Merdeka dari Pinggiran

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 09:00 WIB
Oleh: Moh Nur Fauzi, Dosen Studi Islam dan Filsafat Ilmu Fakultas Ushuluddin dan Syariah Universitas KH. Mukhtar Syafaat Banyuwangi
Oleh: Moh Nur Fauzi, Dosen Studi Islam dan Filsafat Ilmu Fakultas Ushuluddin dan Syariah Universitas KH. Mukhtar Syafaat Banyuwangi

RADAR BANYUWANGI - Setiap Agustus, merah putih kembali memenuhi ruang kehidupan kita. Bendera berkibar di depan rumah, jalan dihiasi umbul-umbul, berbagai perlombaan digelar, dan lagu-lagu perjuangan kembali terdengar. Semua menjadi ekspresi kegembiraan atas kemerdekaan yang telah kita nikmati selama 81 tahun.

Namun, pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026, ada pertanyaan yang patut diajukan: apakah kemerdekaan cukup dirayakan, atau harus terus diperjuangkan? Sebab kemerdekaan tidak berhenti pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan adalah proses panjang untuk memastikan setiap warga memiliki ruang untuk hidup layak, berpikir bebas, menyampaikan pendapat, memperoleh kesempatan, dan menentukan masa depannya. Dalam konteks itulah, kemerdekaan tidak harus selalu dimulai dari pusat kekuasaan. Ia bisa dimulai dari pinggiran. Dari desa. Dari ruang kelas. Dari kampus. Bahkan dari sebuah tulisan. Satu opini mahasiswa yang menyuarakan kondisi masyarakat pun dapat menjadi bagian dari perjuangan mengisi kemerdekaan.

Menulis dan Kemerdekaan

Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan, “Menulislah sedari SD, apa pun yang ditulis sedari SD pasti jadi.” Kalimat ini menunjukkan bahwa menulis membutuhkan keberanian sekaligus proses. Menulis bukan hanya merangkai kata, melainkan cara merekam kehidupan, menyampaikan kegelisahan, menyimpan gagasan, dan mempertahankan suara agar tidak hilang. Bagi mahasiswa, menulis seharusnya tidak hanya menjadi tugas akademik. Menulis dapat menjadi bentuk keberpihakan kepada masyarakat.

Ketika mahasiswa menulis tentang petani yang kesulitan memperoleh harga layak, nelayan yang menghadapi ketidakpastian penghasilan, pelaku UMKM yang berjuang mempertahankan usaha, atau anak muda yang kesulitan memperoleh pekerjaan, ia sedang membawa persoalan masyarakat ke ruang publik. Di situlah tulisan memiliki fungsi sosial.

Mahasiswa Universitas KH. Mukhtar Syafaat (UIMSYA) memiliki ruang strategis untuk menjadikan kampus bukan sekadar tempat memperoleh gelar, tetapi juga ruang membaca realitas sosial. Keresahan masyarakat harus didengar, persoalan sosial dikaji, dan gagasan perbaikannya berani disuarakan. Sebab masyarakat tidak hanya membutuhkan mahasiswa yang mampu menjawab soal di ruang kelas. Masyarakat membutuhkan mahasiswa yang berani bertanya: mengapa persoalan terjadi, siapa yang terdampak, dan apa yang dapat dilakukan?

Dari Pinggiran, Merawat Kemerdekaan

Pemikiran KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tentang kemerdekaan relevan untuk melihat persoalan tersebut. Dalam tulisannya “Kemerdekaan: Suatu Refleksi” (1991), Gus Dur memandang kemerdekaan sebagai proses perjuangan menentukan nasib sendiri, bukan keadaan yang bebas dari seluruh persoalan.

Karena itu, kemerdekaan tidak boleh dipahami hanya sebagai terbebas dari penjajahan. Kemiskinan, ketimpangan, keterbatasan akses pendidikan dan ekonomi, serta kesewenang-wenangan kekuasaan juga menjadi persoalan yang harus terus dihadapi.

