RADAR BANYUWANGI - Indonesia merupakan negara yang berada di kawasan cincin api (Ring of Fire) sehingga memiliki potensi gempa bumi yang tinggi. Dalam situasi darurat, akses terhadap informasi menjadi faktor penting yang dapat menentukan keselamatan seseorang. Sistem peringatan maupun edukasi kebencanaan hingga kini masih banyak mengandalkan suara atau instruksi verbal. Kondisi tersebut menyebabkan informasi penting tidak selalu dapat diterima secara optimal dan menjadikan penyandang disabilitas pendengaran (teman tuli) sebagai salah satu kelompok yang lebih rentan saat bencana terjadi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya pengurangan risiko bencana tidak cukup hanya berfokus pada penyediaan informasi, tetapi juga harus memastikan bahwa informasi tersebut dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Edukasi kebencanaan yang inklusif menjadi kebutuhan mendesak agar setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk memahami risiko, mengenali tanda bahaya, serta mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi bencana.
Salah satu upaya yang dapat menjawab tantangan tersebut adalah Smart Disaster Alert, sebuah inovasi edukasi kesiapsiagaan gempa bumi berbasis Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Pendekatan ini dirancang untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih mudah dipahami oleh teman Tuli melalui media visual, penggunaan BISINDO, serta simulasi yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Dengan demikian, informasi mengenai mitigasi bencana tidak hanya tersampaikan, tetapi juga dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Smart Disaster Alert mengintegrasikan materi mengenai risiko gempa bumi, pengenalan tanda-tanda bahaya, langkah penyelamatan diri, jalur evakuasi, hingga tindakan setelah bencana melalui pendekatan visual yang komunikatif dan penggunaan BISINDO. Penyampaian materi tidak hanya berorientasi pada pemahaman teori, tetapi juga memberikan pengalaman yang lebih interaktif melalui simulasi sehingga Teman Tuli dapat mengenali situasi darurat dan mengambil keputusan secara cepat serta tepat.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena kesiapsiagaan bencana tidak cukup dibangun melalui penyampaian informasi semata. Proses pembelajaran harus mampu menjangkau kebutuhan setiap individu, termasuk teman Tuli yang selama ini masih menghadapi keterbatasan akses terhadap informasi kebencanaan. Dengan penyampaian yang lebih inklusif, materi mitigasi tidak hanya lebih mudah dipahami, tetapi juga lebih mudah diingat dan diterapkan ketika menghadapi kondisi darurat.
Lebih dari itu, pendekatan berbasis BISINDO juga memperkuat partisipasi aktif teman Tuli dalam membangun budaya sadar bencana di lingkungan sekitarnya. Mereka tidak lagi diposisikan sebagai penerima informasi, melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki kemampuan untuk mengenali risiko, melakukan evakuasi secara mandiri, serta berkontribusi dalam membantu orang lain ketika terjadi bencana. Edukasi yang inklusif pada akhirnya tidak hanya meningkatkan kapasitas individu, tetapi juga memperkuat ketangguhan komunitas secara menyeluruh.
Inovasi ini tengah dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) STIKES Banyuwangi (sekarang Universitas Dr. Soekardjo atau UNIDSOE) sebagai bentuk kontribusi mahasiswa dalam menghadirkan solusi terhadap tantangan aksesibilitas informasi kebencanaan. Kehadirannya menunjukkan bahwa pengembangan program pengabdian tidak hanya berorientasi pada penyelesaian masalah di masyarakat, tetapi juga mampu menghasilkan pendekatan edukasi yang adaptif, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan kelompok rentan.
Lebih dari sekadar sebuah program, Smart Disaster Alert menjadi gambaran bahwa pendidikan, inovasi, dan komunikasi yang inklusif dapat berjalan berdampingan untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh menghadapi bencana. Ketika seluruh lapisan masyarakat memperoleh kesempatan yang sama untuk memahami informasi keselamatan, maka upaya pengurangan risiko bencana akan menjadi lebih efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan. Inovasi seperti ini diharapkan dapat menginspirasi lahirnya berbagai model edukasi kebencanaan yang semakin ramah bagi penyandang disabilitas sehingga tidak ada lagi kelompok masyarakat yang tertinggal dalam memperoleh hak atas informasi keselamatan. (*)
Editor : Ali Sodiqin