RADARBANYUWANGI.ID - Tidak semua tokoh lahir dari pusat kekuasaan. Sebagian malah tumbuh dari daerah-daerah yang jauh dan mungkin tidak diperhitungkan. Mereka meniti jalan panjang melalui pengabdian, pengalaman, dan kerja nyata yang konsisten. Namun ketika kesempatan datang, mereka menunjukkan bahwa kualitas seseorang tidak ditentukan oleh dari mana ia berasal, melainkan dari apa yang telah ia tanam dan kerjakan selama ini.
Melalui akun media sosial milik Danu Budiyono, saya melihat sebuah foto yang memperlihatkan mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi, Guntur Priambodo, berdiri berdampingan dengan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan sambil memegang sebuah surat keputusan (SK). Saya segera japri Mas Danu—sapaan akrab Danu Budiyono. Setelah itu lanjut ke Kanda Guntur—demikian Guntur Priambodo akrab dipanggil—untuk menyampaikan ucapan selamat.
Di tengah masa purna tugasnya sebagai aparatur sipil negara yang belum sampai satu bulan, Guntur Priambodo, sebagaimana dilansir Jawa-Pos Radar Banyuwangi (19/6/2026), dipercaya menjadi Tenaga Ahli Ketahanan Pangan, Infrastruktur Pendukung Pertanian, dan Lingkungan pada Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Penugasan tersebut menjadi kabar menggembirakan, bukan semata karena jabatan yang diemban, melainkan karena kembali hadirnya putra daerah yang dipercaya berkiprah di tingkat nasional.
Sebelumnya, masyarakat juga menyaksikan mantan bupati Banyuwangi dua periode, Abdullah Azwar Anas dipercaya menjadi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi pada era Presiden Joko Widodo. Dalam kapasitas yang berbeda, keduanya menunjukkan bahwa pengalaman yang ditempa di daerah dapat menjadi modal berharga untuk berkontribusi pada tingkat yang lebih luas.
Fenomena ini menarik untuk kita lihat. Banyuwangi sering dikenal banyak orang karena pariwisata, budaya, dan berbagai inovasi pembangunan daerah. Namun di balik itu, ada hal lain yang tidak kalah penting, yakni kemampuan daerah ini melahirkan sumber daya manusia yang mampu bersaing dan dipercaya di tingkat nasional.
Maka, diam-diam saya menyebut Banyuwangi bagai kawah candradimuka para calon pemimpin masa depan bangsa. Dalam cerita pewayangan, kawah candradimuka itu menjadi tempat menempa Gatotkaca hingga menjadi ksatria yang tangguh. Prosesnya tidak instan untuk menjadi manusia yang berkualitas.
Tentu saja, keberhasilan tokoh-tokoh kita itu tidak lahir dalam semalam. Ia merupakan akumulasi dari pendidikan, pengalaman, kerja keras, integritas, dan kesempatan yang diperoleh selama bertahun-tahun. Karena itu, ketika seorang putra daerah mendapat amanah tingkat nasional, sesungguhnya yang ikut terangkat bukan hanya nama pribadinya, tetapi juga nama daerah tempat ia tumbuh dan mengabdi.
Suksesnya para tokoh putra daerah ke kancah nasional dapat menjadi inspirasi bagi kita semua generasi penerus masa depan. Bahwa pengabdian tidak mengenal batas wilayah. Bahwa bekerja dengan baik di daerah bukan berarti membatasi diri pada ruang yang sempit. Bisa jadi dari daerah, seseorang dapat membangun track record atau rekam jejak yang pada akhirnya dipercaya untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar.
Ini bukan abang-abang lambe agar kita semua bersemangat ketika berbakti di sebuah daerah atau di wilayah mana pun yang tampaknya sederhana dan seakan-akan tidak menemukan jalan menuju pusat. Karena memang tidak mustahil tokoh-tokoh besar baik lokal maupun nasional, hingga internasional kelak berasal dari Banyuwangi. Bahasa warung kopinya: lha wong pengusaha mebel saja bisa naik haji, apalagi jadi presiden. Insya Allah ada jalan.
Dengan kata lain, jebolan kawah candradimuka Banyuwangi adalah The Hidden Leaders, para pemimpin yang mungkin belum banyak "terlihat" hari ini, tetapi memiliki kapasitas dan kapabilitas ketika kesempatan dan amanah itu datang. Entah amanah menjadi kepala desa, bupati, wali kota, gubernur, menteri, dewan perwakilan rakyat, atau—siapa tahu kelak menjadi—presiden.
Andai tidak menjadi semua itu, saya yakin kita semua tahu bahwa orang besar tetaplah orang besar, meskipun dia "menyamar" sebagai cleaning service kantor. Manusia berkualitas tetaplah manusia berkualitas. Orang baik tetaplah orang baik. Kata para sufi: kekasih Allah tetap kekasih Allah, meskipun berpakaian gelandangan atau naik pesawat terbang.
So, jika saat ini publik membaca kabar tentang Kanda Guntur. Besok mungkin akan muncul nama-nama lain dari Banyuwangi yang memperoleh amanah kepercayaan nasional. Kalau bahasanya dibikin agak puitis: sebuah daerah yang terus merawat kualitas sumber daya manusianya, tidak akan pernah kehabisan tokoh untuk mengabdi kepada bangsanya. (*)
Editor : Ali Sodiqin