Banyuwangi memiliki begitu banyak wajah yang merepresentasikan persoalan tersebut. Di sawah ada petani yang bekerja keras menghadapi ketidakpastian harga. Di pesisir ada nelayan yang menggantungkan kehidupan pada laut. Di pasar ada pedagang kecil yang mempertahankan ekonomi keluarga. Di desa-desa ada anak muda yang memiliki kreativitas, tetapi masih membutuhkan ruang untuk berkembang. Semua itu adalah wajah kemerdekaan.

Maka, ketika mahasiswa Banyuwangi menulis tentang kondisi masyarakat di sekitarnya, ia sesungguhnya sedang memberi ruang kepada suara yang mungkin selama ini tidak terdengar. Pinggiran bukan kelas kedua. Desa bukan halaman belakang kota. Daerah bukan sekadar penerima kebijakan dari pusat. Justru dari pinggiran kita dapat mengukur apakah kemerdekaan benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi boleh meningkat, infrastruktur terus dibangun, tetapi ukuran paling dekat dengan rakyat. Apakah petani semakin sejahtera? Apakah nelayan semakin berdaya? Apakah UMKM semakin kuat? Apakah anak muda memiliki masa depan? Apakah masyarakat bebas menyampaikan pendapat?

Pertanyaan-pertanyaan itu layak terus diajukan. Dan mahasiswa harus berani mengajukannya. Kemerdekaan hari ini memang berbeda dengan 1945. Tantangannya bukan lagi penjajahan secara langsung, tetapi kemiskinan, kesenjangan, rendahnya literasi, disinformasi, kerusakan lingkungan, pengangguran, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Karena itu, perjuangan mahasiswa juga harus menyesuaikan zaman. Tidak selalu dengan turun ke jalan. Kadang perjuangan dimulai dengan membaca, kemudian berpikir, lalu menulis dan bersuara.

 Menulis juga membutuhkan tanggung jawab. Kritik harus berbasis pengetahuan, pendapat dibangun dengan data, dan kebebasan berbicara tetap menghormati martabat manusia. Sebab kemerdekaan tanpa tanggung jawab dapat berubah menjadi kebisingan. Sebaliknya, kebebasan yang disertai pengetahuan dapat menjadi kekuatan perubahan.

Mahasiswa UIMSYA tidak perlu menunggu menjadi pejabat atau tokoh masyarakat untuk memberikan kontribusi. Perjuangan dapat dimulai dengan membaca persoalan, melakukan penelitian, berdiskusi, turun ke desa, mendengarkan masyarakat, dan menulis. Sebuah opini mungkin tidak langsung mengubah kebijakan. Tetapi tulisan dapat membuka percakapan. Dari percakapan lahir kesadaran, dari kesadaran lahir keberanian, dan dari keberanian perubahan dapat dimulai.

Itulah sebabnya menulis bukan pekerjaan kecil. Menulis adalah salah satu cara merawat kemerdekaan. Pada akhirnya, HUT ke-81 RI bukan hanya momentum mengenang mereka yang merebut kemerdekaan. Ia juga saat untuk bertanya: apa yang sudah kita lakukan untuk mengisinya? Bagi mahasiswa, jawabannya mungkin sederhana: belajar, peduli, berpikir, berani berbeda, dan berani menulis.

Sebab dari sebuah tulisan, suara masyarakat dapat terdengar lebih jauh. Dari kampus, gagasan dapat bergerak ke ruang publik. Dari Banyuwangi, suara pinggiran dapat menyapa pusat.

Kemerdekaan bukan sesuatu yang selesai. Ia harus terus dirawat, dikritisi, dan diperjuangkan. Dan perjuangan itu bisa dimulai dari sebuah pena. (*)

Editor : Ali Sodiqin
perjuangan agustus kemerdekaan