RADARBANYUWANGI.ID - Wisuda selalu punya wajah yang merona, bersemu merah, bersemu biru, ada seru dalam puas yang menggebu. Toga baru yang masih baru kain, senyum lebar mengembang lambing kelegaan yang tak bisa digantikan. Toga yang dirapikan berkali-kali, dilihat pantas dan tidaknya, dibaui aroma-aroma kebahagiaan dan kepuasan tersendiri. Cerita-cerita toga yang hanya dipakai sekali tidak dicuci, dipandangi saja setiap kali mengingat masa kuliah di hari-hari yang sudah pergi. Hari itu, kampus terasa seperti halaman rumah yang sedang menerima kepulangan anak-anaknya. Mereka datang sebagai mahasiswa beberapa tahun lalu, lalu hari ini berdiri sebagai sarjana. Nama mereka dipanggil satu per satu. Langkah mereka menuju panggung menjadi tanda bahwa satu perjalanan telah selesai.
Pertanyaan itu sering datang sesaat setelah suasana gedung auditorium mulai ditinggalkan. Setelah ucapan selamat dibalas satu per satu, setelah foto-foto bersama kawan dan keluarga. Wisuda memang terasa seperti puncak, tetapi kehidupan tidak berhenti di sana. Justru setelah toga dilepas, pertanyaan yang lebih besar mulai hadir. Ilmu yang diperoleh selama kuliah akan dibawa ke mana? Gelar yang melekat di belakang nama akan digunakan untuk apa? Diri yang telah ditempa selama empat tahun itu akan menjadi manusia yang seperti apa? Empat tahun kuliah bukan waktu yang sebentar. Ada mahasiswa yang sejak awal sudah tahu arah hidupnya. Ada yang masih mencari-cari. Ada yang kuliah karena pilihan sendiri, ada pula yang kuliah karena harapan keluarga. Ada yang rajin sejak semester pertama, ada yang baru benar-benar sadar ketika skripsi sudah mengetuk pintu. Semua punya cerita. Semua punya luka kecil, tawa panjang, rasa lelah, juga rasa bangga yang tidak selalu bisa dijelaskan.
Kuliah bukan hanya soal masuk kelas, mendengar dosen, mencatat materi, mengerjakan tugas, lalu menunggu nilai keluar. Kuliah seharusnya menjadi ruang membentuk cara pandang. Bahwa kampus membuat mahasiswa belajar melihat masalah dengan lebih jernih. Beragam diskusi dan tanya jawab membuat mahasiwa bisa belajar bahwa pendapat orang lain tidak selalu harus sama. Tugas-tugas kelompok yang dibuat agar mereka belajar bahwa bekerja bersama tidak semudah membagi nama di sampul makalah. Segala bentuk revisi dari dosen, mengajarkan bahwa hidup kadang meminta kita mengulang sesuatu yang kita pikir sudah selesai.
Para mahasiswa yang berkuliah di hari ini hidup dalam zaman yang berbeda. Mereka cepat mengakses informasi, terbiasa dengan teknologi, dan mampu belajar dari banyak sumber. Materi kuliah bisa dicari dalam hitungan detik. Contoh tugas tersedia di mana-mana. Video penjelasan dapat diputar kapan saja. Semua serba cepat, serba terbuka, serba mudah dijangkau. Keadaan ini tentu memberi banyak keuntungan. Mahasiswa bisa belajar lebih luas, lebih fleksibel, dan lebih kreatif. Sayangnya, kemudahan itu kadang membuat proses berpikir menjadi terlalu singkat. Banyak yang cepat menemukan jawaban, tetapi belum tentu memahami persoalan. Banyak yang mampu menyusun tugas dengan rapi, tetapi belum tentu sanggup menjelaskan isinya.
Di sinilah pentingnya pengalaman di luar kelas. Kuliah saja tanpa ikut kegiatan intra atau ekstra kampus rasanya terlalu sayang. Organisasi mahasiswa, kepanitiaan, komunitas, lomba, magang, pengabdian, dan kegiatan sosial adalah ruang latihan yang tidak selalu tersedia dalam buku atau sekadar penjelasan dosen. Mahasiswa belajar berbicara dengan orang baru. Mereka belajar menyusun acara, menghadapi konflik, mengatur waktu, menerima kritik, dan menyelesaikan masalah yang muncul mendadak. Nilai mata kuliah memang penting. IPK tinggi tentu patut disyukuri. Kuliah empat tahun dan lulus dengan IPK 4 adalah capaian yang membanggakan. Orang tua pasti senang. Kampus ikut bangga. Dosen pun merasa bahagia melihat mahasiswanya berhasil. Tetapi yang menjadi pertanyaan utama, setelah mendapat IPK 4, kepala kita menjadi pusing atau pening? Pusing karena banyak teori, tetapi gugup menghadapi kenyataan. Pening karena terbiasa mengejar angka, tetapi belum terbiasa menghadapi manusia dengan segala sikap dan kepentingannya.
Maka, setelah wisuda, jangan berhenti pada pertanyaan “saya akan bekerja di mana?” Tanyakan juga, “saya akan tumbuh menjadi siapa?” Sebab pekerjaan bisa berganti, jabatan bisa berubah, dan rencana bisa meleset. Namun karakter yang kuat akan selalu menjadi bekal. Wisuda adalah hari yang indah. Setelah itu, hidup menunggu dengan wajah yang lebih nyata. Tugas lulusan bukan hanya mencari tempat di dunia kerja, tetapi juga menghadirkan manfaat di tengah masyarakat. Dari kampus mereka berangkat. Di kehidupan, mereka harus membuktikan bahwa ilmu tidak hanya membuat seseorang bergelar sarjana, tetapi juga membuatnya lebih berguna. (*)
Editor : Ali Sodiqin