Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Siapa yang Menjaga Ingatan Banyuwangi?

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Rabu, 20 Mei 2026 | 02:30 WIB
Oleh: Agus Trihartono, Rektor Universitas Islam Cordoba, Banyuwangi
Oleh: Agus Trihartono, Rektor Universitas Islam Cordoba, Banyuwangi

RADARBANYUWANGI.ID - Barang kali inilah ironi terbesar zaman digital: kita memproduksi lebih banyak konten daripada generasi mana pun, tetapi belum tentu meninggalkan lebih banyak ingatan. Semuanya bergerak cepat  berbentuk unggahan, komentar, kemarahan, serta kekaguman. Lalu kemudian hilang sebelum sempat benar-benar tinggal dan mengendap.

Padahal, sejarah tidak selalu dibangun oleh mereka yang paling cepat. Sejarah sering kali dibangun oleh orang-orang yang sabar menyimpan jejak zaman.

Karena itu, membaca Man Nahnu 6: Dari Banyuwangi Menyala Api Harapan Ibu Pertiwi karya Samsudin Adlawi terasa seperti menemukan sesuatu yang makin langka di era algoritma: sebuah ketekunan intelektual.

Di era yang bergerak secepat jempol di TikTok, Samsudin memilih sesuatu yang nyaris terasa kuno hari ini: menulis secara konsisten.

Namun justru di situlah nilai peradabannya.

Kita sering lupa bahwa sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh jalan raya, hotel, bandara, atau festival. Ia juga dibangun oleh narasi tentang dirinya sendiri. Oleh cara ia menceritakan luka, harapan, kegelisahan, bahkan rasa malunya.

Tanpa narasi, sebuah daerah hanya menjadi koordinat geografis. Dengan narasi, ia berubah menjadi kesadaran kolektif yang hidup.

Mungkin itu sebabnya saya selalu teringat pada tradisi Catatan Pinggir Gunawan Mohamad (GM) ketika membaca buku ini. Puluhan tahun GM menulis di Tempo. Rezim boleh naik turun silih berganti, teknologi berubah tiada henti, media runtuh satu demi satu seperti menghitung jari, namun GM tetap mencatat denyut zaman dengan penuh nyali. Bukan karena semua tulisannya selalu populer, melainkan karena ia memahami satu hal penting: bangsa yang berhenti menulis perlahan akan kehilangan ingatan.

Ketika masyarakat kehilangan ingatan, ia akan mudah dijajah ulang, dijajah oleh propaganda, oleh disinformasi, oleh budaya instan, bahkan oleh lupa terhadap dirinya sendiri.

Dalam lanskap inilah Man Nahnu 6 menjadi lebih dari sekadar kumpulan artikel koran. Ia adalah arsip psikologis Banyuwangi.

Perhatikan tema-tema yang ada di dalamnya: seni, pendidikan, narkoba, sepak bola, birokrasi, disinformasi, spiritualitas, pariwisata, hingga GASING dan anak-anak Banyuwangi yang menembus olimpiade dunia. Semuanya tampak seperti potongan kecil. Namun justru dari serpihan-serpihan itulah kita melihat wajah utuh sebuah daerah yang sedang berbicara kepada dirinya sendiri.

Dan daerah yang mampu berbicara kepada dirinya sendiri sejatinya sedang naik kelas secara peradaban.

Sebab kemajuan sejati bukan hanya soal beton dan gedung yang berdiri, tetapi juga tentang kemampuan sebuah masyarakat membaca dan memikirkan dirinya sendiri.

Hari ini kita memiliki begitu banyak “konten kreator”, tetapi terlalu sedikit “penjaga ingatan”. Video pendek bertebaran setiap detik, sementara dokumentasi jangka panjang makin jarang dikerjakan. Dunia terasa semakin ramai, tetapi tidak selalu semakin dalam.

Di tengah suasana seperti itu, kebiasaan menulis mingguan sebenarnya adalah bentuk perlawanan sunyi terhadap amnesia sosial.

Saya membayangkan, lima puluh tahun lagi mungkin banyak baliho sudah hilang, banyak slogan politik sudah dilupakan, bahkan banyak pejabat tak lagi diingat. Tetapi tulisan-tulisan yang tekun didokumentasikan bisa tetap hidup. Kita membaca Hamka hari ini bukan karena ia punya media sosial. Kita tetap membaca Pramoedya Ananta Toer bukan karena algoritma. Kita mengenang Tan Malaka, Hatta, Sukarno bukan karena viralitas.

Mereka tetap hidup karena meninggalkan tulisan.

Dan mungkin, salah satu kelemahan terbesar banyak daerah di Indonesia adalah terlalu sibuk membangun pencitraan, tetapi malas membangun arsip pemikiran. Kita rajin membuat acara, tetapi jarang menyimpan refleksi intelektualnya. Kita sibuk mengejar branding, tetapi lupa membangun tradisi literasi yang tahan waktu.

Padahal peradaban besar selalu lahir dari kebiasaan mencatat. Peradaban Mesir Kuno meninggalkan hieroglif. Tiongkok meninggalkan kronik dinasti. Dunia Islam meninggalkan manuskrip. Eropa modern dibangun di atas arsip dan tradisi dokumentasi.

Lalu Banyuwangi ingin meninggalkan apa?

Untungnya, selalu ada orang-orang yang memilih menjadi “penulis denyut zaman”. Orang-orang yang sadar bahwa daerah bukan sekadar ruang administratif, melainkan ruang makna.

Dan Samsudin Adlawi telah, sedang, dan (semoga) terus melakukan itu.

Ia tidak menulis Banyuwangi sebagai brosur promosi wisata. Ia menulisnya sebagai ruang emansipasi, ruang kritik sosial, ruang budaya, sekaligus ruang harapan.

Dalam banyak tulisannya terasa satu energi yang menarik: keyakinan bahwa daerah pinggiran pun bisa menjadi pusat cahaya. Bahwa “ujung timur Jawa” bukan halaman belakang republik, melainkan salah satu tempat di mana api harapan justru menyala.

Ini penting. Sebab selama bertahun-tahun pembangunan di Indonesia sering terasa terlalu Jakarta-sentris, seolah gagasan hanya lahir dari pusat. Akibatnya, banyak daerah tumbuh dengan mental inferior, bahkan merasa sekadar penonton sejarah nasional.

Padahal energi pembaruan sering lahir justru dari pinggir. Dari orang-orang dan pemimpin yang dekat dengan realitas rakyatnya. Dari mereka yang melihat perubahan bukan sebagai statistik, melainkan sebagai denyut kehidupan sehari-hari.

Karena itu, membaca Man Nahnu 6 sebenarnya bukan hanya membaca Samsudin Adlawi. Kita sedang membaca Banyuwangi yang sedang berusaha mengingat dirinya sendiri.

Dan mungkin, di masyarakat yang sedang dikepung kebisingan digital ini, kemampuan untuk mengingat adalah bentuk perlawanan paling penting, meski terkadang paling sunyi.

Sebab bangsa yang kehilangan ingatan pada akhirnya bukan hanya kehilangan arah, tetapi perlahan juga kehilangan kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Universitas Islam Cordoba #man nahnu #banyuwangi #samsudin adlawi