Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Geliat Gamers Banyuwangi: Saat Tekken 8 dan eFootball Mulai Menemukan Rumahnya

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Kamis, 2 Juli 2026 | 11:40 WIB
Oleh: Bintang Johnson, Pengamat  dan Peneliti Video Game
Oleh: Bintang Johnson, Pengamat  dan Peneliti Video Game

RADARBANYUWANGI.ID - Dalam dua bulan terakhir, geliat komunitas Tekken 8 mulai terlihat semakin nyata. Pada April 2026 lalu, turnamen Tekken 8 dan eFootball hadir dalam acara Maouversary Level 3, sebuah ani-game convention yang mempertemukan kultur anime, game, cosplay, dan komunitas kreatif lokal. Kehadiran Tekken 8 dan eFootball di acara tersebut bukan hanya sekadar menjadi salah satu cabang lomba, tetapi juga menjadi simbol bahwa gim kompetitif mulai mendapat ruang dalam kultur hiburan anak muda Banyuwangi.

Fenomena tersebut berlanjut ketika turnamen Tekken 8 dan eFootball lainnya kembali diumumkan untuk akhir Juni 2026 di Axel Gaming Lounge. Kehadiran dua turnamen dalam waktu yang berdekatan memperlihatkan bahwa antusiasme komunitas tidak berhenti pada satu acara saja. Ada upaya nyata untuk membangun ekosistem kompetitif secara perlahan dan konsisten.

Bagi sebagian orang, turnamen seperti ini mungkin terlihat sederhana. Hadiah yang tidak sebesar turnamen nasional membuatnya tampak kecil di mata publik luas. Namun dalam kultur gim kompetitif, komunitas besar hampir selalu lahir dari ruang-ruang kecil seperti ini. Dari tempat latihan sederhana, sesi sparring mingguan, hingga rivalitas lokal yang tumbuh secara organik.

Tekken dan eFootball sendiri memiliki sejarah panjang di Indonesia. Sejak era PlayStation 1 dan PlayStation 2, seri ini menjadi salah satu game yang paling dekat dengan kultur rental konsol dan tongkrongan anak muda. Banyak pemain tumbuh bersama karakter-karakter ikonik seperti Kazuya, Hwoarang, Eddy, Jin, atau King. Namun selama bertahun-tahun, kultur tersebut lebih banyak hidup sebagai hiburan kasual dibanding ekosistem kompetitif yang serius.

Pada 19 April 2026 lalu, turnamen Tekken 8 dan eFootball telah hadir dalam acara Maouversary Level 3, sebuah konvensi anime-game yang diselenggarakan di Banyuwangi. Kehadiran Tekken 8 dan eFootball di acara tersebut menunjukkan bahwa gim kompetitif tidak lagi sekadar menjadi permainan nostalgia generasi lama PlayStation, tetapi mulai masuk ke ruang komunitas kreatif anak muda yang lebih luas. Tidak berhenti di sana, turnamen Tekken 8 dan eFootball lainnya kembali dijadwalkan pada akhir Juni 2026 di Axel Gaming Lounge dengan sistem kompetisi dan hadiah yang lebih serius.

Munculnya dua turnamen dalam rentang waktu berdekatan menjadi sinyal penting bahwa komunitas Tekken dan eFootball di Banyuwangi mulai bergerak secara konsisten. Hal ini menarik karena selama bertahun-tahun, budaya e-sports di Indonesia lebih banyak didominasi oleh gim mobile. Akibatnya, banyak orang memandang bahwa dunia gim kompetitif hanya berkutat pada permainan berbasis tim di telepon genggam.

Padahal, gim fighting dan olahraga memiliki kultur kompetitif yang berbeda. Dalam permainan seperti Tekken 8 atau eFootball, kemenangan tidak bisa bergantung pada kerja satu arah rekan satu tim. Pemain dituntut mengandalkan kemampuan membaca lawan, penguasaan mekanik, refleks, disiplin latihan, hingga kekuatan mental saat bertanding satu lawan satu. Karena itulah, komunitas Tekken dan eFootball sering dikenal memiliki kultur latihan dan rivalitas yang sangat kuat.

Menariknya, perkembangan ini juga memperlihatkan bagaimana Banyuwangi mulai memiliki ruang gaming kompetitifnya sendiri. Kehadiran venue seperti Axel Gaming Lounge menunjukkan bahwa Banyuwangi perlahan mulai menyediakan tempat berkumpul bagi pemain console dan komunitas gim kompetitif. Ini penting karena ekosistem e-sports tidak hanya dibangun oleh pemain profesional, tetapi juga oleh komunitas lokal yang rutin mengadakan turnamen kecil, sesi sparring, dan ruang interaksi antarpemain.

Karena itu, komunitas gim kompetitif sering memiliki hubungan rivalitas yang unik. Pemain bisa saling mengejek saat bertanding dan berlatih, tetapi tetap duduk ngopi bersama setelah pertandingan selesai. Ada kultur belajar bersama yang kuat, karena peningkatan kemampuan pemain justru membuat komunitas menjadi semakin hidup.

Kini, Tekken 8 dan eFootball membawa situasi berbeda. Grafik yang modern, sistem permainan yang agresif, serta dukungan komunitas global membuat game ini kembali menarik perhatian generasi lama maupun pemain baru. Media sosial juga membantu mempercepat pertumbuhan komunitas lokal. Cuplikan pertandingan, combo, hingga momen lucu saat sparring membuat fighting game terasa lebih dekat dengan generasi muda.

Fenomena ini mungkin masih terlihat kecil jika dibandingkan dengan skala turnamen nasional. Namun, hampir semua komunitas besar selalu berawal dari ruang-ruang kecil yang tumbuh secara konsisten. Bumi Blambangan mungkin belum menjadi pusat gim kompetitif di Indonesia hari ini, tetapi dari turnamen-turnamen yang mulai rutin digelar, terlihat bahwa Tekken 8 dan eFootball perlahan sedang menemukan rumahnya sendiri di kota tercinta ini.

Harapan tersebut menjadi semakin menarik ketika wacana e-sports sebagai cabang olahraga modern terus berkembang di Indonesia. Banyak komunitas berharap bahwa game seperti Tekken 8 maupun eFootball dapat memperoleh ruang lebih besar dalam ajang kompetitif nasional, termasuk event seperti Pekan Olahraga Nasional (PON).

Bagi pemain komunitas, kehadiran gim-gim tersebut di panggung nasional bukan hanya soal turnamen, tetapi juga pengakuan bahwa kultur gim kompetitif di Indonesia layak mendapat tempat yang setara dalam perkembangan e-sports tanah air.

Perjalanan komunitas ini memanglah masih panjang. Akan tetapi, hampir semua skena besar selalu lahir dari langkah kecil. Dari poster turnamen sederhana, konsol yang dipakai bergantian, hingga pemain-pemain lokal yang datang hanya untuk menguji kemampuan mereka satu sama lain.(*)

Editor : Ali Sodiqin
#Tekken 8 #eFootball #gamers #banyuwangi