Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tantangan Keluarga Muslim

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Selasa, 9 Juni 2026 | 08:30 WIB
Oleh: Atina Balqis Izzah, Lc, MA. Dosen UIMSYA Fakultas Ushuluddin dan Syariah, Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Dosen Ma’had Aly Darussalam Blokagung
Oleh: Atina Balqis Izzah, Lc, MA. Dosen UIMSYA Fakultas Ushuluddin dan Syariah, Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Dosen Ma’had Aly Darussalam Blokagung

RADARBANYUWANGI.ID - Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa angka pernikahan di Indonesia terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada saat yang sama, berbagai penelitian dan laporan lembaga perlindungan anak mengingatkan meningkatnya tantangan yang dihadapi generasi muda, mulai dari paparan pornografi, pergaulan bebas, hingga krisis ketahanan keluarga.

Fenomena ini tidak dapat dipandang sebagai persoalan individu semata, melainkan sebagai alarm bagi dunia pendidikan dan keluarga. Apa yang dahulu dianggap tabu, kini perlahan dipertontonkan. Apa yang dahulu dijaga rapat oleh rasa malu, kini justru dipamerkan. Bahkan sebagian perkara yang jelas-jelas dilarang agama mulai dianggap sebagai pilihan hidup yang harus diterima tanpa kritik.

Inilah salah satu tantangan besar yang sedang dihadapi keluarga Muslim hari ini. Karena itu, pendidikan anak tidak lagi cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan fisik dan akademik mereka. Kita membutuhkan benteng yang jauh lebih kuat: akidah yang kokoh, pemahaman agama yang benar, serta akhlak yang hidup dalam keseharian.

Misalnya saja, fenomena manusia yang sudah enggan hidup dengan ikatan. Mereka lebih senang hidup bebas dari tanggung jawab maupun segala kewajiban berkeluarga. Namun di sisi lain, dorongan seksual menjadi kebutuhan. Sehingga tidak ada jalan keluar kecuali melakukan hubungan di luar pernikahan. Hal ini tampak dari menurunnya angka pernikahan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa jumlah pernikahan yang tercatat terus mengalami penurunan. Pada saat yang sama, berbagai penelitian berbasis data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan bahwa perilaku seksual pranikah di kalangan remaja dan dewasa muda masih menjadi fenomena yang perlu mendapat perhatian serius.

Belum lagi penyimpangan orientasi seksual yang saat ini sudah menjadi seperti hal biasa yang dipertontonkan. Beberapa negara bahkan sudah melegalkan hal tersebut. Meski tidak ada data akurat terkait berapa persen populasi LGBT di Indonesia, berbagai pemberitaan dan kasus yang muncul menunjukkan bahwa fenomena tersebut semakin sering terlihat di ruang publik maupun media sosial.

Di ruang digital, anak-anak kita juga dihantui dengan musuh terbesar perkembangan otak mereka; konten pornografi. Saya sering sekali menyampaikan kepada para ibu saat dalam kajian, “Kalau dulu konten porno ini harus dicari, sekarang mereka dengan mudahnya menghampiri anak-anak kita melalui iklan-iklan yang berseliweran di game misalnya.”

Ini bahaya yang tidak main-main. Sejumlah pakar adiksi menjelaskan bahwa paparan pornografi yang berulang dapat memengaruhi sistem penghargaan (reward system) otak, mengganggu konsentrasi, kontrol diri, serta perkembangan psikologis anak apabila tidak ditangani dengan baik (Dr Mark B, pakar adiksi pornografi dari USA).

Mirisnya, KPAI pada tahun 2026 menyampaikan bahwa sekitar 5 juta anak Indonesia telah terpapar konten pornografi. Angka ini menjadi peringatan serius bahwa ancaman terhadap anak-anak kita tidak lagi hanya datang dari lingkungan fisik, tetapi juga dari ruang digital yang mereka akses setiap hari.

Dan tentunya masih banyak lagi tantangan hidup modern yang sedang kita hadapi.

Karena itu, benteng utama yang harus kita perkuat bukan hanya pengawasan, tetapi juga akidah, agama, dan akhlak yang tertanam kuat dalam diri anak-anak kita. Bangunlah kedekatan emosional (bonding) dengan mereka. Jadilah tempat yang paling nyaman untuk mereka bercerita, tempat yang paling aman untuk mereka kembali, dan tempat yang paling dipercaya untuk mencari jawaban. Sebab ketika dunia luar berusaha menarik mereka ke berbagai arah, anak-anak yang memiliki ikatan kuat dengan orang tuanya akan selalu menemukan jalan untuk pulang.

Mungkin kita tidak mampu mengubah dunia yang semakin kompleks ini. Namun kita masih mampu membangun rumah yang penuh iman, ilmu, cinta, dan keteladanan. Dan dari rumah-rumah seperti itulah lahir generasi yang tetap teguh menjaga nilai-nilai Islam di tengah kerasnya arus zaman membawa mereka keluar dari nilai kebenaran. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#keluarga muslim #ketahanan keluarga #pernikahan