Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Seniman Muda Banyuwangi dan Masa Depan Budaya Blambangan

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Jumat, 5 Juni 2026 | 12:00 WIB
Oleh: Reni Yuliyana, Mahasiswi Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, Universitas KH Mukhtar Syafaat
Oleh: Reni Yuliyana, Mahasiswi Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, Universitas KH Mukhtar Syafaat

RADARBANYUWANGI.ID - Budaya Blambangan merupakan identitas historis masyarakat Banyuwangi yang lahir dari perpaduan tradisi Osing, seni pertunjukan, sastra lisan, hingga nilai spiritual masyarakat lokal. Namun, di tengah arus globalisasi dan budaya digital, eksistensi budaya lokal menghadapi tantangan serius. 

Generasi muda Banyuwangi saat ini hidup dalam ruang budaya yang semakin terbuka sehingga budaya populer global lebih mudah memengaruhi pola hidup dan cara pandang mereka dibandingkan budaya daerah sendiri. Akibatnya, sejumlah tradisi lokal mulai kehilangan ruang regenerasi dan kurang diminati oleh kalangan muda.

Di tengah kondisi tersebut, muncul peran penting seniman muda Banyuwangi yang berupaya menjaga eksistensi budaya Blambangan melalui berbagai bentuk kreativitas. Mereka tidak hanya tampil dalam pertunjukan seni tradisional, tetapi juga memanfaatkan media digital, musik modern, hingga konten media sosial untuk memperkenalkan budaya lokal kepada generasi sekarang.

Festival budaya seperti Gandrung Sewu dan Banyuwangi Festival menjadi ruang strategis bagi anak muda untuk menampilkan karya sekaligus memperkuat identitas budaya daerah. Bahkan, sejumlah seniman muda Banyuwangi pernah tampil dalam festival budaya internasional di Arab Saudi sebagai representasi budaya Indonesia dari Banyuwangi. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa budaya lokal tetap memiliki daya tarik apabila dikemas secara kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman.

Dalam perspektif teori komunikasi budaya, seni merupakan media transmisi nilai sosial (social values) yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. budaya tidak hanya dipahami sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai proses produksi makna yang terus berkembang sesuai konteks sosial Masyarakat (Stuart Hall, 1997). Artinya, budaya Blambangan bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan identitas kolektif masyarakat Banyuwangi yang terus dibangun melalui karya seni, bahasa, dan ruang publik.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Pierre Bourdieu (1986) melalui konsep cultural capital atau modal budaya yang menyebut bahwa budaya lokal dapat menjadi modal sosial suatu masyarakat. Seni dan tradisi tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga berfungsi memperkuat legitimasi identitas daerah di tengah perubahan sosial. Dalam konteks Banyuwangi, keterlibatan seniman muda dalam pelestarian budaya menjadi bentuk perjuangan mempertahankan identitas lokal (local identity) agar tidak hilang akibat dominasi budaya global.

Selain itu, komunikasi penyiaran juga memiliki peran penting dalam pelestarian budaya daerah. Media saat ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi ruang edukasi sosial dan budaya. Penelitian Hermawan (2024) menunjukkan bahwa media MISNTV Banyuwangi melalui program “Sorot Blambangan” memanfaatkan media digital sebagai sarana memperkenalkan budaya lokal seperti gandrung, kebo-keboan, dan tradisi masyarakat Osing kepada publik yang lebih luas.

Hal ini membuktikan bahwa perkembangan media digital sebenarnya dapat menjadi peluang besar bagi pelestarian budaya apabila dimanfaatkan secara tepat. Meskipun demikian, upaya pelestarian budaya Blambangan juga menimbulkan perdebatan. Sebagian pihak mendukung keterlibatan generasi muda dalam seni budaya karena dianggap mampu menjaga identitas lokal sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bahkan menjadikan seni budaya sebagai instrumen pembangunan daerah dan promosi wisata internasional. Menurut Dewan Kesenian Blambangan, perkembangan budaya lokal berhasil mengangkat citra Banyuwangi hingga dikenal secara nasional maupun global (Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, 2020).

Namun, tidak sedikit pula yang mengkritik fenomena komersialisasi budaya Banyuwangi. Sebagian tradisi dianggap mulai kehilangan nilai filosofis karena lebih difokuskan pada kepentingan hiburan dan pariwisata. Pertunjukan budaya kadang hanya dipahami sebagai tontonan visual tanpa pemahaman mendalam terhadap sejarah dan makna tradisinya.

Selain itu, penggunaan media sosial juga memunculkan kekhawatiran terhadap penyederhanaan budaya demi kebutuhan konten digital yang cepat dan populer. Tantangan lain terletak pada minimnya pendidikan budaya formal bagi generasi muda. Banyak seniman muda belajar secara otodidak tanpa dokumentasi budaya yang kuat sehingga beberapa tradisi berpotensi mengalami perubahan bentuk. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara inovasi kreatif dan pelestarian nilai asli budaya Blambangan agar identitas lokal tidak berubah menjadi sekadar komoditas hiburan modern.

Saat ini, implementasi pelestarian budaya di Banyuwangi sudah dilakukan melalui berbagai bentuk kegiatan nyata. Pemerintah daerah secara rutin mengadakan festival budaya dan pertunjukan seni yang melibatkan generasi muda sebagai pelaku utama. Sanggar-sanggar seni di Banyuwangi juga aktif membina anak muda dalam bidang tari gandrung, musik angklung, hingga sastra Osing. Selain itu, media digital mulai dimanfaatkan untuk mendokumentasikan budaya lokal agar lebih mudah diakses masyarakat luas.

Melalui berbagai upaya tersebut, dapat dipahami bahwa masa depan budaya Blambangan sangat bergantung pada generasi muda Banyuwangi. Seniman muda bukan hanya pelaku seni, tetapi juga penjaga identitas sosial masyarakat Banyuwangi di tengah perubahan zaman. Budaya Blambangan pada akhirnya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bagian penting dari jati diri masyarakat yang harus terus dirawat, dipelajari, dan dikembangkan secara kreatif tanpa kehilangan nilai dasarnya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#budaya #Seniman #banyuwangi