RADARBANYUWANGI.ID - Pada tahun 2012, 32 tahun usianya, Kiai Azaim menjadi Pengasuh Keempat Pondok Pesantren Salafiyah Sukorejo, hamparan tanah penuh berkah. Saat pulang dari Rushaifah, Kiai Azaim belum membawa gelar sarjana dari pengembaraan selama bertahun tahun lamanya. Meski demikian, Kiai Azaim pulang dengan membawa ilmu dan rida para gurunya.
Masih melekat dalam ingatan kita, pertama beliau tiba di pangkuan Salafiyah Syafi'iyah, disambut ribuan wajah yang sudah lama menunggu dengan segala kesetiaannya. Sampai di Sukorejo, Kiai Azaim berziarah ke Makbarah leluhur dan kedua orang tuanya. Kemudian, Di aula, Kiai Azaim menyapa dengan orang yang hadir dengan cinta sesungguhnya. Mengusap dada para pecinta yang merasakan kedalaman dukanya. Mereka menyimak seksama setiap kalimat yang mengalir dari lisannya dan mengamini setiap lantunan doa-doanya. Kemudian berebutan ingin merasakan pertama kali mencium tangannya.
Tidak membawa gelar akademis perguruan tinggi dari pesantren disanggahinya, lambat laun beliau mulai menempuh kuliah di Tanah Salafiyah Syafi'iyah. Gelar sarjana yang diraih bukan sekedar formalitas semata, tapi sesuatu yang formal dan memperkuat keilmuannya. Formal dari sisi gelar dan ijazah. Berkualitas dari segala ilmu dan amaliah.
Meski secara fisik berpisah dengan Rushaifah, tapi ketersambungan batin Kiai Azaim terikat kuat dengan segala keluhurannya. Ajaran, keteladanan dan wasiat Sang Guru tercinta terus dipertahankan dan diamalkannya. Apa yang telah diperolehnya tidak dibiarkan begitu saja. Tanpa letih tanpa henti-hentinya terus dituangkan kepada pikiran dan jiwa para santri, alumni dan masyarakat pada umumnya. Rushaifah bagi Kiai Azaim, selalu mendapat tempat istimewa, kapan saja dan dimana saja. Selain itu, beliau sangat aktif mengikuti kegiatan Hai'ah Ash-Shofwah Al-Malikiyyah, organisasi alumni santri dari Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani Rushaifah Makkah.
Ketika melangsungkan akad nikah, Tanah harum Rushaifah menjadi saksi tali cinta dengan istri tercinta, Nyai Nur Sari Asadiyah. Pernikahan yang didambakan Kiai Fawaid semasa hidupnya. Di sampaikan di beberapa pertemuan dan banyak orang yang menjadi saksinya. Ketika buah hati pertamanya lahir, Lora Alawi Abul Fawaid Al As’adi adalah nama yang disematkan kepada buah hati pertamanya. Alawi merujuk pada nama Sayyid Alawi, Ayahanda Sayyid Muhammad, Sang Guru tercintanya. Fawaid merujuk pada Kiai Fawaid, nama dari mertua sekaligus pamannya. Al As’adi merujuk pada nama Kiai As’ad, kakek dari jalur uminya.
Sekitar tahun 2018, tersiar kabar yang cukup bermakna bagi para pecinta ilmu dengan segala kemuliaannya. Waktu itu, Sayyid Ahmad Al Maliki, Sang Guru mengikuti ujian Disertasi untuk program doktoralnya. Universitas Al Azhar Mesir menjadi saksi yang ikut merekam momentum berharga akan kealimannnya. Bukan hanya itu, atsar ketersambungan terlihat nyata. Sebelumnya, Sang Ayanda Sayyid Ahmad yaitu Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki meraih gelar Doktor (PhD.) di tempat yang sama. Bahkan beliau merupakan doktor termuda pada masanya.
Menyemai cinta menjemput cita-cita
Doa kembali basah mengiringi keberangkatan Kiai Azaim bersama rombongannya. Memohonkan keselamatan, kelancaran dan kesehatan dalam perjalanannya. Dari Indonesia menuju Malayasia. Ada beberapa yang direncanakan dan dilaksanakannya. Malaysia atau Negeri Jiran dikenalnya. Kata Jiran ada yang memaknai yaitu berdekatan dengan Indonesia.
Di layar handpone, momentum perjalanan Kiai Azaim tersebar dengan sangat cepatnya. Bagaimana ketika beliau tiba di Malaysia bersama rombongan dengan keteduhan wajahnya. Para alumni menyambut kedatangan Kiai Azaim dengan nuansa kehangatannya. Waktu benar-benar dimanfaatkan untuk ibadah, khidmat dan dakwah. Kiai Azaim juga melantik Pengurus Rayon IKSASS Malaysia. Bicara IKSASS, Kiai Fawaid seperti sedang menghampiri kita semua. Kemudian meminta kita untuk merawat, menjaga dan membesarkannya.
"Pagi ini Senin, Kyai Azaim akan melaksanakan ujian Disertasi (S3) di International Islamic University Malaysia/Universitas antar bangsa. Semoga diberikan kelancaran dan kesuksesan. Aaamiin." Itulah kalimat yang kemudian menyebar seketika terutama di story WA tanpa instruksi dari siapapun saja. Saat ini Kiai Azaim selain menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo sekaligus Mudir Ma’had Aly lembaga kader Ahlil Fiqih pertama di Indonesia. Warisan Kiai As’ad menjelang akhir hayatnya.
Seluruh rangkaian perkuliahan hingga ujian disertasi telah diselesaikannya, Gelar Ph.D. telah berhasil diraih di sela-sela kesibukannya. Menyusul dua gelar Ph.D. yang diraih dua guru mulianya. Sayyid Muhammad dan Sayyid Ahmad, semoga kita teraliri keberkahannya. (*)
Editor : Ali Sodiqin