Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

MBG Pilar Penggerak Ekonomi Rakyat

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Selasa, 30 Juni 2026 | 10:30 WIB
Oleh: MR Warang Agung ST, Pengurus Yayasan Al Uswah Banyuwangi
Oleh: MR Warang Agung ST, Pengurus Yayasan Al Uswah Banyuwangi

RADARBANYUWANGI.ID - Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program strategis yang memiliki dampak multidimensi bagi bangsa Indonesia. Di satu sisi, program ini bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak usia sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan kelompok rentan lainnya. Namun di sisi lain, MBG juga menjadi instrumen ekonomi yang mampu menggerakkan sektor pertanian, peternakan, perikanan, UMKM, industri pengolahan pangan, hingga sektor logistik dan jasa.

Program ini pada hakikatnya bukan sekadar program pemberian makanan, melainkan pembangunan sebuah ekosistem ekonomi berbasis pangan yang melibatkan jutaan masyarakat dari hulu hingga hilir. Oleh karena itu, keberlanjutan dan stabilitas pelaksanaan program menjadi sangat penting karena dampaknya menyentuh berbagai lapisan masyarakat.

Salah satu tantangan terbesar program ini adalah ketidakpastian pasar. Harapannya melalui  ini akan menghadirkan kebutuhan pangan besar dan berkelanjutan. Dapur MBG yang biasanya disebut SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi)  membutuhkan: beras, sayuran, buah, telur, ayam, ikan, tahu, tempe, bumbu dapur, susu, dll. Kebutuhan tersebut rutin selama sepekan dan dalam jumlah yang relatif dapat diprediksi. Bagi UMKM, ini menciptakan: kepastian permintaan, perencanaan usaha yang lebih baik, stabilitas arus kas usaha dan peningkatan kapasitas produksi.

Dampak Positif

Petani sering menghadapi masalah fluktuasi harga akibat ketidakpastian pasar. Adanya program MBG, kebutuhan pangan menjadi lebih terukur dan berkelanjutan. Hal ini memberikan manfaat berupa: kepastian pembeli, berkurangnya ketergantungan kepada tengkulak, stabilitas harga hasil panen dan peningkatan pendapatan petani.

Protein hewani merupakan komponen penting dalam menu MBG. Hal ini menciptakan peluang besar bagi para pengelola peternakan dan hasil produknya. Kebutuhan harian dalam jumlah besar memberikan dampak sebagaimana didapatkan oleh para petani. Sementara bagi peternak kecil, MBG dapat menjadi pintu masuk menuju usaha yang lebih berkelanjutan.

Program MBG menciptakan efek berganda yang sangat luas, di antaranya bagi para pengelola usaha logistik dan transportasi sejalan dengan peningkatan produksi pertanian peternakan serta kebutuhan persediaan bahan pangan yang akan membuka peluang bagi: sopir angkutan, penyedia kendaraan, bengkel, penyedia bahan bakar, gudang penyimpanan serta industri penyedia suku cadangnya

Meningkatnya jumlah SPPG akan  mendorong permintaan: kompor industri, peralatan memasak, peralatan pendingin, rak penyimpanan, perlengkapan sanitasi dan teknologi Informasi. Dalam pengelolaannya  rerata setiap SPPG akan  membutuhkan sistem; monitoring distribusi, manajemen stok, pelaporan keuangan, pengawasan mutu dan dashboard pengambilan keputusan. Dan ini membuka peluang bagi pelaku usaha teknologi dan startup lokal.

Setiap dapur minimal akan membutuhkan  kepala dapur, ahli gizi, juru masak, petugas kebersihan, administrasi dan pengemudi. Artinya MBG menjadi sumber penciptaan lapangan kerja baru yang signifikan. Termasuk bahwa program MBG ini memiliki efek multiplier yang kuat. Uang yang dibelanjakan untuk program ini tidak berhenti pada penerima manfaat, tetapi terus berputar melalui: Pemerintah → Dapur MBG → UMKM → Petani/Peternak → Pekerja → Konsumsi Rumah Tangga → Ekonomi Lokal.

Risiko Jika Dihentikan

Dalam program sebesar MBG, tentu terdapat risiko kebijakan, tata kelola, maupun dinamika politik. Apabila terjadi penghentian sementara (suspend) secara mendadak atau bahkan dihentikan akibat persoalan kebijakan, administrasi, atau pergantian arah kepemimpinan di tingkat pusat, maka sejumlah dampak negatif dapat muncul. Kelompok yang paling terdampak adalah penerima manfaat yang selama ini bergantung pada program untuk memperoleh tambahan asupan gizi. Akibatnya, kualitas asupan gizi menurun, resiko kekurangan gizi meningkat dan tujuan peningkatan kualitas SDM menjadi terhambat.

Banyak UMKM yang telah berinvestasi, menambah karyawan, membeli peralatan, dan menambah kapasitas produksi. Jika program dihentikan mendadak akan berakibat pada: pendapatan turun drastis, arus kas terganggu, potensi PHK meningkat dan Risiko kebangkrutan bertambah.

Apabila terdapat permasalahan kebijakan, tata kelola, atau dinamika kepemimpinan dalam pelaksanaan MBG, penyelesaiannya idealnya dilakukan melalui penguatan tata kelola, transparansi anggaran,  perbaikan sistem pengawasan, evaluasi berkala, penguatan akuntabilitas kelembagaan, serta  penyempurnaan regulasi. Langkah-langkah tersebut umumnya lebih bermanfaat dibanding penghentian mendadak, karena dapat menjaga keberlangsungan manfaat yang telah dirasakan masyarakat sekaligus memperbaiki kelemahan yang ada.

Program Makanan Bergizi Gratis merupakan kebijakan strategis yang manfaatnya melampaui aspek pemenuhan gizi semata. Program ini telah membentuk rantai nilai ekonomi yang menghubungkan petani, peternak, nelayan, UMKM, tenaga kerja, pelaku logistik, hingga industri pendukung lainnya. Dengan demikian, setiap porsi makanan bergizi yang tersaji tidak hanya meningkatkan kesehatan penerima manfaat, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga Indonesia. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#ekonomi rakyat #Makan Bergizi Gratis Banyuwangi #Mbg