"Bagaimana kabarnya?"
"Baik". Jawaban itu mungkin menjadi jawaban yang paling sering kita ucapkan. Begitu spontan, begitu singkat, seolah tidak memerlukan waktu untuk memikirkannya. Padahal, di balik satu kata "baik" bisa saja tersembunyi berbagai rasa yang tidak pernah sempat diungkapkan.
Ada yang sedang cemas memikirkan pekerjaan, tetapi tetap tersenyum. Ada yang hatinya lelah menghadapi persoalan keluarga, tetapi tetap melayani semua orang seperti biasa. Ada pula yang setiap hari tampak ceria, padahal setiap malam sulit memejamkan mata karena pikirannya tidak pernah berhenti bekerja.Dari luar mereka terlihat baik-baik saja. Namun, benarkah demikian?
Di ruang praktik konseling, saya sering bertemu orang-orang yang datang dengan kalimat yang hampir sama. "Sebenarnya saya sudah lama ingin bercerita, tetapi saya tidak tahu harus mulai dari mana." Kalimat sederhana itu menyimpan satu kenyataan, masih banyak orang yang memendam masalahnya sendirian. Mereka khawatir dianggap lemah, tidak dewasa, kurang bersyukur, atau bahkan dicap "bermasalah". Akibatnya, mereka memilih diam, berharap waktu akan menyelesaikan semuanya. Sayangnya, tidak semua luka dapat sembuh hanya dengan dipendam.
Kita hidup pada masa ketika tuntutan datang dari berbagai arah. Tuntutan pekerjaan, kebutuhan ekonomi, persoalan rumah tangga, pendidikan anak, hubungan sosial, hingga derasnya informasi di media sosial sering kali membuat pikiran tidak pernah benar-benar beristirahat. Sedikit demi sedikit energi emosional terkuras tanpa kita sadari. Ironisnya, kita lebih mudah mengenali demam daripada mengenali kelelahan batin.
Ketika tubuh terasa panas, kita segera mengukur suhu dan mencari obat. Ketika gigi sakit, kita datang ke dokter gigi. Namun, ketika hati dipenuhi kecemasan, ketika pikiran terasa kalut, ketika tidur tidak lagi nyenyak, atau ketika hidup mulai kehilangan makna, kita justru berkata kepada diri sendiri, "Nanti juga hilang."
Kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara keseluruhan. Memiliki kesehatan mental yang baik bukan berarti seseorang selalu bahagia, bukan pula hidupnya tanpa masalah. Mental yang sehat akan mampu menghadapi tekanan hidup, mengelola emosi, berpikir jernih, menjalin hubungan dengan baik, serta tetap mampu menjalankan peran dalam kehidupan sehari-hari.
Sebaliknya, ketika kesehatan mental mulai terganggu, tanda-tandanya sering kali muncul secara perlahan antara lain kita menjadi lebih mudah marah karena persoalan kecil, sulit berkonsentrasi, merasa lelah sepanjang waktu, kehilangan semangat melakukan hal-hal yang dulu menyenangkan, tidur tidak berkualitas, bahkan ada yang mulai menarik diri dari lingkungan karena merasa tidak ada orang yang mampu memahami dirinya.
Sayangnya, banyak orang menganggap kondisi tersebut sebagai hal biasa. Mereka terus memaksa diri untuk kuat. Menjadi kuat bukan berarti terus memendam semua permasalahan. Bayangkan sebuah gelas yang terus diisi air tanpa pernah dikosongkan. Pada akhirnya air dalam gelas itu akan meluap. Demikian pula dengan emosi. Kesedihan, kekecewaan, kemarahan, atau kecemasan yang terus dipendam bukan berarti lalu hilang. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk muncul, dan sering kali dalam bentuk yang tidak kita sadari.
Sebagai konselor, saya percaya bahwa setiap orang membutuhkan ruang yang aman untuk didengar. Bukan ruang yang penuh penilaian, bukan pula tempat untuk dihakimi. Kadang seseorang tidak membutuhkan nasihat panjang. Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan dengan sungguh-sungguh, membantu memahami apa yang sedang dirasakan, lalu bersama-sama mencari jalan keluar sebagai solusi yang paling sesuai dengan masalah yang tengah dihadapinya.
Di sinilah konseling kesehatan mental memiliki peran.
Konseling kesehatan mental bukan hanya diperuntukkan bagi mereka yang mengalami masalah berat. Konseling ini adalah upaya dalam menjaga kesehatan mental, sebagaimana kita menjaga kesehatan fisik. Semakin dini seseorang mencari bantuan, semakin besar peluang masalah dapat diselesaikan sebelum berkembang menjadi lebih kompleks.
Sesekali, cobalah berhenti sejenak dari kesibukan.
Tanyakan kepada diri sendiri.
Apakah akhir-akhir ini saya benar-benar menikmati hidup?. Apakah saya masih bisa tertawa dengan tulus?. Apakah saya mudah tersinggung tanpa alasan yang jelas?.
Apakah saya merasa lelah meskipun tidak melakukan pekerjaan yang berat?.
Apakah saya masih memiliki harapan ketika memulai hari?.
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu bukan untuk membuat kita merasa lemah, tetapi untuk mengingatkan bahwa kita juga manusia yang perlu dirawat mentalnya. Merawat kesehatan mental bukanlah bentuk egoisme. Justru dengan hati dan pikiran yang berada dalam kondisi sehat, kita akan lebih mampu mencintai keluarga, bekerja dengan baik, mengambil keputusan secara bijaksana, dan menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Karena itu, jangan menunggu sampai beban terasa terlalu berat. Tidak ada salahnya meminta bantuan. Tidak ada yang perlu dipermalukan ketika seseorang ingin menjaga kesehatan mentalnya. Sebaliknya, keberanian untuk mencari pertolongan adalah bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai.
Lain kali, ketika seseorang bertanya, "Bagaimana kabarnya?", jangan terburu-buru menjawab.
Berhentilah sejenak, lalu tanyakan kepada diri sendiri dengan jujur, "Benarkah saya baik-baik saja?". Sebab, setiap perjalanan menuju kehidupan yang lebih sehat selalu diawali oleh satu langkah sederhana: berani mengenali apa yang sedang kita rasakan.
"Tidak semua luka tampak di permukaan. Ada yang bersemayam dalam pikiran dan hati.
Ketika kita berani mengenalinya, saat itulah proses pemulihan dapat dimulai." (*)
Editor : Ali Sodiqin