya: 107).
Rahmat itu mestinya terlihat dalam kehidupan sosial. Yang kuat tidak menindas yang lemah. Yang kaya tidak menutup mata terhadap kemiskinan. Yang berkuasa tidak menggunakan kekuasaan untuk kepentingan diri sendiri. Perbedaan tidak menjadi alasan untuk saling merendahkan.
Dalam konteks inilah pemikiran Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi penting. Dalam Islamku, Islam Anda, Islam Kita (2006), Gus Dur menempatkan kemanusiaan, keadilan, kebebasan, dan kehidupan demokratis sebagai bagian penting dari keberislaman. Islam tidak seharusnya dipakai untuk memaksakan kehendak, melainkan menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan bersama.
Gus Dur juga dikenal dengan gagasan bahwa yang perlu dibela bukanlah Tuhan, melainkan manusia yang mengalami ketidakadilan dan penindasan. Perspektif ini menggeser orientasi keberagamaan dari sekadar mempertahankan simbol menuju keberanian membela mereka yang menjadi korban.
Jika demikian, Maulid Nabi seharusnya membuat kita bertanya: siapa manusia yang hari ini membutuhkan pembelaan kita?
Dari Seremoni ke Aksi
Pertanyaan itu penting karena keberagamaan kita terkadang terlalu mudah berhenti pada seremoni.
Kita bisa sangat meriah memperingati Maulid, tetapi pada saat yang sama masih mudah menyebarkan kebencian di media sosial. Kita bisa berbicara panjang tentang akhlak Nabi, tetapi masih sulit berlaku jujur ketika berhadapan dengan kepentingan pribadi. Kita bisa mengagungkan kesederhanaan Rasulullah, tetapi tidak selalu peka terhadap tetangga yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.
Padahal, inti keteladanan Nabi justru berada dalam kehidupan sehari-hari. Nabi mengajarkan kejujuran, amanah, kasih sayang, keadilan dan penghormatan terhadap manusia. Karena itu, mencintai Nabi tidak cukup hanya dengan memperbanyak shalawat. Cinta kepada Nabi harus menemukan bentuk sosialnya.
Di sinilah gagasan Gus Dur tentang Islam yang membumi menemukan relevansinya. Islam tidak cukup hanya menjadi identitas pribadi, tetapi harus memberi manfaat bagi kehidupan bersama. Buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita menunjukkan bagaimana Gus Dur menghubungkan keberislaman dengan persoalan kebangsaan, demokrasi, pluralisme, dan kemanusiaan.
Maka, jika Nabi hadir di Indonesia hari ini, barangkali yang akan diuji bukan seberapa meriah kita merayakan Maulid. Yang diuji adalah apakah kehadiran agama benar-benar membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih adil dan manusiawi.
Indonesia yang Berakhlak
Kita membutuhkan akhlak bukan hanya di ruang pengajian, tetapi juga di ruang publik. Pejabat membutuhkan akhlak agar kekuasaan dipahami sebagai amanah. Pengusaha membutuhkan akhlak agar keuntungan tidak dibangun di atas penderitaan orang lain. Pengguna media sosial membutuhkan akhlak agar kebebasan berbicara tidak berubah menjadi penghinaan.
Bahkan orang biasa pun membutuhkan akhlak: untuk tidak mengambil hak orang lain, tidak menyebarkan fitnah, dan tetap membantu sesama ketika dirinya sendiri sedang menghadapi kesulitan.
Sebab krisis bangsa tidak selalu bermula dari buruknya aturan. Ia bisa bermula dari hilangnya rasa malu ketika melakukan kesalahan dan hilangnya empati ketika melihat penderitaan. Karena itu, Maulid Nabi mestinya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali akhlak publik.
Gus Dur telah menunjukkan bahwa keberagamaan yang matang bukanlah keberagamaan yang sibuk menghakimi manusia lain, melainkan keberagamaan yang mampu menghadirkan keadilan, kemanusiaan, dan kedamaian. Pemikiran tersebut sejalan dengan gagasan Islam Kita: mencari titik temu untuk kepentingan bersama tanpa memaksakan tafsir keagamaan kepada orang lain.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan “Jika Nabi hadir di tengah Indonesia hari ini?” tidak perlu dijawab dengan membayangkan apa yang akan beliau katakan. Cukuplah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah Indonesia yang kita bangun hari ini sudah mencerminkan nilai-nilai yang dibawa Nabi Muhammad SAW? Jika jawabannya belum, Maulid adalah kesempatan untuk memperbaikinya.
Sebab mencintai Nabi bukan hanya mengingat kelahirannya. Mencintai Nabi berarti menghadirkan akhlaknya dalam kehidupan.
Dan ketika Indonesia sedang menghadapi berbagai kesulitan, mungkin jalan keluarnya bukan sekadar menambah perayaan keagamaan, melainkan menghadirkan kembali kejujuran, keadilan, kasih sayang, dan keberanian membela manusia.
Itulah Maulid yang tidak berhenti di mimbar, tetapi bergerak menjadi perubahan.
Editor : Ali Sodiqin