Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Reaktualisasi Nilai Pancasila: Membangun Imunitas Anak dari Paparan Radikalisme di Era Gaming

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Rabu, 3 Juni 2026 | 08:00 WIB
Oleh: Heri Junaidi SSos, Sekretaris PC Badan Perencanaan Nahdlatul Ulama Situbondo/Sekretaris Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Al Muhajirin Desa Curah Jeru, Panji, Situbondo
Oleh: Heri Junaidi SSos, Sekretaris PC Badan Perencanaan Nahdlatul Ulama Situbondo/Sekretaris Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Al Muhajirin Desa Curah Jeru, Panji, Situbondo

RADARBANYUWANGI.ID - Kamar tidur anak yang dahulu dianggap sebagai ruang paling aman, kini telah berubah menjadi portal tak terbatas menuju dunia luar. Melalui layar gawai dan pelantang telinga, anak-anak kita terhubung dengan jutaan manusia di seluruh penjuru dunia dalam semesta gaming. Di satu sisi, ini adalah keniscayaan perkembangan kognitif dan teknologi. Namun di sisi lain, dari kacamata psikologi Islam, realitas ini membawa ancaman senyap yang menargetkan qalb (hati) dan pikiran generasi muda kita: infiltrasi ideologi radikalisme.

Sebagai orang tua dan pendidik, kita sering kali hanya mengkhawatirkan adiksi atau paparan pornografi. Padahal, kelompok radikal masa kini telah bermetamorfosis. Mereka tidak lagi merekrut di ruang-ruang gelap yang tersembunyi, melainkan melalui ruang obrolan (voice chat) di game online, platform Discord, hingga forum-forum e-sports. Mereka memanfaatkan kebutuhan psikologis remaja akan identitas, eksistensi, dan heroism, sebuah fase pencarian jati diri yang sangat rentan.

Dalam menghadapi ancaman siber-ideologis ini, pendekatan represif seperti melarang anak bermain game sepenuhnya sering kali menjadi bumerang yang memicu pemberontakan. Solusi yang lebih fundamental dan komprehensif adalah membangun "sistem imun" kognitif dan spiritual dari dalam diri anak. Di sinilah reaktualisasi nilai-nilai Pancasila, yang sejatinya sangat selaras dengan prinsip-prinsip syariat Islam, menjadi vaksin psikologis yang krusial.

Anatomi Psikologis Radikalisasi di Dunia Gaming

Sebelum memberikan intervensi, kita harus memahami bagaimana radikalisme meretas psikologi anak di era gaming. Secara alamiah, karakter dan pemikiran anak sangat mudah dibentuk oleh lingkungan pergaulannya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dengan siapa ia berteman." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Lingkungan di sekitar anak, termasuk siapa teman interaksinya di lingkungan virtual, sangat menentukan corak pemikiran mereka.

Dunia game, terutama yang bergenre First-Person Shooter (FPS) atau Role-Playing Game (RPG), menawarkan simulasi peperangan, kerja sama tim, dan kepahlawanan. Kelompok radikal menyusup ke dalam klan atau guild di dalam game dengan taktik grooming. Mereka awalnya hadir sebagai sosok "kakak" atau "mentor" yang ramah, mabar (main bareng), dan memberikan validasi emosional yang mungkin tidak didapatkan anak di rumah.

Setelah secure attachment (kelekatan yang aman) palsu ini terbentuk, narasi radikal mulai disuntikkan secara perlahan. Mereka memutarbalikkan konsep jihad, menyemai kebencian terhadap l'yan (mereka yang berbeda/pemerintah/non-muslim), dan mempromosikan pemikiran hitam-putih (kognisi rigid). Akibatnya, anak mengalami desensitisasi empati; kekerasan di dunia maya perlahan dianggap sebagai solusi yang sah di dunia nyata.

Reaktualisasi Pancasila sebagai Vaksin Kognitif dan Spiritual

Pancasila bukanlah sekadar hapalan wajib saat upacara bendera. Dalam perspektif psikologi Islam, kelima sila tersebut adalah pengejawantahan dari maqashid syariah (tujuan syariat) yang berfungsi sebagai tameng dari paparan radikalisme.

Ketuhanan yang Maha Esa. Sila pertama adalah fondasi spiritual (Tauhidi) untuk membangun muraqabah dan agama cinta damai. Dalam konteks psikologi anak, nilai ini diaktualisasikan dengan menanamkan kesadaran muraqabah, merasa selalu diawasi oleh Allah SWT, bahkan saat menggunakan identitas anonim di dunia game. Orang tua perlu meluruskan teologi anak bahwa Islam adalah agama Rahmatan lil 'Alamin (rahmat bagi seluruh alam). Pemahaman Ketuhanan yang benar akan mencegah anak jatuh pada doktrin takfiri (mudah mengkafirkan orang lain) yang kerap dibawa kelompok radikal. Anak yang mengenal Allah Yang Maha Pengasih (Ar-Rahman) tidak akan mudah terbuai oleh narasi kebencian dan peperangan tanpa alasan yang syar'i.

