RADARBANYUWANGI.ID - "Apa rencana kalian setelah lulus?”
Pasti jawaban sebagian mahasiswa ingin bekerja di sebuah perusahaan. Sebagian ingin menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Ada juga yang menjawab ingin melanjutkan studi ke Luar Negeri. Jawaban itu umum dilontarkan mahasiswa saat mendapatkan pertanyaan tersebut. Meski saya senang mendengarnya. Namun sebenarnya ada satu jawaban yang saya tunggu-tunggu. Saya menunggu jawaban mahasiswa, 'Saya ingin membuka lapangan kerja.' Pertanyaan saya lanjutkan dengan harapan mampu memancing pemikiran mereka tentang kewirausahaan. "Siapa yang ingin menciptakan pekerjaan bagi orang lain?" Saya melihat tidak banyak tangan yang diangkat. Tangan yang diangkapun terlihat sangat ragu.
Memulai usaha memang bukan perkara sederhana seperti mengirim lamaran kerja. Di situ ada perasaan takut gagal. Ada kekhawatiran kehilangan modal. Ada keraguan apakah usaha itu akan bertahan. Namun, kalau semua memilih menunggu pekerjaan, siapa yang akan menciptakan pekerjaan? Pertanyaan itulah yang menurut saya harus terus kita hidupkan di ruang-ruang kuliah. Sebab saya percaya, mahasiswa hanya perlu sedikit lebih yakin bahwa ide yang mereka miliki layak diperjuangkan.
Menciptakan Peluang di Bumi Blambangan
Daerah tidak pernah mewariskan kemajuan. Akan tetapi kemajuan hadir dari sebuah perjuangan. Apa yang terjadi di daerah Banyuwangi alias Bumi Blambangan pun demikian. Sektor pertanian yang terus bergerak maju, perikanan yang berkembang, UMKM dan desa wisata yang terus bermunculan, serta ekonomi kreatif yang semakin hidup, semuanya tak lepas dari perjuangan panjang generasi Banyuwangi yang selalu optimis terhadap kemajuan daerahnya.
Lantas siapa yang akan berdiri dibarisan depan untuk menjaga optimisme kemajuan Banyuwangi di dua puluh tahun ke depan? Tentu saja jawabannya bukan semata pemerintah Banyuwangi, bukan pula investor. Memang keduanya penting, namun generasi muda Banyuwangi yang saat ini sedang memenuhi ruang-ruang kuliah menjadi calon penggerak utama ekonomi. Generasi Banyuwangi harus yakin bahwa peluang tidak selalu datang dari kota-kota besar atau perusahaan multinasional saja. Bahkan tidak jarang peluang justru hadir dari persoalan-persoalan yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari Ruang Kuliah Menuju Ruang Inovasi
Beberapa waktu lalu saya mendapat kesempatan berbagi dalam Seminar Kewirausahaan yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Akuakultur, FIKKIA, Universitas Airlangga Banyuwangi. Tema yang diangkat, Startup Mindset: Membangun Mental Wirausaha di Kalangan Mahasiswa. Menurut saya tema itu sangat relevan dengan tantangan generasi muda saat ini. Dalam forum tersebut, saya mengajak mahasiswa untuk melihat bahwa memulai usaha di era digital tidak selalu membutuhkan modal besar. Yang jauh lebih penting adalah keberanian membaca peluang, kemampuan memecahkan masalah, dan keberanian untuk gagal dan terus belajar.
Saya selalu mengatakan kepada mahasiswa, "Jangan menunggu lulus untuk menjadi wirausaha”.
Justru bangku kuliah adalah laboratorium terbaik untuk mencoba, gagal, memperbaiki, lalu mencoba kembali. Selain itu, kampus juga menjadi tempat untuk menemukan mentor wirausaha, baik teman yang sudah pengalaman, narasumber dari berbagai pelatihan, bahkan dosen yang juga memiliki pengalaman berwirausaha. Semuanya sangat mudah ditemukan di kampus.
Saya selalu percaya jika setiap jurusan memiliki peluang melahirkan pengusaha. Mahasiswa Akuakultur bukan hanya calon pembudi daya ikan saja, tapi mampu menjadi konsultan budidaya, pelaku industri pengolahan hasil perikanan, inovator pakan, hingga pengembang teknologi berbasis kecerdasan buatan untuk sektor akuakultur. Demikian pula mahasiswa dari program studi lain. Tidak ada disiplin ilmu yang terlalu sempit untuk melahirkan wirausaha. Yang sering menjadi pembatas justru bukan ilmunya, melainkan keberanian untuk memulai, keberanian untuk gagal dan mencoba menemukan solusi atas kegagalan yang dihadapi.
