Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kenaikan Pertamax Menjelang Suro: Ujian Keikhlasan atau Ujian Daya Beli?

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Kamis, 18 Juni 2026 | 09:00 WIB
Oleh: Mohammad Haris Jamroni, Departemen Pendidikan dan Pelatihan PC Pergunu Banyuwangi
Oleh: Mohammad Haris Jamroni, Departemen Pendidikan dan Pelatihan PC Pergunu Banyuwangi

RADARBANYUWANGI.ID - Setiap kali bulan Suro datang, orang Jawa punya caranya sendiri untuk "menepi". Ada yang tirakat, ada yang khataman, ada pula yang sekadar duduk menata niat. Suro bukan sekadar pergantian tahun dalam penanggalan Jawa-Islam. Ia adalah pengingat bahwa hidup tidak selalu tentang menambah, tetapi juga tentang mengurangi. Tidak selalu tentang memiliki, tetapi juga tentang mengendalikan diri.

Namun, menjelang datangnya bulan Suro tahun ini, masyarakat dihadapkan pada kenyataan yang cukup mengusik. Harga Pertamax kembali mengalami kenaikan. Kenaikan ini membuat banyak pengguna kendaraan beralih ke Pertalite demi menghemat pengeluaran. Akibatnya, antrean di sejumlah SPBU mengular lebih panjang dari biasanya. Bahkan di beberapa daerah, stok Pertalite sempat menipis hingga masyarakat harus mencari SPBU lain untuk mendapatkan bahan bakar.

Di saat yang sama, harga sejumlah bahan pokok juga mengalami kenaikan. Beras, cabai, bawang, dan kebutuhan rumah tangga lainnya terus merangkak naik. Belum lagi biaya transportasi dan distribusi yang ikut terdampak. Masyarakat pun kembali dihadapkan pada pertanyaan yang sama: apakah ini ujian keikhlasan kita sebagai hamba, atau ujian daya beli kita sebagai rakyat?

Suro Mengajarkan Prihatin

Orang tua Jawa sejak dahulu mengajarkan bahwa Suro adalah bulan prihatin. Makan secukupnya, berbicara seperlunya, dan mengendalikan keinginan yang berlebihan. Tujuannya bukan agar hidup kekurangan, melainkan agar manusia memahami batas dan belajar bersyukur.

Menariknya, kondisi ekonomi yang sedang terjadi menghadirkan pelajaran yang hampir serupa. Banyak keluarga mulai menghitung ulang pengeluaran. Pengguna Pertamax beralih ke Pertalite. Perjalanan yang tidak penting mulai dikurangi. Belanja kebutuhan rumah tangga dilakukan lebih selektif. Bukan karena ingin bertirakat, tetapi karena keadaan memaksa untuk lebih hemat.

Perbedaannya hanya satu. Tirakat Suro adalah pilihan sadar untuk melatih jiwa. Sedangkan penyesuaian pengeluaran akibat kenaikan harga merupakan konsekuensi yang harus diterima masyarakat. Meski demikian, keduanya sama-sama mengajarkan pentingnya mengelola kebutuhan dan mengendalikan keinginan.

Ikhlas Bukan Berarti Pasrah

Di sinilah makna ikhlas perlu dipahami dengan benar. Ikhlas bukan berarti diam tanpa usaha. Ikhlas bukan pula menerima keadaan sambil terus-menerus mengeluh. Dalam Islam, ikhlas selalu berjalan bersama ikhtiar. Masyarakat boleh menerima kenyataan bahwa harga BBM dan beberapa kebutuhan pokok naik, tetapi tetap harus mencari solusi agar kehidupan tetap berjalan.

Mengatur pengeluaran, menggunakan kendaraan secara lebih efisien, berbagi kendaraan dengan rekan kerja, atau mengurangi pemborosan energi adalah bentuk ikhtiar yang nyata.

Suro mengajarkan pengendalian diri. Kenaikan harga mengajarkan efisiensi. Keduanya dapat menjadi sarana pembelajaran agar kita lebih dewasa dalam mengelola kehidupan.

Daya Beli Harus Dijaga

Di sisi lain, kita juga perlu jujur melihat kenyataan. Tidak semua orang memiliki kemampuan ekonomi yang sama. Bagi sebagian masyarakat, kenaikan harga Pertamax mungkin hanya berarti perubahan jenis BBM yang digunakan. Namun bagi pedagang kecil, sopir angkutan, pengemudi ojek, buruh harian, dan keluarga berpenghasilan rendah, setiap kenaikan biaya hidup memiliki dampak yang nyata.

Karena itu, persoalan ini tidak cukup dijawab dengan ajakan untuk ikhlas semata. Negara juga memiliki tanggung jawab memastikan ketersediaan BBM bersubsidi, menjaga distribusi bahan pokok, mengendalikan inflasi, dan menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat kecil.

Kesabaran rakyat harus berjalan beriringan dengan keadilan kebijakan. Sebab dalam ajaran Islam, kemaslahatan masyarakat merupakan tujuan utama yang harus diperjuangkan oleh setiap pemimpin.

Ikhlas yang Produktif

Lalu, apakah ini ujian keikhlasan atau ujian daya beli? Jawabannya mungkin keduanya. Suro mengajarkan kita menerima kenyataan hidup dengan lapang dada. Kondisi ekonomi mengajarkan kita menyikapi kenyataan itu dengan bijaksana. Menerima bukan berarti menyerah. Berhemat bukan berarti kehilangan harapan.

Tirakat zaman sekarang mungkin bukan lagi berjalan tanpa alas kaki atau berendam di sungai tengah malam. Tirakat masa kini bisa berupa mengurangi pemborosan, menggunakan energi secara bijak, mendukung usaha kecil di sekitar kita, serta mendahulukan kebutuhan daripada keinginan.

Harga boleh naik. Antrean SPBU boleh mengular. Bahan pokok boleh merangkak mahal. Namun jangan sampai semangat gotong royong, optimisme, dan kepedulian sosial ikut menurun.

Selamat Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Jawa 1 Suro 1448 Hijriah. Semoga setiap ujian yang datang tidak membuat kita mundur, tetapi justru mengangkat derajat kedewasaan kita sebagai pribadi, masyarakat, dan bangsa. Mugi-mugi ujian iki dadi dalan munggah, dudu dalan mudhun. Aamiin. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#pertamax #jawa #tahun baru islam #bulan Suro #Hijriyah