RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah persiapan menghadapi Piala Soeratin 2026, Persewangi mulai membentuk kerangka tim kelompok usia muda. Bagi sebagian orang, ini hanyalah agenda rutin menjelang kompetisi. Namun saya melihatnya sebagai momentum untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar apakah pembinaan ini hanya ditujukan memenangkan turnamen, atau menjadi awal membangun masa depan sepak bola Banyuwangi?
Menurut saya, persoalan terbesar sepak bola kita bukan semata kualitas pemain, pelatih, atau keterbatasan anggaran. Persoalan utamanya adalah cara kita memandang sebuah klub. Selama Persewangi dipahami hanya sebagai peserta kompetisi, maka setiap musim kita akan mengulang siklus yang sama ketika menang kita larut dalam euforia, ketika kalah kita sibuk mencari kambing hitam. Pelatih diganti, pemain dievaluasi, manajemen dipersoalkan. Perubahan hanya terjadi di permukaan, sementara akar persoalan tetap dibiarkan.
Akar persoalan itu adalah belum tumbuhnya kesadaran kolektif bahwa Persewangi merupakan bagian dari identitas Banyuwangi.
Paulo Freire mengingatkan bahwa perubahan tidak pernah dimulai dari program, melainkan dari kesadaran. Pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan, tetapi membentuk manusia agar memahami realitasnya dan mengambil tanggung jawab untuk mengubahnya.
Dalam konteks Persewangi, kesadaran itu berarti masyarakat tidak lagi memandang klub sebagai milik pengurus atau pemerintah, melainkan sebagai institusi yang mewakili harga diri dan masa depan daerah.
Kesadaran inilah yang kemudian melahirkan rasa memiliki. Rasa memiliki menumbuhkan kepercayaan. Kepercayaan menghasilkan legitimasi. Dan legitimasi adalah fondasi yang membuat sebuah institusi mampu bertahan melampaui pergantian pemimpin maupun perubahan kondisi ekonomi.
Namun kesadaran saja belum cukup. Antonio Gramsci mengingatkan bahwa sebuah gagasan hanya akan bertahan apabila berubah menjadi budaya. Artinya, kecintaan terhadap Persewangi tidak boleh muncul hanya ketika tim sedang menang. Ia harus hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Banyuwangi.
Anak-anak mengenal Persewangi sejak sekolah. Orang tua bangga mengantar anaknya ke sekolah sepak bola. Guru memberi ruang bagi siswanya yang berprestasi di lapangan. Perguruan tinggi mengembangkan riset sport science. Dunia usaha berinvestasi pada pembinaan jangka panjang. Media membangun optimisme, sementara suporter menjaga sportivitas dan menjadi teladan. Ketika seluruh elemen bergerak dalam nilai yang sama, Persewangi tidak lagi menjadi sekadar klub sepak bola, melainkan institusi sosial yang hidup di tengah masyarakat.
Karena itu, membangun Persewangi tidak cukup dimulai dari akademi atau kompetisi internal. Yang harus dibangun terlebih dahulu adalah ekosistemnya. Pemerintah bersama PSSI menyusun kompetisi berjenjang mulai dari desa, sekolah, hingga kelompok usia. Persewangi menjadi puncak pembinaan melalui akademi profesional yang memiliki filosofi permainan dan karakter yang jelas. Perguruan tinggi mendukung melalui sport science, sementara dunia usaha membangun infrastruktur seperti training center dan pusat pengembangan olahraga. Setiap unsur memiliki fungsi yang berbeda, tetapi seluruhnya bergerak menuju tujuan yang sama.
Bagi saya, trofi bukanlah titik awal pembangunan, melainkan konsekuensi dari sistem yang benar. Klub yang hanya mengejar kemenangan akan selalu bergantung pada pemain, pelatih, atau anggaran. Sebaliknya, klub yang membangun kesadaran akan melahirkan budaya. Budaya melahirkan sistem. Sistem menghasilkan prestasi yang berkelanjutan.
Maka keberhasilan Persewangi tidak hanya diukur dari berapa banyak gelar yang diraih. Keberhasilannya terlihat ketika anak-anak Banyuwangi bermimpi mengenakan seragam Persewangi, ketika Stadion Diponegoro hidup setiap hari sebagai pusat pembinaan dan pengembangan olahraga, ketika dunia usaha percaya bahwa sepak bola adalah investasi sosial, dan ketika masyarakat dari Wongsorejo hingga Pesanggaran merasa bahwa setiap kemenangan maupun kekalahan Persewangi adalah bagian dari perjalanan mereka sendiri.
Pada akhirnya, membangun Persewangi bukan sekadar membangun sebuah klub. Ia adalah ikhtiar membangun kesadaran bahwa kemajuan daerah selalu dimulai dari masyarakat yang merasa memiliki institusinya. Sebab klub yang dibangun oleh uang akan mengikuti siklus anggaran, klub yang dibangun oleh figur akan mengikuti pergantian kepemimpinan, tetapi klub yang dibangun di atas nilai, kesadaran, dan legitimasi akan hidup melintasi generasi. Di situlah, membangun Persewangi sesungguhnya berarti membangun Banyuwangi. (*)
Editor : Ali Sodiqin