RADAR BANYUWANGI - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW memberi kita waktu untuk mengingat kembali teladan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, dalam kebiasaan yang tampak sederhana. Salah satunya adalah cara berbahasa dan berbicara. Nabi Muhammad SAW menempatkan ucapan sebagai bagian dari akhlak. Perkataan tidak sekadar alat menyampaikan maksud, tetapi juga mencerminkan cara seseorang menghargai orang lain. Manusia diarahkan untuk berkata benar dalam ajaran Islam, memilih kata yang baik, dan menghindari ucapan yang dapat melukai. Nilai ini terasa sangat relevan ketika dibawa ke lingkungan kampus.
Kampus adalah tempat bertemunya banyak orang, segala aktivitas berbau akademik terjalin di sana. Ada mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, pimpinan, dan berbagai unsur lain yang setiap hari berkomunikasi. Interaksi itu terjadi di ruang kelas, ruang dosen, ruang rapat, fakultas, kantin, maupun melalui ruang online dalam pesan singkat dan grup WhatsApp.
Di ruang-ruang semacam itulah etika berbahasa sebenarnya akan lebih teruji dan terasah kedalamannya. Mahasiswa, misalnya, perlu belajar bahwa komunikasi dengan dosen tidak sama dengan percakapan bersama teman sebaya. Bukan karena dosen harus ditempatkan secara berlebihan, tetapi karena setiap hubungan sosial memiliki etika komunikasi.
Pesan singkat kepada dosen sebaiknya tetap memperhatikan salam, identitas, tujuan, dan pilihan kata. Tidak perlu terlalu formal, tetapi cukup menunjukkan bahwa pengirim memahami dengan siapa ia sedang berbicara. Hal yang sama berlaku sebaliknya. Dosen juga perlu menjaga cara berkomunikasi dengan mahasiswa. Posisi akademik tidak seharusnya membuat bahasa menjadi kasar atau merendahkan.
Teguran tetap dapat diberikan dengan tegas tanpa membuat mahasiswa kehilangan harga diri. Dalam proses pendidikan dan pengajaran, kata-kata dosen mempunyai pengaruh yang cukup besar. Mahasiswa mungkin lupa sebagian materi kuliah setelah beberapa tahun, tetapi mereka sering mengingat bagaimana seorang dosen pernah memperlakukan mereka. Sebab, pendidikan tidak hanya berlangsung melalui materi yang disampaikan di kelas. Pendidikan juga hadir melalui cara seorang dosen menjawab pertanyaan, menegur kesalahan, memberi kritik, dan merespons mahasiswa yang sedang mengalami kesulitan.
Dan, jangan dilupakan hubungan antardosen pun tidak terlepas dari persoalan kebahasaan dan kesantuan. Lingkungan akademik layaknya di kampus memang terkadang menjadi ladang perbedaan pendapat. Namun, perbedaan ini diperlukan agar diskusi berkembang. Tapi, ya, perbedaan ini tidak harus disertai kalimat sindiran, kalimat merendahkan, atau kalimat-kalimat yang membuat orang lain merasa tidak dihargai atau dilecehkan.
Budaya akademik yang sehat justru terlihat dari kemampuan seseorang mempertahankan pendapat tanpa kehilangan kesantunan. Maka, meneladani sikap-sikap Nabi Muhammad SAW menjadi penting. Beliau menunjukkan bahwa ketegasan tidak harus disampaikan dengan kekerasan bahasa. Seseorang tetap dapat menyampaikan keberatan, koreksi, atau ketidaksetujuan sambil menjaga martabat orang lain, tidak harus berteriak, melempar buku, atau membanting pintu.
Begitu juga tenaga kependidikan juga memiliki posisi yang sangat penting dalam budaya berbahasa di kampus. Mereka adalah pihak yang banyak berhadapan langsung dengan mahasiswa dalam urusan administrasi, keuangan, surat-menyurat, akademik, perpustakaan, hingga berbagai pelayanan lainnya.
