RADARBANYUWANGI.ID - Semenjak media sosial semakin populer, yang dikhawatirkan orang mulai bergeser: dari wartawan ke pengguna media sosial. Siapa saja bisa bikin akun dengan nama palsu, lalu upload dan share apa saja di media sosial: mulai data kantor yang paling rahasia, hingga paha mulus diri sendiri. Dan belakangan, muncul sumber kecemasan baru yang bernama kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Perubahan ini akan melahirkan pertanyaan yang tak kalah mencemaskan. Apakah setiap pengguna media sosial harus kita curigai punya akun palsu? Apakah setiap foto, video, dan suara yang beredar di internet harus kita anggap palsu? Atau jangan-jangan kita mulai menjadi pribadi yang paranoid terhadap teknologi yang kita ciptakan sendiri?
Kekhawatiran tersebut tentu tidak muncul tanpa sebab. Tidak sedikit dokumen organisasi dan kantor yang bocor bukan dari media massa, melainkan justru dari pengguna media sosial. Informasi pribadi tersebar tanpa izin. Percakapan yang semestinya private tiba-tiba menjadi konsumsi publik.
Kini, dengan bantuan AI, orang yang tidak pernah bernyanyi dapat dibuat seolah-olah sedang bernyanyi. Orang yang tidak pernah mengucapkan suatu kalimat dapat dibuat seakan-akan sedang berbicara. Bahkan wajah seseorang dapat ditempelkan pada video yang tidak pernah ia lakukan.
Hari ini, ketika sebuah video viral muncul di media sosial, sebagian orang langsung percaya. Sebagian yang lain langsung menuduhnya hasil AI. Batas antara yang asli dan yang palsu memang semakin menipis. Teknologi membuat kemungkinan manipulasi semakin besar dan semakin sulit dikenali.
Namun, apakah karena kemungkinan itu semua pengguna media sosial layak dicurigai? Apakah semua hasil teknologi harus ditakuti? Apakah setiap orang yang mengirim video kepada kita harus dianggap pasti palsu dan menipu?
Tapi sebelum ke situ, marilah kita rileks terlebih dahulu agar tidak terlalu tegang dan kaku. Kita semua mungkin pernah mengalami nasib-nasib sial dikhawatirkan dan dicurigai: mulai dari dikhawatirkan membocorkan perahu, mencekik anak kecil, atau siapa tahu tiba-tiba kita bersedia menegakkan pagar yang miring.
Eh, itu kan kisah Nabi Khidir tatkala menjadi gurunya Nabi Musa. Ah, agar rileks, mending kita nikmati kembali saja nasib sial tokoh legendaris lawas kita yang penuh canda tawa secara satir, yakni Abu Nawas, agar kita bisa tertawa terbahak-bahak dan terpingkal-pingkal.
Ya, Abu Nawas sedang sial. Tiba-tiba saja ditangkap aparat, dibawa ke kerajaan, dan akan segera dijebloskan begitu saja ke dalam penjara gara-gara Abu Nawas punya sebilah pisau di rumahnya yang dikhawatirkan digunakan untuk membunuh orang.
Tapi dasar Abu Nawas. Dia dengan lantang bilang: "Kalau begitu alasannya, saya setuju masuk penjara asalkan raja kita yang ganteng dan terhormat ini juga turut masuk penjara."
"Lho, kok bisa?" tanya aparat.
"Bisa," jawab Abu Nawas, mantap. "Pasalnya," kata Abu Nawas," sebagai pria sejati, paduka raja kita ini memiliki alat kelamin. Dan saya khawatir alat kelamin sang raja kita ini digunakan untuk memperkosa semua wanita..."
Logika Abu Nawas tersebut jelas membuat semua orang tertawa lebar. Sebab menghukum seseorang hanya berdasarkan kemungkinan yang belum terjadi adalah sesuatu yang absurd. Di situlah letak kandungan ilmunya. Tidak semua kemungkinan harus diperlakukan sebagai kenyataan.
Media sosial hanyalah alat. AI pun alat. Keduanya dapat digunakan untuk kebaikan maupun keburukan. Media sosial bisa menjadi sarana menyebarkan fitnah dan hoax, tetapi juga bisa menjadi tempat pelaku UMKM memasarkan produknya. Banyak orang memperoleh pengetahuan, pekerjaan, dan jaringan pertemanan melalui ruang digital yang sebelumnya tidak pernah mereka miliki.
AI juga tidak selalu identik dengan perkara manipulasi. AI bisa membantu kita menerjemahkan bahasa, mengolah data, melakukan riset, mendukung layanan kesehatan, hingga mempercepat pekerjaan yang sebelumnya memerlukan waktu berhari-hari. Masalahnya bukan pada teknologi yang pasti lahir dan berkembang sepanjang zaman, melainkan berada di genggaman manusia yang menggunakannya.
Karena itu, tantangan terbesar kita hari ini bukan "memusuhi" media sosial ataupun AI. Tantangan sesungguhnya adalah membangun etika, meningkatkan literasi digital, serta melatih kemampuan untuk tabayyun memverifikasi informasi. Kita perlu belajar membedakan mana fakta dan mana rekayasa. Mana informasi yang layak dipercaya dan mana yang perlu diuji terlebih dahulu.
Kita memang perlu waspada. Akan tetapi, waspada berbeda dengan menjadi paranoid. Orang yang waspada berpikir sebelum bertindak, sedangkan orang yang paranoid sering kali curiga sebelum memiliki alasan yang cukup.
Jika semua orang dicurigai hanya karena memiliki akun media sosial, maka kepercayaan sosial akan runtuh. Jika semua foto dianggap palsu, semua video dianggap rekayasa, semua suara dianggap hasil AI, dan semua orang dianggap berpotensi meng-upload privacy, maka yang pertama kali hilang bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan kemampuan kita untuk hidup bersama secara normal.
Hubungan keluarga, pertemanan, pekerjaan, hingga kehidupan berorganisasi membutuhkan kepercayaan sebagai perekatnya. Tidak ada masyarakat yang dapat bertahan hanya dengan rasa curiga. Sebab cepat atau lambat, yang bocor bukan lagi dokumen atau data pribadi, melainkan ketenangan hidup kita sendiri.
Kalau dituruti, kehidupan ini tidak akan pernah kekurangan alasan untuk membuat orang selalu overthinking dan khawatir. Dulu orang khawatir pada surat kabar. Kemudian pada televisi. Lalu pada media sosial. Kini pada artificial intelligence. Setiap zaman memiliki sumber kecemasannya sendiri.
Namun, kehidupan tidak bisa dijalani dengan ketakutan terus menerus. Di tengah derasnya media sosial beserta gelombang algoritmanya dan pesatnya perkembangan AI, yang kita perlukan bukan menjadi paranoid terhadap segala hal, melainkan menjaga akal sehat, waspada, dan kemampuan untuk memverifikasi informasi. Sebab teknologi boleh berubah dari zaman ke zaman, tetapi kehidupan tetap memerlukan kepercayaan. Dan yang perlu kita garisbawahi adalah hidup akan terasa lebih ringan ketika kita mampu bersikap rasional dan waspada namun tanpa kehilangan kemampuan untuk saling mempercayai. (*)
Editor : Ali Sodiqin