RADAR BANYUWANGI - Sebelum menulis Lakpesdam, saya terlebih dahulu harus mengucap bismillah sampai tiga kali. Biasanya cukup bismillah satu kali, lalu tancap menulis. Tapi untuk Lakpesdam, beda. Usai menghadiri acara Ngerandu NU di Kantor MWC NU Rogojampi, saya justru semakin merasa perlu menuliskan catatan kecil ini. Pasalnya, beberapa teman sering terpleset-pleset ketika menuliskannya. Ada yang Lapesdam, Lakspedam, dan Laspekdam.
Jangan meremehkan salah ketik. Kata penyair nasional sekaligus pendiri majalah Tempo, Goenawan Mohamad, musuh utama penulis adalah salah ketik. Kalau sampai SK Purnomo salah ketik menjadi Putnomo, maka yang menjadi Ketua Lakpesdam PCNU Banyuwangi 2026-2031 bukan Purnomo, tapi Putnomo.
Itu baru penyebutan Lakpesdam. Belum lagi kepanjangan dari Lakpesdam. Ini juga yang membuat saya mesti bismillah tiga kali tadi itu. Orang menghafalkan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia yang merupakan kepanjangan dari Lakpesdam belum tentu sekali sebut langsung nyantol di kepala.
Itu baru nama dan kepanjangannya. Belum lagi tugas dan fungsi sosialnya. Para anggota Lakpesdam yang terdiri dari para dosen, penulis, dan aktivis ini akan ditempa melalui berbagai kajian serta pergulatan dengan persoalan-persoalan sosial.
Setelah dikukuhkan, salah satu program kerja yang mulai dirancang Lakpesdam PCNU Banyuwangi adalah melakukan pendataan atau profiling warga NU untuk membaca kenyataan sosial kaum Nahdliyyin secara lebih utuh, sebagai pijakan menyusun program, merumuskan kebijakan, dan menentukan arah pengabdian organisasi agar benar-benar berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat.
Di luar program kerja, ingatan saya spontan terbang pada tulisan-tulisan yang berserakan di berbagai media online, bahwa tahun 90-an awal dari diskusi dan ngobrol-ngobrol di lesehan di seputaran Malioboro Yogyakarta, kelak mereka itu ndilalah-nya menjadi orang-orang besar dan hebat di Indonesia.
Artinya, diskusi, kajian, riset, dan pembelajaran, di mana pun berlangsung—terlebih lagi di Lakpesdam—merupakan investasi intelektual jangka panjang yang kita harapkan terus tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari ikhtiar menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam proses seperti itu, yang sering lupa untuk kita sadari adalah, dari ruang-ruang kecil diskusi sederhana, sangat memungkinkan menjadi sebuah titik awal perubahan besar. Tentu saja tidak semua orang yang berbicara hari ini akan langsung dikenal publik, tidak semua yang menulis hari ini akan langsung dibaca banyak orang dan viral.
Tetapi sejarah selalu mencatat bahwa tidak ada gagasan yang benar-benar hilang selama ia dirawat dan didokumentasikan dengan baik. Di sinilah pentingnya website maupun berbagai platform media, agar setiap pemikiran tetap hidup, dapat dibaca ulang, dan dikembangkan oleh generasi berikutnya. Lakpesdam, dalam posisi ini, bukan sekadar lembaga kajian yang menghasilkan rekomendasi atau laporan data belaka.
Lakpesdam lebih merupakan ruang pembentukan mindset, di mana seseorang tidak hanya diajak untuk setuju atau tidak setuju, tetapi juga berproses secara argumentatif untuk memahami kenapa sebuah pandangan bisa lahir. Sehingga di dalam laboratorium Lakpesdam, yang ada bukan hanya soal kapasitas intelektual, tetapi juga soal kedewasaan sikap.
Sebab ilmu tanpa kebijaksanaan bisa melahirkan keangkuhan, sementara kebijaksanaan tanpa ilmu bisa kehilangan kompas atau arah. Keduanya perlu berjalan beriringan atau utuh, tidak terpenggal, separo atau sepihak. Dari situ akan muncul kedewasaan intelektual yang tidak hitam-putih, serta tidak mudah terpancing sebuah isu.
Di lingkungan NU, proses penguatan intelektual itu berdiri pada pondasi nilai-nilai ahlussunah wal jamaah yang mengajarkan keseimbangan antara dalil, akal, tradisi, dan realitas sosial. Karena itu, kajian yang dilakukan Lakpesdam bukan semata-mata untuk melahirkan orang yang pandai berargumentasi, melainkan juga pribadi yang arif dalam menyikapi perbedaan, terbuka terhadap perkembangan zaman, namun tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Barangkali inilah yang disebut proses “menjadi”. Karena yang terpenting, secara perlahan dan kontinyu adalah dapat membentuk cara seseorang memandang kompleksitas kehidupan secara utuh. Apalagi era globalisasi internet turut mempermudah kita mengakses berbagai informasi dari berbagai penjuru dunia.
Mungkin itulah sebabnya setiap gagasan perlu diterjemahkan menjadi sikap, arah kebijakan, dan langkah-langkah konkret yang memberi manfaat bagi masyarakat. Sebab, nilai sebuah pemikiran pada akhirnya tidak hanya diukur dari seberapa menarik ia diperdebatkan, melainkan juga dari seberapa jauh ia berdampak: mampu menjadi rujukan dalam membaca persoalan, menawarkan jalan keluar, dan menghadirkan kemaslahatan di tengah kehidupan sosial yang terus berubah.
Akhirul kalam, ada satu hal yang jangan sampai lupa. Sebagai lembaga yang diinisiasi oleh almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Lakpesdam jangan sampai meninggalkan tradisi berkelakar, menertawakan zaman yang kian lama kian: "Ah, gitu aja kok repot !!!". (*)
Editor : Ali Sodiqin