Wajah kampus sering kali justru dirasakan mahasiswa melalui meja pelayanan. Kalimat sederhana seperti “silakan dilengkapi terlebih dahulu, setelah itu akan kami proses” tentu memberi kesan yang berbeda dibanding jawaban yang terkesan membentak atau menyalahkan. Pelayanan memang membutuhkan aturan. Tetapi aturan tetap dapat disampaikan dengan bahasa yang baik dan santun. Ada hubungan yang tidak terlihat “kita membutuhkan mahasiswa, mahasiswa membutuhkan kita”. Dengan meyakini bahwa ini “hubungan yang baik”, tentunya akan diiringi dan diikuti dengan kata-kata yang baik dan sopan dalam memberikan pelayanan maksimal.
Percakapan secara online juga menjadi persoalan yang penting di saat ini. Percakapan di kampus tidak hanya terjadi secara langsung, kita mengistilahkannya komunikasi digital, yang melipat jarak dan waktu.
Banyak sekali urusan selesai hanya melalui WhatsApp. Perpanjangan peminjaman buku, pengiriman tugas-tugas kuliah, pembayaran UKT, dll. Kadang dalam ruang digital ini muncul salah paham karena pesan tertulis tidak memiliki intonasi dan ekspresi. Satu kalimat yang dianggap biasa oleh pengirim bisa diterima berbeda oleh pembacanya.
Kebiasaan membaca kembali pesan sebelum dikirim mungkin terdengar sepele, tetapi sangat penting. Apakah kalimat tersebut sudah jelas, apakah nadanya tepat, dan apakah ada pilihan kata yang lebih baik.
Semangat Maulid Nabi seharusnya dapat masuk ke hal-hal yang sering dianggap remeh seperti ini. Peringatan kelahiran Rasulullah bukan hanya menjadi agenda tahunan milik pengajian-pengajian bapak ibu di desa, bukan juga milik remaja masjid di kecamatan, tidak hanya juga milik kepanitiaan hari-hari besar Islam di kabupaten. Tapi milik semua umat manusia, yang bisa merasakan nilai-nilai keteladanan nabi. Kedekatan kita dan nabi akan jauh lebih terasa ketika teladannya hadir dalam kebiasaan sehari-hari.
Dalam keseharian di dunia kampus, salah satu bentuk paling sederhana adalah membangun budaya komunikasi yang santun. Mahasiswa belajar menghormati dosen. Dosen belajar menghargai mahasiswa. Sesama dosen menjaga etika dalam perbedaan. Tenaga kependidikan melayani dengan bahasa yang manusiawi. Dan, semua itu sebenarnya merupakan bagian dari proses pendidikan.
Kampus bukan hanya tempat mentransfer ilmu. Kampus juga memiliki tanggung jawab membentuk manusia yang utuh. Manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, etika, dan kemampuan hidup bersama orang lain. Kan, lulusan perguruan tinggi akan kembali ke masyarakat. Mereka akan bekerja, memimpin, melayani, berorganisasi, dan berhadapan dengan banyak karakter manusia.
Kemampuan berkomunikasi dengan baik akan menjadi bagian penting dari kehidupan mereka. Kesantunan berbahasa di kampus tidak boleh dianggap sebagai urusan yang kecil, karena bagian dari pembentukan karakter akademik. Maulid Nabi Muhammad SAW memberi pengingat bahwa akhlak tidak selalu hadir dalam tindakan besar dan terlihat orang lain.
Akhlaq kita sebagai manusia seutuhnya bisa terlihat dari santunnya menjawab pesan wa, memberi teguran, menyampaikan kritik, atau memilih kata yang tepat dalam rapat. Sehingga, sekali lagi, penekannya adalah dari pelajaran-pelajaran berkomunikasi dan berbahasa di kampus tersebut, kesantuan itu harus dibudayakan, dilestarikan dan dipraktikkan.
Di titik inilah teladan Nabi Muhammad SAW menjadi penting untuk terus dibiasakan tidak hanya diteladani dalam peringatan dan pengajian semata. Ilmu memang membentuk cara seseorang memahami dunia, tetapi kesantuan dalam berbahasa serta akhlak yang mulia di dalam dirinya menunjukkan bagaimana ia memilih memperlakukan sesama. (*)
Editor : Ali Sodiqin