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sila kedua hadir untuk menghidupkan empati dan akhlaqul karimah. Paparan game kompetitif sering kali menumpulkan kepekaan sosial (social blunting). Dalam Islam, hal ini adalah tentang Akhlaqul Karimah (akhlak yang mulia) dan Hablum minannas (hubungan baik antarmanusia). Penulis menyarankan orang tua untuk terus melatih affective empathy anak. Ajak anak membedakan mana realitas game dan mana realitas kemanusiaan sesungguhnya.  Ketika ada pemain yang melakukan perundungan siber (cyberbullying) atau melontarkan ujaran kebencian di dalam game, ajarkan anak untuk mengambil sikap adil dan beradab. Jangan ikut-ikutan, laporkan (report), atau tinggalkan ruangan tersebut.

Persatuan Indonesia. Sila ketiga membongkar sekat-sekat eksklusivisme ini untuk memperkuat ukhuwah wathaniyah di ruang virtual. Radikalisme tumbuh subur dari polarisasi "Kita vs Mereka" (in-group vs out-group bias). Al-Qur'an secara indah menegaskan dalam Surah Al-Hujurat ayat 13, bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal (lita'arafu). Aktualisasinya di dunia gaming adalah mengajarkan anak untuk bermain dan berteman dengan siapa saja tanpa membedakan suku, ras, atau agama rekan satu timnya. Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan sebangsa) yang kuat akan membuat anak imun dari ajakan kelompok-kelompok yang ingin memecah belah negara dengan alasan agama.

Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan. Sila keempat ini mengajarkan tabayyun dan kritis. Artinya, menuntut adanya "hikmat kebijaksanaan", yang dalam psikologi kognitif sejalan dengan critical thinking (berpikir kritis) dan dalam Islam disebut Tabayyun (klarifikasi). Karena dunia digital dipenuhi oleh hoaks, propaganda, dan manipulasi informasi. Anak-anak gamers harus diajarkan untuk tidak menelan mentah-mentah tautan artikel, video, atau doktrin yang dibagikan oleh teman daringnya. Biasakan budaya Syura (musyawarah) di dalam rumah. Jadikan meja makan keluarga sebagai ruang aman bagi anak untuk menceritakan apa yang ia dengar di internet, tanpa takut dihakimi. Dialog yang demokratis di rumah akan menutup celah radikalisme.

Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sila kelima mengajarkan keseimbangan (Tawazun). Artinya, sikap proporsional dalam bermain. Keadilan bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga adil terhadap diri sendiri. Bermain game hingga melupakan kewajiban shalat, belajar, dan interaksi sosial dunia nyata adalah bentuk kezaliman terhadap diri sendiri. Gaya hidup gaming yang tidak proporsional menciptakan ruang hampa atau keterasingan sosial (alienasi), yang menjadi ladang gembur bagi perekrut radikal. Orang tua harus membantu anak menyusun jadwal hidup yang adil, kapan waktu menatap layar, dan kapan waktu berinteraksi sosial secara fisik.

Tarbiyah Era Digital sebagai Tindakan Preventif Orang Tua

Sebagai penutup, reaktualisasi nilai Pancasila tidak bisa hanya berjalan di level teori. Diperlukan Tarbiyah (pendidikan dan pengasuhan) yang proaktif dari orang tua. Beberapa langkah konkret yang bisa diambil adalah Pertama, Hadir Secara Emosional (Kehadiran Jiwa). Jangan biarkan anak merasa kesepian di tengah keramaian keluarganya. Anak yang kenyang akan kasih sayang dan validasi positif dari orang tuanya, tidak akan mencari "figur pahlawan" dari perekrut radikal di dunia maya. 

Kedua, Jadilah Co-Gamer. Sekali-kali, ikutlah masuk ke dalam dunia mereka. Cobalah bermain game yang mereka mainkan. Pahami istilah-istilahnya. Dengan begitu, orang tua memiliki otoritas dan kedekatan untuk menasihati mereka jika ada percakapan atau pemain yang mulai menyimpang. Ketiga, Literasi Digital Berbasis Tazkiyatun Nafs. Ajarkan anak bahwa menyaring informasi di internet bukan hanya soal keamanan siber, tetapi juga soal menjaga kebersihan jiwa (tazkiyatun nafs). Mata dan telinga kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

Radikalisme di era gaming adalah ancaman asimetris yang nyata. Akan tetapi, dengan mengawinkan pendekatan psikologi Islam dan reaktualisasi nilai-nilai luhur Pancasila, kita sedang memakaikan zirah besi tak terlihat pada jiwa anak-anak kita. Marilah wujudkan keluarga sebagai benteng pertama dan utama. Tempat di mana fitrah dijaga, empati disemai, dan nalar kritis ditumbuhkan. Wallahu a'lam bish-shawab. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#era gaming #gawai #Pancasila #kamar tidur #internet