RADAR BANYUWANGI - Menarik untuk mendiskusikan kembali nasib petani Indonesia setelah heboh pernyataan Presiden Prabowo bahwa kini sudah banyak petani yang liburan ke luar negeri. Sebagaimana dikutip banyak media dalam pidatonya pada saat acara Puncak Perayaan Hari Koperasi Nasional ke-79 di Gelora Bung Karno Jakarta (12/7/2026) Presiden Prabowo menyampaikan yaitu: "Saya dapat laporan sekarang sudah banyak petani yang libur ke luar negeri. Tidak apa-apa, libur boleh. Kapan lagi petani libur ke luar negeri".
Banyak pihak kemudian menafsirkan maksud pernyataan tersebut dari tanggapan positif sampai dengan tanggapan yang negatif juga. Setidaknya logika umum menerjemahkan Presiden Prabowo sejatinya ingin menyampaikan bahwa dalam kurun waktu hampir dua tahun pemerintahannya ekonomi petani kini meningkat lebih baik sebagai dampak kebijakannya di bidang pertanian. Namun menggambarkan kesejahteraan petani dengan pemilihan diksi "banyak petani liburan ke luar negeri" terkesan sangat hiperbolik dan tidak representatif dengan besarnya populasi petani Indonesia.
Tingkat pendapatan atau ekonomi petani dapat dilihat dari dua indikator yang saling berhubungan yaitu Nilai Tukar Petani (NTP) dan harga komoditas pertanian. NTP merupakan indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan dan daya beli petani yang diukur dengan cara membandingkan indeks harga yang diterima (harga hasil panen yang dijual petani seperti: gabah, jagung, cabai) dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan petani (harga konsumsi rumah tangga seperti: makanan dan pakaian serta biaya produksi seperti: benih, pupuk, insektisida).
Nilai NTP sama dengan 100 artinya kondisi impas karena pendapatan dan pengeluaran petani meningkat dengan laju yang sama. NTP di bawah 100 petani mengalami defisit artinya pengeluaran meningkat lebih cepat dari penerimaan sehingga daya beli menurun. Jika NTP lebih dari 100 maka petani surplus artinya kenaikan harga hasil pertanian lebih besar dari pengeluaran sehingga daya beli dan kesejahteraan petani cenderung meningkat.
Menurut perhitungan BPS rata-rata tahunan NTP petani secara nasional terus naik dari nilai 110,72 di tahun 2023, meningkat menjadi 120,30 tahun 2024, dan 123,49 di tahun 2025. Sampai pada titik data NTP ini memang menunjukkan kondisi petani kita meningkat lebih baik dibandingkan 2 tahun sebelumnya meskipun dengan catatan bahwa NTP bukan merupakan ukuran pendapatan petani secara langsung. Petani dengan NTP tinggi belum tentu memiliki pendapatan absolut yang tinggi. NTP hanya menunjukkan bahwa kemampuan membeli barang dan jasa relatif lebih baik dibanding periode dasar atau dibanding kenaikan biaya yang ditanggung petani.
NTP naik berkaitan langsung dengan faktor harga komoditas pertanian. Kenaikan harga komoditas memang bagus bagi petani tetapi juga perlu dijaga naiknya harga barang dan jasa lainnya yang juga menjadi kebutuhan petani di samping kebutuhan pokok petani terhadap sarana produksi pertanian seperti benih, pupuk, dan insektisida untuk pengendalian hama penyakit tanaman. Kebijakan strategis pemerintah dengan menaikkan harga dasar gabah sebesar 6.500 rupiah per kilogram dan menugaskan Bulog untuk membeli gabah hasil panen petani dengan kualitas apapun (any quality) diakui mendorong bagusnya NTP petani. Hal ini karena petani kita paling banyak adalah petani pangan.
Berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2023 dari jumlah 27,8 juta rumah tangga petani lebih dari setengah atau 55,9% mengusahakan tanaman pangan yang didominasi oleh padi. Kondisi di lapangan saat panen raya pertengahan tahun 2026 ini harga gabah tembus mencapai 7.500-8.000 per kg sehingga seorang petani yang mengelola sawah luas 1 hektar dengan hasil panen 7 ton gabah dapat mengantongi uang 56 juta rupiah bruto (pendapatan kotor belum dipotong ongkos produksi).
Bagaimana kita berdiskusi renyah menghubungkan pendapatan petani mayoritas penanam padi tersebut dan liburan ke luar negeri? Tentu di awal sudah disinggung bahwa liburan ke luar negeri adalah kalimat hiperbolik dan kemungkinan bahasa itu dipilih oleh Presiden Prabowo yang ingin menyampaikan keberhasilan kebijakannya di bidang pertanian yang berdampak pada naiknya pendapatan dan NTP petani. Jika dihubungkan dengan catatan bahwa petani padi dalam satu musim dapat memperoleh "cuan" 56 juta per hektar seperti hitungan di atas, bisa saja diskusi warung kopinya kita tarik petani mampu liburan ke negeri tetangga semacam Malaysia, Singapura, atau liburan ke Thailand sambil belajar bertani buah dan beternak ayam Bangkok yang terkenal itu.
Itupun dengan digarisbawahi dan huruf tebal bahwa BPS sendiri mendata struktur penguasaan lahan petani Indonesia didominasi oleh lahan yang sempit, artinya sebagian besar petani yang lahannya kecil dan sempit. Data Sensus Pertanian 2023 menyebut sekitar 76,8% usaha pertanian perorangan memiliki luas lahan kurang dari 1 hektar. Bisa dihitung sendiri dengan kondisi NTP dan harga komoditas bagus, berapa hektar luas lahan dan komoditas apa yang layak ditanam agar petani memiliki pendapatan mampu memenuhi kebutuhan tersiernya untuk liburan ke luar negeriLebih jauh lagi diskusi tentang petani liburan ke luar negeri ini bisa kita hubung-hubungkan juga dengan pendapatan penduduk Indonesia secara umum. Lagi-lagi merujuk data BPS, rata-rata pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada tahun 2024 mencapai 78,6 juta rupiah per tahun atau sekitar 6,55 juta per bulan. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2023 yang hanya sebesar 75 juta per tahun atau 6,25 juta per bulannya. Angka tersebut menunjukkan rata-rata pendapatan kotor per orang yang merupakan hasil perhitungan PDB (Produk Domestik Bruto). Berdasarkan data lain, rata-rata gaji pekerja di Indonesia berada di kisaran 3,27 juta per bulan, menunjukkan hasil yang berbeda dengan angka PDB per kapita.
Sementara itu kata BPS bahwa seseorang dikategorikan miskin di Indonesia jika memiliki pengeluaran di bawah 609.160 rupiah per kapita per bulan. Bank Dunia menggunakan standar yang lebih tinggi lagi, mengategorikan seseorang sebagai miskin jika berpenghasilan di bawah 1,5 juta per bulan atau sekitar 50 ribu per hari.
Mayoritas penduduk miskin bekerja pada sektor informal dengan pendapatan rendah dan tidak menentu. Buruh tani sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar, diikuti oleh buruh bangunan, nelayan, serta pekerja sektor informal lainnya dengan sebagian besar mereka memiliki pendidikan yang rendah. Tentu kaum buruh ini tipe bekerja keras dan menghabiskan hari-harinya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan bisa jadi belum kepikiran untuk liburan, namun mungkin juga ke luar negeri bukan dalam rangka liburan tetapi untuk menjadi buruh migran dengan harapan masa depan yang lebih baik. (*)
Editor : Ali Sodiqin