Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

”Ngerandu” PCNU Banyuwangi

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Rabu, 15 Juli 2026 | 10:30 WIB
Oleh: Atho’ilah Aly Najamudin, Wakil Ketua Lakpesdam PCNU Banyuwangi)
Oleh: Atho’ilah Aly Najamudin, Wakil Ketua Lakpesdam PCNU Banyuwangi

RADAR BANYUWANGI - Ada satu hal yang menarik dari wajah baru PCNU Banyuwangi dalam beberapa bulan terakhir. Bukan semata karena banyaknya program yang telah diluncurkan, melainkan cara organisasi ini memilih untuk hadir di tengah warganya.  Program itu diberi nama “Ngerandu PCNU Banyuwangi”.

Sepintas, istilah tersebut terdengar sederhana. Namun, justru di situlah letak kekuatannya. Dalam kamus bahasa Using karya Pak Hasan Ali, ngerandu  itu berarti menunggu atau menanti. Kata yang sangat akrab dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi itu, kemudian diangkat menjadi identitas sebuah program organisasi.

Saya sempat bertanya-tanya, mengapa pengurus PCNU Banyuwangi memilih kata "menunggu"? Bukankah organisasi seharusnya bergerak, bukan menunggu? Setelah mengikuti pelaksanaan perdana di MWCNU Kalipuro dan MWCNU Giri pada 3 Juli 2026, pertanyaan itu mulai menemukan jawabannya.

"Ngerandu" ternyata bukan tentang menunggu secara pasif, melainkan tentang kesediaan pengurus cabang hadir lebih dahulu untuk menemui pengurus MWCNU. Sebuah pendekatan yang membalik cara pandang lama. Jika selama ini struktur di bawah sering datang ke cabang, kini justru cabang yang turun menemui mereka.

Pendekatan seperti ini memiliki makna simbolik yang penting. Organisasi tidak lagi hadir sebagai atasan yang melakukan inspeksi, melainkan sebagai mitra yang datang mendengar, berdialog, sekaligus menguatkan.

Pilihan menggunakan istilah lokal juga bukan sekadar gimik. Ia membangun kedekatan psikologis dengan masyarakat Banyuwangi. Bahasa daerah menghadirkan rasa memiliki yang sulit digantikan oleh istilah-istilah birokratis yang cenderung kaku.

Dalam konteks ini, “ngerandu menjadi contoh bagaimana identitas lokal dapat dipadukan dengan tata kelola organisasi modern. Di tengah era organisasi yang serba formal, langkah ini terasa segar sekaligus membumi.

Yang lebih menarik lagi adalah desain pelaksanaannya. Dari pengamatan saya, program ini disusun secara sistematis.

Forum dibagi menjadi dua komisi. Komisi pertama mempertemukan lembaga dan badan otonom PCNU dengan pengurus MWCNU. Di ruang ini terjadi perkenalan program sekaligus pembicaraan mengenai peluang kolaborasi. Lembaga seperti: LAZISNU, LP Ma'arif, Lakpesdam, IPNU, Pagar Nusa, dan lembaga lainnya tidak hanya memperkenalkan diri, tetapi juga menawarkan sinergi yang konkret.

Komisi kedua bergerak pada aspek organisasi. Dipimpin langsung Sekretaris PCNU Banyuwangi, forum ini melakukan verifikasi dan validasi data kelembagaan, mulai dari keberadaan ranting aktif hingga kondisi administrasi organisasi. Langkah ini mungkin terdengar administratif, tetapi justru menjadi fondasi penting bagi organisasi sebesar Nahdlatul Ulama.

Organisasi tidak dapat dikelola hanya berdasarkan perkiraan; ia membutuhkan data yang akurat sebagai dasar pengambilan keputusan.

Di sinilah program “Ngerandu PCNU Banyuwangi” menunjukkan perbedaannya. Banyak kegiatan turun ke bawah dalam organisasi besar berakhir sebagai seremoni tanpa hasil yang jelas. Program ini,  justru berusaha menggabungkan dua kepentingan sekaligus: membangun komunikasi dan memperkuat tata kelola organisasi.

Di bawah kepemimpinan Rais Syuriyah KH Fakhrudin Manan dan Ketua Tanfidziyah Gus Achmad Turmudzi, PCNU Banyuwangi tampaknya ingin menunjukkan bahwa konsolidasi organisasi tidak cukup dilakukan melalui rapat di kantor cabang. Konsolidasi harus mendatangi basis-basis organisasi dari tingkat MWCNU.

Tentu, masih terlalu dini menilai keberhasilan program ini. Pelaksanaannya yang dijadwalkan berlangsung hingga akhir Agustus, sebagaimana disampaikan Ketua Pokja Ngerandu” PCNU Banyuwangi KH. Muhammad Riza Azizi, masih membutuhkan proses evaluasi. Namun, setidaknya satu pesan sudah terlihat jelas: PCNU Banyuwangi sedang bergerak.

Kini, tantangan berikutnya justru berada di tingkat MWCNU hingga ranting. Program sebaik apa pun tidak akan menghasilkan perubahan apabila hanya berhenti sebagai agenda kunjungan. Sinergi, tindak lanjut, dan konsistensi pelaksanaan akan menjadi penentu keberhasilannya.

Pada akhirnya, program Ngerandu PCNU Banyuwangi bukan sekadar nama sebuah program. Ia adalah cara pandang baru tentang bagaimana organisasi melayani anggotanya. Ketika pengurus cabang  bersedia turun menemui struktur di bawah, yang dibangun bukan hanya administrasi organisasi yang lebih rapi, tetapi juga rasa dihargai, rasa didengar, dan rasa dipercaya.

Dan dalam organisasi sebesar Nahdlatul Ulama, kepercayaan bukan perkara kecil. Ia merupakan modal sosial yang membuat struktur tetap hidup, jamaah merasa memiliki, dan gerakan tetap berjalan.

Tanpa kepercayaan, organisasi hanya menjadi bangunan formal. Tetapi dengan kepercayaan, organisasi menjelma menjadi rumah bersama yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga. (*)

Editor : Ali Sodiqin
nahdlatul ulama pcnu banyuwangi