RADARBANYUWANGI.ID - Coba jujur dulu kapan terakhir kali kamu benar-benar duduk, buka buku sastra, dan tenggelam didalamnya sampai lupa waktu? Kalau jawabanya sudah lama banget, kamu tidak sendirian. Sekarang ini, buku terutama karya sastra rasanya makin tersisih dari keseharian kita. Scrolling disosial media, nanton reels, dengerin podcast, main game itu yang hampir mengisi setiap celah waktu luang kita. Sastra yang dulu punya tempat dimeja belajar,disudut kamar, di tas sekolah, sekarang seperti tergusur pelan-pelan oleh layar yang terus menyala. Inilah masalah yang diam-diam terjadi, bukan sastra yang mati mendadak, tapi ia yang perlahan ditinggalkanKondisi ini makin berat adalah kenyataan bahwa saingan sastra bukan hal-hal buruk, justru sebaliknya. Konten digital itu menarik, mudah diakses, gratis dan bisa dinikmati sambil rebahan. Sementara novel atau kumpulan puisi butuh konsentrasi, waktu, dan kadang harus keluar duit dulu beli bukunya. Di sinilah ketimpangan itu terasa nyata. Sastra bermain di lapangan yang sangat tidak imbang. Platform digital seperti TikTok, Youtube, dan Instagram sudah merancang dirinya supaya kamu betah berlama-lama, sementara sastra tidak punya algoritma yang bekerja untuknya. Tidak ada notifikasi yang mengingatkan kamu untuk baca cerpen hari ini. Tidak ada fitur autoplay yang langsung membukakan halaman berikutnya.
Kondisi ini tidak tiba-tiba muncul begitu saja. Awalnya, masuknya internet diawal 2000-an menggeser kebiasaan membaca ke arah artikel-artikel pendek di blog dan portal berita. Lalu, muncul media sosial sekitar tahun 2008-2010, dan perhatikan kita mulai terbagi kestatus, foto, dan komentar-komentar singkat. Puncaknya, ketika smartphone menjadi barang wajib di gemggaman semaua orang dan konten vidio pendek meledak sejak pertengahan 2010-an, pola konsumsi informasi kita berubah drastis. Otak kita terbiasa disuguhi sesuatu yang cepat, visual, dan langsung merangsang emosi dalam hitungan detik. Sastra yang butuh kesabaran dan ruang berpikir terasa makin berat untuk diikuti dam ritme hidup yang serba instan ini.
Pergeseran itu bisa kita lihat jejaknya dengan cukup jelas. Toko buku independen banyak yang tutup satu per satu. Festival sastra yang dulu ramai peminat kini berjuang mendapat perhatian publik. Disekolah-sekolah, pelajaran sastra sering jadi mata pelajaran yang dianggap membosankan penuh hafalan nama pengarang dan angkatan, bukan diskusi yang hidup tantang isi ceritanya. Para penulis muda pun banyak yang akhirnya memilih menulis konten di media sosial karena lebih cepat dapat pembaca dan penghasilan, ketimbang menekuni cerpen atau novel yang prosesnya panjang dan tidak pasti dterbitkan.
Datanya memang agak campur aduk. Survei GoodStats 2025 mencatat hanya 20,7 persen masyarakat indonesia rutin membaca setiap hari,penyebab utama kurangnya waktu, motivasi, dan tergesernya buku oleh konten digital. Sementara, TGM nasional 2024 justru mencapai 72,44 tertinggi dalam lima tahun terakhir. Tapi angka itu belum bisa menjadi alasan puas, karena melek huruf yang tinggi ternyata tidak otomatis mencermikan kualitas literasi yang sesungguhnya.
Dari data itu, ada satu hal yang perlu kita bedakan, antara membaca dan membaca sastra.Naiknya angka TGM belum tentu berarti orang makin dekat dengan novel atau puisi bisa jadi mereka Cuma makin sering baca berita atau scroll thread panjang. Sastra bukan sekedar soal huruf terbaca, tapi soal pengalaman menyelami cerita yang dibangun dengan kesungguhan bahasa. Dan pengalaman itu masih jauh dari keseharian banyak orang bukan karena sastra membosankan, tapi karena kita belum cukup dikenalkan padanya dengan cara menyenangkan.
Sastra tetap punya masa depan, tapi tidak bisa lagi jalan dengan cara lama. Daripada menyalahkan generasi muda,sastra justru perlu menjemput mereka, hadir lewat konten media sosial, podcast santai soal buku, atau komunitas baca terbuka,sastra harus mau turun gunung, bukan menunggu orang datang mendaki.
Pada akhirnya, dunia digital mengubah cara kita menikmati cerita, tapi tidak menghapus kebutuhan kita akan cerita itu sendiri. Manusia tetap butuh ruang untuk merenug dan berempati dan disitulah sastra hadir. Wajahnya boleh berubah, mediumnya boleh berbeda, tapi rohnya tetap sama. Sastra bukan museum, ia adalah percakapan yang harus terus hidup dan kita semua punya peran untuk menjaganya. (*)
Editor : Ali Sodiqin