RADAR BANYUWANGI - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya diliburkan selama siswa tidak ada kegiatan belajar mengajar. Permintaan bahan baku tentu mengalami penurunan cukup drastis saat ini karena SPPG tidak beroperasi. Hal tersebut berpengaruh langsung terhadap permintaan bahan baku di pasar yang mengalami penurunan. Ketika bertanya kepada AI bagaimana kondisi pasar ketika MBG libur, muncul jawaban menarik bahwa ibu rumah tangga menilai kondisi pasar sekarang lebih bersahabat. Perilaku ekonomi tersebut unik karena ketika MBG dilaksanakan, banyak opini maupun media menyampaikan ibu rumah tangga sangat terbantu dan ketika libur justru juga disambut dengan suka cita. Hal tersebut tidak terlepas bagaimana MBG selama ini yang diklaim memiliki efek multiplier menyimpan satu sisi penting yang tidak terlihat atau mungkin tidak perlu diperhatikan. Dampak multiplier yang dimaksud adalah barang di pasar menjadi terbatas dan harga melambung tinggi membuat pengeluaran ibu rumah tangga justru semakin bertambah karena semua diborong oleh SPPG. Secara tidak langsung, MBG juga mempengaruhi rantai pasok bahan pangan yang seharusnya bisa diperoleh dengan harga relatif terjangkau di pasar.
Efek Multiplier Tidak Kasat Mata
Tidak sedikit media massa memberitakan bahwa ibu rumah tangga terbantu dengan program MBG, namun di satu sisi ikut antusias bila MBG diliburkan. Fenomena ini unik dan seolah – olah bagaimanapun kondisinya MBG tetap mendapat dukungan. Jika melihat realita secara lebih mendalam, kondisi MBG yang diliburkan justru membuat nafas dompet menjadi lebih lega. Asumsi ini bukan isapan jempol semata karena selama ini BGN melakukan belanja besar – besaran menyebabkan distorsi pasokan dan harga di level konsumen menyebabkan ketersediaan barang menjadi langka serta mahal. Sekarang mari kita analisis, siswa hanya mendapat MBG sehari sekali dan masih perlu makan ketika dirumah. Di satu sisi, ibu perlu menyiapkan makanan untuk anggota keluarga yang tidak mendapat MBG dan masih harus mengikutsertakan anaknya yang sebelumnya telah mendapat MBG di dalam daftar makan malamnya. Dengan kondisi barang di pasar yang terbatas dan mahal karena sudah diborong oleh SPPG, maka pengeluaran sang ibu jauh lebih besar untuk mempersiapkan makanan keluarga. Hal tersebut yang jarang diperbincangkan karena fokus pemberitaan hanya mengarah kepada sudut pandang para petani dan peternak yang saat ini berkeluh kesah karena harga barang terjun bebas akibat MBG libur. Atau hanya melihat dari sudut pandang tenaga kerja yang kehilangan penghasilan karena dapur tidak beroperasi karena libur. Mereka tidak melihat efek multiplier tidak kasat yang dirasakan sang ibu yang harus memutar siasat agar isi dompet tidak terkuras deras dan sajian makan untuk keluarga tetap tersedia di meja makan. Maka, para pemangku kepentingan terkait memang harus meliburkan dan mengevaluasi total pelaksanaan MBG apakah lebih besar dampak positif atau sebaliknya. Bila melihat efek multiplier tersebut, saat ini bisa dikatakan bahwa MBG belum sepenuhnya sesuai harapan karena memunculkan masalah lebih besar.
Introspeksi Kelayakan MBG
MBG memang perlu dilakukan kajian secara mendalam terkait pelaksanaannya. Tidak hanya sekedar mengubah indikator penilaian kesuksesan yang selama ini diukur dari jumlah penerima manfaat, namun harus ada indikator lebih jelas sesuai tujuan awal MBG diimplementasikan yaitu pengentasan stunting. Secara khusus, pemerintah perlu memperketat rantai pasok bahan pangan supaya ketersediaan barang di pasar tetap bisa dibeli oleh para ibu rumah tangga. Jangan sampai monopoli telur, sayuran, atau daging kembali terjadi, sehingga barang di pasar menjadi langka. Operasi pasar dan membangun jalur khusus rantai pasok barang bisa meminimalisir oknum yang memanfaatkan peredaran barang pasar demi keuantungan pribadi. Penerapan substitusi dan diversifikasi menu oleh SPPG diharapkan tidak bergantung kepada satu jenis bahan saja, karena menyebabkan harga barang melambung tinggi dan disaat bersamaan bahan pangan tersebut dibutuhkan oleh ibu rumah tangga untuk keluarganya yang tidak menerima MBG. Semoga efek multiplier yang sebenarnya sangat penting seperti uraian di atas tidak dikesampingkan hanya karena mengejar keberhasilan program atau janji yang telanjur diucapkan. (*)
Editor : Ali Sodiqin