RADARBANYUWANGI.ID - Pembatasan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun bukan ancaman bagi pendidikan, tetapi momentum refleksi diri. Tantangannya nyata. Sekolah dan guru tidak bisa lagi bergantung pada daya tarik media sosial untuk memikat perhatian anak. Namun di sisi lain, ini membuka ruang untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih manusiawi, bermakna, dan membebaskan anak dari adiksi layar.
Ada banyak alternatif proses pembelajaran yang bisa menjadi pengganti fungsi edukatif dan rekreatif media sosial. Terpenting, tetap membuat anak nyaman, aktif, dan berkembang. Mengganti scroll dengan eksplorasi. Proyek observasi, jelajah literasi, dan eksperimen sederhana di kelas.
Mengganti like dengan apresiasi nyata. Budaya apresiasi di kelas melalui pameran produk adalah pengakuan personal dan lebih bermakna ketimbang di ruang digital. Mengganti influencer dengan guru inspiratif. Masalah medsos, anak meniru figur yang belum tentu mendidik. Figur guru inspiratif bisa berbagi pengalaman hidup atau menghadirkan tokoh inspiratif sebagai role model nyata.
Mengganti hiburan digital dengan aktivitas kinestetik. Masalah medsos minim gerak, kecanduan layar. Permainan edukatif berbasis kelompok, bermain peran, outdoor learning, adalah belajar sambil bergerak, tetap senang, emosi lebih stabil.
Berbagai alternatif pergeseran pembelajaran menunjukkan bahwa pembatasan media sosial bagi anak tidak boleh berhenti pada logika pelarangan. Ia harus diikuti dengan penyediaan ruang alternatif yang sehat, bermakna, dan mendidik. Dalam konteks inilah, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menghadirkan program-program yang tidak sekedar menggantikan media sosial, tetapi mengembalikan anak pada pengalaman belajar yang nyata, sosial, dan berakar pada budaya dan lingkungan.
Dua di antaranya adalah Kuntulan Ewon dan pengenalan sumber air Gedor Gombengsari di Kalipuro. Kuntulan Ewon merupakan kesenian hadrah kuntulan khas Banyuwangi yang melibatkan sekitar seribu pelajar. Program ini terwujud melalui kolaborasi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dengan Dewan Kesenian Blambangan.
Yang menarik, anak-anak tidak ditempatkan sebagai penonton atau konsumen budaya, tetapi sebagai pelaku utama pelestarian budaya. Mereka berlatih bersama, tampil bersama, dan merasakan langsung dinamika kolektif dalam sebuah karya seni.
Dalam perspektif pendidikan, Kuntulan Ewon menjadi ruang belajar yang sarat makna. Anak belajar disiplin, kerja sama, membangun kepercayaan diri di ruang publik, mengalami kebudayaan sebagai praktik hidup, bukan sekadar materi pelajaran.
Di tengah pembatasan media sosial, kegiatan ini menjadi alternatif rekreasi edukatif yang menyehatkan. Anak menemukan kegembiraan tanpa layar, sekaligus membangun identitas kulturalnya.
Program pengenalan sumber air Gedor Gombengsari di Kalipuro dilaksanakan melalui kerja sama dengan Radar Banyuwangi. Insyaallah akhir semester ini mulai dilaksanakan. Proses penyatuan konsep stakeholder pendidikan sudah rampung. Program ini membawa anak keluar dari ruang kelas menuju ruang belajar yang sesungguhnya, yaitu alam.
Melalui kunjungan langsung ke sumber mata air, anak-anak diajak mengenal vegetasi di sekitar mata air, memahami proses alami keberlangsungan sumber air, belajar tentang pemanfaatan air secara bijak, dan menumbuhkan kesadaran pelestarian lingkungan.
Pembelajaran semacam ini sulit digantikan oleh konten digital. Anak tidak hanya melihat gambar atau video, tetapi mengalami langsung, menyentuh, mengamati, dan merefleksikan hubungan manusia dengan alam.
Dalam konteks pembatasan media sosial, kegiatan ini memperkuat pesan bahwa pengetahuan terbaik tidak selalu berasal dari layar, melainkan dari interaksi langsung dengan lingkungan hidup. Pembatasan media sosial pada anak bukan tentang melarang, tetapi melindungi.
Dunia pendidikan dipanggil untuk mengisi ruang yang ditinggalkan media sosial dengan pengalaman belajar yang lebih sehat, mendalam, dan membangun karakter. Jika sekolah mampu menghadirkan pembelajaran yang bermakna, anak tidak akan merasa kehilangan. Justru mereka akan menemukan kembali kegembiraan belajar yang sesungguhnya.
Kuntulan Ewon dan pengenalan sumber air Gedor Gombengsari menunjukkan bahwa pembatasan media sosial dapat diimbangi dengan pengayaan pengalaman belajar yang autentik. Pendidikan tidak kehilangan daya tariknya, justru menemukan kembali kekuatannya sebagai proses memanusiakan manusia.
Anak-anak diberi ruang untuk bergerak, berkarya, berinteraksi, dan berpikir. Mereka belajar menjadi bagian dari budaya dan lingkungan, bukan sekedar pengguna teknologi.
Pada akhirnya, kebijakan pembatasan media sosial akan bermakna jika diikuti dengan kebijakan pendidikan yang menghadirkan alternatif nyata. Banyuwangi menunjukkan bahwa jalan itu ada. Melalui budaya, melalui alam, dan melalui tandang bareng seluruh ekosistem pendidikan. (*)
Editor : Ali Sodiqin