Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dari Penonton Menuju Peserta Piala Dunia

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Jumat, 19 Juni 2026 | 08:06 WIB
Oleh: Adam Jamal, Dosen Administrasi Publik, Universitas Negeri Surabaya.
Oleh: Adam Jamal, Dosen Administrasi Publik, Universitas Negeri Surabaya.

RADARBANYUWANGI.ID - Piala Dunia selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Di banyak daerah, termasuk Banyuwangi, masyarakat rela begadang untuk menyaksikan tim-tim terbaik dunia bertanding. Warung kopi, kafe, pos ronda, hingga ruang keluarga dipenuhi diskusi tentang strategi permainan, pemain bintang, dan prediksi juara. Euforia ini menunjukkan bahwa sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan bagian dari budaya populer yang mampu menyatukan banyak orang.

Indonesia mungkin tidak tampil sebagai peserta Piala Dunia, tetapi antusiasme masyarakat terhadap kejuaraan ini tidak pernah surut. Setiap empat tahun sekali, jutaan orang mengikuti perkembangan pertandingan dengan penuh semangat. Fenomena ini menunjukkan satu hal penting, sepak bola memiliki tempat yang sangat istimewa di hati masyarakat Indonesia.

Namun di tengah kemeriahan tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang patut direnungkan. Sampai kapan Indonesia hanya menjadi penonton setia Piala Dunia?

Pertanyaan ini bukan untuk mengurangi kegembiraan masyarakat dalam menikmati pertandingan. Sebaliknya, pertanyaan tersebut perlu menjadi bahan refleksi bersama. Di saat negara-negara lain berlomba menunjukkan kualitas sepak bola mereka di panggung dunia, Indonesia masih berjuang untuk mewujudkan mimpi tampil di putaran final Piala Dunia.

Padahal Indonesia memiliki modal yang besar. Jumlah penduduk yang mencapai ratusan juta jiwa menyediakan sumber talenta yang melimpah. Di berbagai daerah, lapangan sepak bola selalu menjadi ruang bermain yang hidup. Anak-anak dan remaja tumbuh dengan kecintaan terhadap olahraga ini. Turnamen antarkampung, kompetisi sekolah, hingga liga amatir terus berlangsung dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Masalahnya bukan terletak pada minimnya minat terhadap sepak bola. Tantangan utama justru berada pada aspek pembinaan yang berkelanjutan. Negara-negara yang secara rutin tampil di Piala Dunia tidak hanya mengandalkan bakat individu. Mereka membangun sistem yang kuat sejak usia dini melalui kompetisi kelompok umur, pelatih yang kompeten, fasilitas yang memadai, serta proses pencarian bakat yang berjalan secara konsisten.

Tantangan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan sepak bola modern tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pemain di lapangan. Dalam perspektif administrasi publik, prestasi olahraga merupakan hasil dari tata kelola yang baik, perencanaan jangka panjang, dan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah, federasi, sekolah, klub, komunitas olahraga, hingga masyarakat memiliki peran yang saling berkaitan dalam membangun ekosistem pembinaan yang berkelanjutan.

Pengalaman Jepang dapat menjadi contoh yang menarik. Setelah mengalami berbagai keterbatasan pada dekade 1980-an, Jepang menyusun blueprint pengembangan sepak bola secara bertahap melalui penguatan liga profesional, pembinaan usia dini, peningkatan kualitas pelatih, serta kompetisi yang berjenjang. Program tersebut tidak dirancang untuk menghasilkan prestasi dalam waktu singkat, melainkan membangun fondasi yang kuat dalam jangka panjang. Hasilnya dapat dilihat saat Jepang kini menjadi salah satu kekuatan sepak bola Asia yang hampir selalu tampil di Piala Dunia.

Indonesia sebenarnya mulai menunjukkan perkembangan yang cukup positif dalam beberapa tahun terakhir. Prestasi tim nasional meningkat, kualitas skuad semakin kompetitif, dan dukungan masyarakat semakin besar. Namun perjalanan menuju Piala Dunia tetap membutuhkan komitmen yang panjang. Tidak ada jalan pintas untuk mencapai level tertinggi sepak bola dunia.

Karena itu, pembangunan sepak bola tidak dapat hanya menjadi tanggung jawab federasi. Pemerintah daerah, sekolah, klub, komunitas olahraga, dan masyarakat perlu mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing. Pembinaan usia dini harus ditempatkan sebagai investasi jangka panjang. Lapangan yang layak, kompetisi yang rutin, serta akses terhadap pelatihan yang berkualitas merupakan fondasi penting bagi lahirnya pemain-pemain masa depan.

Pemerintah daerah juga memiliki posisi yang strategis. Dukungan terhadap fasilitas olahraga, kompetisi usia muda, dan pembinaan atlet tidak boleh dipandang sebagai kegiatan seremonial semata. Investasi pada olahraga sesungguhnya merupakan investasi pada pembangunan sumber daya manusia. Dari ruang-ruang latihan hari ini, lahir potensi yang kelak dapat mengharumkan nama daerah maupun bangsa.

Banyuwangi sendiri memiliki pengalaman yang menunjukkan bahwa daerah mampu melahirkan atlet berprestasi dunia. Salah satu contohnya adalah Kevin Sanjaya Sukamuljo yang berasal dari Banyuwangi dan berhasil mencapai puncak prestasi bulu tangkis dunia. Keberhasilan tersebut membuktikan bahwa talenta dari daerah memiliki peluang yang sama untuk bersaing di tingkat internasional ketika didukung oleh pembinaan yang tepat. Semangat yang sama seharusnya dapat diterapkan dalam pengembangan sepak bola.

Piala Dunia pada hakikatnya bukan hanya tentang trofi dan gelar juara. Turnamen ini juga memperlihatkan pentingnya perencanaan, konsistensi, dan tata kelola olahraga yang baik. Negara-negara peserta tidak tiba-tiba hadir di panggung dunia. Mereka sampai pada titik tersebut melalui proses panjang yang melibatkan investasi, pembinaan, dan komitmen yang berkelanjutan.

Oleh karena itu, euforia Piala Dunia sebaiknya tidak berhenti pada dukungan terhadap negara favorit atau perdebatan mengenai siapa yang akan menjadi juara. Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk membangun kesadaran bahwa Indonesia memiliki mimpi yang sama. Mimpi untuk suatu hari berdiri sejajar dengan negara-negara terbaik dunia, bukan lagi sebagai penonton, tetapi sebagai peserta.

Ketika turnamen berakhir dan sorak-sorai perlahan mereda, harapan itu seharusnya tetap hidup. Sebab ukuran keberhasilan bukanlah seberapa meriah kita merayakan Piala Dunia, melainkan seberapa serius kita mempersiapkan generasi berikutnya agar suatu hari mampu membawa Merah Putih tampil di panggung sepak bola terbesar dunia. Pada saat itulah euforia Piala Dunia akan memiliki makna yang jauh lebih besar bagi Indonesia. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Piala Dunia #penonton #Euforia