RADAR BANYUWANGI - Tragedi kekerasan seksual massal terhadap seorang remaja putri berusia 15 tahun di Sampang Madura kembali mengoyak nurani kita. Rasanya amat perih menyadari ini bukanlah lembaran hitam pertama. Ingatan kita masih merekam jelas kepiluan serupa saat seorang siswi di Rejang Lebong direnggut nyawanya pada 2016 atau tragedi yang menimpa korban di Cirebon akibat ulah komplotan jalanan. Rentetan peristiwa ini menegaskan sebuah kemirisan akut bahwa kejahatan komunal di Sampang bukanlah anomali kebetulan. Kita sedang menyaksikan siklus mematikan yang terus berulang karena mesin pencetak predator ternyata beroperasi subur di halaman rumah kita sendiri.
Kasus Sampang memaksa kita mengakui satu realitas pahit. Kekejaman ini merupakan buah dari pembiaran sosial yang sangat sistemik. Selama ini kita keliru karena terus memelihara narasi individualisasi kejahatan dengan menganggap pemerkosaan semata akibat moralitas tunggal pelaku yang bejat. Padahal banalitas kekerasan seksual ini meledak karena masyarakat menormalisasi agresi mikro sejak masa dini. Ketika sekelompok pemuda melontarkan pelecehan verbal di pinggir jalan, membagikan konten eksploitatif, atau melempar lelucon bias gender, lingkungan sekitar memilih bungkam dan memaklumi. Pemakluman kecil inilah yang secara perlahan meruntuhkan pagar moral para pelaku.
Untuk mencerna bagaimana akal sehat sekelompok pemuda bisa membusuk secara serentak, konsep pelepasan moral dari psikolog Albert Bandura memberikan penjelasan yang sangat relevan. Bandura mengingatkan bahwa individu dapat memutus ikatan etika ketika mereka berada dalam kerumunan. Dalam pusaran kasus Sampang, empati para pelaku lenyap tak berbekas karena beban rasa bersalah telah dilebur dan dibagi rata ke seluruh anggota kelompok. Pemerkosaan lalu direduksi menjadi sekadar arena pembuktian solidaritas pertemanan yang sakit. Keheningan komunitas sekitar justru memberikan garansi palsu bahwa perbuatan mereka aman dari sanksi sosial.
Lalu mengapa tubuh perempuan yang selalu menjadi objek penaklukan? Analisis sosiolog Raewyn Connell mengenai maskulinitas hegemonik menjawabnya dengan tepat. Dalam struktur masyarakat yang timpang, parameter kejantanan seorang pria kerap diukur dari seberapa mampu ia mendominasi pihak yang dianggap lemah. Pada realitas pergaulan di Sampang, kekerasan seksual bersalin rupa menjadi panggung unjuk kuasa. Tubuh korban dieksploitasi sebagai piala demi meraih validasi dari kawan sebaya. Saat perilaku merendahkan perempuan di ruang publik dibiarkan berlalu, pada detik itulah masyarakat menandatangani izin bagi tumbuhnya mentalitas pemangsa.
Menghadapi krisis peradaban sedalam ini, respons aparat hukum yang reaktif bagai pemadam kebakaran jelas sangat usang. Negara wajib memenjarakan para pelaku secara maksimal tanpa kompromi. Namun jeruji besi tidak akan pernah sanggup mematikan pabrik sosial yang memproduksi predator baru. Solusi sesungguhnya harus menyasar akar kultural dengan menggeser beban dari pundak penyintas menuju tanggung jawab komunal. Kita harus membuang jauh narasi lawas yang melulu menasihati perempuan untuk menjaga pakaian atau membatasi pergaulan malam.
Fokus intervensi harus diarahkan secara radikal untuk mendekonstruksi ekosistem pergaulan remaja pria. Institusi pendidikan, keluarga, dan aparatur desa di Sampang wajib mengajarkan bahwa kejantanan sejati bersumber dari pengendalian diri dan penghormatan mutlak terhadap otonomi tubuh manusia lain. Ruang kumpul remaja tidak boleh dibiarkan kosong tanpa pengawasan positif. Pemerintah daerah perlu mengalokasikan anggaran guna menyediakan fasilitator kompeten di tingkat desa untuk mendampingi aktivitas pemuda.
Lebih dari itu, tokoh masyarakat wajib hadir sebagai pendidik yang menjalankan sistem deteksi dini di ruang interaksi warga. Setiap indikasi pelecehan verbal dalam skala terkecil harus langsung dicegah tanpa menyisakan celah sedikit pun bagi penyelesaian damai yang manipulatif. Tragedi ini adalah alarm paling kelam bagi kemanusiaan kita untuk segera membongkar budaya kekerasan sebelum ruang aman bagi generasi muda musnah selamanya. (*)
Editor : Ali Sodiqin