RADARBANYUWANGI.ID - Kita sedang hidup di masa yang sangat unik. Dulu teknologi membantu manusia bekerja lebih cepat. Sekarang teknologi mulai membantu manusia berpikir, menganalisis, bahkan mengambil keputusan. Kecerdasan buatan sudah masuk ke hampir semua sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, bisnis, pemerintahan, hingga politik internasional.
Pertanyaannya bukan lagi apakah kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan mengubah dunia. Itu sudah terjadi. Pertanyaannya adalah bagaimana kita memastikan perubahan tersebut tetap berpihak pada manusia.
Hal inilah yang mendasari Universitas Islam Cordoba Banyuwangi menggelar diskusi internasional tentang AI. Yakni melalui International Lecture bertajuk "Beyond Algorithms: Ethics, Trust, and Human Flourishing in the AI Era" pada Jumat (5/6).
Universitas Islam Cordoba merasa perlu mengangkat tema etika dan kemanusiaan dalam diskusi tentang AI. Karena teknologi tidak pernah benar-benar netral. Teknologi selalu membawa konsekuensi sosial, politik, ekonomi, bahkan moral.
AI dapat membantu manusia menyelesaikan banyak persoalan. Tetapi AI juga dapat memperbesar ketimpangan, memperkuat manipulasi informasi, dan menggeser berbagai fungsi manusia jika tidak diarahkan dengan baik.
Karena itu kami ingin menghadirkan diskusi yang tidak hanya bertanya apa yang bisa dilakukan oleh teknologi, tetapi juga apa yang seharusnya dilakukan dan untuk tujuan apa teknologi itu digunakan.
Kami menghadirkan tiga perspektif yang saling melengkapi. Dr Halimin Herjanto dari Amerika Serikat membahas bagaimana membangun kepercayaan di tengah dunia pemasaran yang semakin dikendalikan algoritma.
Prof. Suyatno Ladiqi dari Malaysia mengulas bagaimana kecerdasan buatan mulai memengaruhi politik global dan bagaimana etika Islam dapat menjadi panduan dalam tata kelola AI.
Sedangkan saya sendiri membahas bagaimana manusia tetap relevan ketika mesin semakin cerdas. Jadi kita berbicara tentang AI dari sudut bisnis, politik global, dan masa depan manusia sekaligus.
Dalam forum tersebut saya mempresentasikan “The Human Advantage: Faith, Wisdom, and Relevance in the Age of AI. Ini didasari banyak orang khawatir AI akan menggantikan manusia. Menurut saya, pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang tidak bisa digantikan oleh AI?
Mesin mungkin bisa menghitung lebih cepat. Mesin mungkin bisa mengingat lebih banyak data. Tetapi manusia memiliki kebijaksanaan, empati, intuisi moral, kemampuan memberi makna, dan kesadaran spiritual.
Di masa depan, yang paling relevan bukanlah mereka yang hanya memiliki informasi paling banyak. Yang paling relevan adalah mereka yang memiliki karakter, kebijaksanaan, dan kemampuan menggunakan teknologi untuk kebaikan bersama.
Selain berasal dari sivitas akademika dan mahasiswa Universitas Islam Cordoba, peserta diskusi internasional ini berasal dari perguruan tinggi keagamaan Islam Swasta di Banyuwangi dan Bondowoso. Kami juga secara khusus mengundang Lakpesdam NU Banyuwangi karena kami percaya diskusi tentang AI tidak boleh hanya menjadi percakapan di ruang akademik. Masyarakat sipil, organisasi keagamaan, dan komunitas lokal juga perlu terlibat karena dampak AI akan dirasakan oleh semua orang.
Saya berharap mereka pulang dengan kesadaran baru bahwa masa depan tidak hanya dibentuk oleh algoritma. Masa depan juga dibentuk oleh nilai-nilai yang kita pilih untuk dipertahankan.
Teknologi akan terus berkembang. AI akan semakin canggih. Namun pertanyaan tentang kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kebijaksanaan akan tetap menjadi pertanyaan manusia.
Karena pada akhirnya, tantangan terbesar abad ke-21 bukanlah menciptakan mesin yang lebih cerdas. Tantangan terbesar kita adalah memastikan manusia tetap bijaksana ketika teknologi menjadi semakin kuat. (*)
*) Disarikan dari kegatan International Lecture bertajuk “Beyond Algorithms: Ethics, Trust, and Human Flourishing in the AI Era” di UI Cordoba Banyuwangi pada Jumat (5/6).
Editor : Ali Sodiqin