Bukan Hanya Bisnis, tetapi Mentalitas
Saya menghindari menanyakan "Modalnya dari mana?" atau "Bagaimana membuat proposal bisnis?" saat bertemu dengan mahasiswa dalam kegiatan kewirausahaan. Saya lebih memilih mengajak mereka berpikir "Mengapa demikian?" Mengapa hal itu saya lakukan? Karena saya menyadari bahwa rencana bisnis bisa berubah di tengah jalan. Produk bisa berganti. Teknologi terus berkembang. Bahkan dari tahun ke tahun pasar tidak pernah benar-benar sama. Cara berpikir mahasiswa harus konsisten sebagai seorang wirausahawan yang memiliki keberanian mengambil keputusan. Meskipun keputusan yang diambil tidak selalu berujung pada keberhasilan. Mahasiswa harus terbiasa melihat perubahan sebagai peluang, bukan sebuah ancaman. Saya juga ingin mahasiswa memahami bahwa kegagalan bukan akhir sebuah perjalanan, namun sebuah proses pembelajaran.
Meskipun saat ini kita ada di era kecerdasan buatan. Tidak sedikit pekerjaan yang dulu dikerjakan manusia kini mulai diambil alih oleh mesin. Meskipun begitu, ada satu hal yang belum dan tidak bisa digantikan teknologi, yaitu keberanian untuk bermimpi, kepekaan membaca peluang, dan kemampuan menciptakan solusi bagi sesama. Itulah nilai yang ingin saya tanamkan kepada mahasiswa. Sebab pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan orang yang pandai bekerja, tetapi juga mereka yang berani menciptakan pekerjaan.
Gerakan Bersama Menumbuhkan Wirausaha Muda
Kampus tidak akan bisa berjalan sendirian dalam menumbuhkan wirausaha muda. Meskipun kampus bisa menjadi tempat menanam benih kewirausahaan, namun benih itu tidak akan tumbuh dengan optimal tanpa ekosistem yang baik. Pemerintah daerah terus membuka ruang bagi ekonomi kreatif, mendorong UMKM untuk tumbuh, dan memperluas layanan berbasis digital. Selain itu, ada dunia usaha yang bersedia menjadi mitra. Ada media yang terus memperkenalkan kisah-kisah inspiratif pelaku usaha lokal. Ada pula komunitas bisnis yang tidak lelah berbagi pengalaman. Masing-masing memiliki peran. Semuanya tinggal dipertemukan dengan semangat dan kreativitas mahasiswa – sesuai SDGs.
Maka dari itu, saya tidak pernah melihat seminar kewirausahaan, pelatihan bisnis, inkubasi usaha, atau pendampingan UMKM hanya sebagai agenda seremonial. Semua itu adalah pekerjaan menanam. Yang ditanam memang bukan modal, bukan pula proposal bisnis. Yang ditanam adalah cara berpikir. Keberanian untuk mencoba. Kepercayaan diri bahwa setiap mahasiswa memiliki peluang untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.
Menanam Benih, Memanen Masa Depan
Banyuwangi mendapatkan anugerah kekayaan alam yang melimpah, tanah yang subur, dan masyarakat yang kreatif. Modal terbesar yang tak kalah penting adalah generasi mudanya. Jika mereka tumbuh dengan semangat berinovasi dan jiwa kewirausahaan, maka Bumi Blambangan tidak hanya akan menghasilkan produk-produk unggulan, tetapi juga melahirkan pencipta lapangan kerja yang mampu menggerakkan ekonomi daerah.
Mahasiswa akuakultur dapat menggali inovasi di bidang budidaya dan pengolahan hasil perikanan. Mahasiswa pertanian fokus mengembangkan produk pangan bernilai tambah. Mahasiswa teknologi dapat berperan dalam menghadirkan solusi digital bagi UMKM yang ada di Banyuwangi. Ketika ilmu pengetahuan dipadukan dengan keberanian untuk memulai, mahasiswa tidak lagi hanya asal lulus dari bangku perkuliahan, namun mampu menjadi pencipta kerja yang membanggakan. (*)
Editor : Ali Sodiqin